Mawar Seruni

Mawar Seruni
Permohonan Raka


__ADS_3

Malam ini, rembulan nampak bersinar. Bentuknya yang bulat sempurna, semakin membuat sinar nya kian terasa menembus pori-pori kulit. Terang dam cukup memukau.


Mawar Seruni tengah duduk seorang diri di undakan tangga depan pintu dapur. Hatinya resah meski malam sunyi ini, tidak ada yang mengganggunya.


"Mawar ... nak Raka datang."


Bibi Wina muncul dengan senyum lembutnya.


"Katakan kalau Mawar nggak ingin menemuinya, Bi. Mawar nggak akan ikut pulang, apapun yang terjadi." Jawab Mawar.


Mawar menjawab dengan pandangan masih terarah pada langit.


"Meski bapak kamu sakit keras karna kamu pergi dari kami semua?" Ucap seseorang yang rupanya mengekor bibi Wina.


Suara Raka nyatanya mampu membuat Mawar menoleh ke arah sumber suara. Hatinya kian terremas linu, ketika teringat akan adegan suaminya dan Kakak kandungnya lima bulan yang lalu. Maka, refleks Mawar bangkit dari duduknya.


Mengetahui ini, Wina segera berlalu dan meninggalkan dua orang yang berdiri di sana, di dapur.


"Tau apa kamu, mas? Nyatanya selama ini yang bapak butuhkan hanya kak Amel, wanita yang kamu cintai. Bukan aku!!"


Mawar menjawab lirih. Namun menekan kata saat kalimat terakhir. Hatinya kian sakit ketika luka lama itu di angkat ke permukaan akibat perkataan Raka.


"Aku tau. Tapi aku mohon, Runi ... Bapak sedang butuh kamu." Ujar Raka menyampaikan.


Raka bersimpuh di hadapan Mawar. Sayangnya, Mawar mundur dua langkah untuk menghindari kontak fisik dengan suaminya. Mendapati fakta ini, Raka menatap sedih ke arah wanita mungil yang saat ini masih menjadi istrinya itu.


"Aku hamil tua, mas. Aku nggak bisa melakukan perjalanan jauh." Ucap swkar beralasan. Matanya sudah berkaca-kaca. Beruntung, wanita itu bisa menahannya.


"Aku akan bawa kamu pulang dengan hati-hati. Dengar, aku bawa mobil dan akan memastikan kenyamanan kamu." Ujar Raka kemudian.


"Status kita, memang benar suami istri. Tapi kita akan secepatnya bercerai setelah anak kita lahir. Kamu jangan khawatir. Aku nggak akan menjauhkannya dari kamu. Kamu bisa mengunjunginya se-sempatmu." Ucap Mawar.


Mata Mawar kembali berkaca-kaca.


"Aku mohon jangan menangis, Runi." Raka mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


"Aku nggak sanggup, mas. Aku nggak sanggup menerima perlakuan keluargaku yang berbeda dengan kak Amel. Mereka lebih menyayangi kak Amel dari pada aku, karna aku terlahir perempuan. Dan kamu ...


kamu juga mencintai kak Amel daripada aku. Apa itu nggak cukup untuk kalian semua?"


Mawar menangis tersedu, sembari tangan kanannya meremas dadanya sendiri, dan tangan kirinya mengusap lembut perutnya. Air matanya tumpah seketika. Hatinya tergores dalam, saat mengingat betapa dirinya tidak di inginkan oleh keluarga dan suaminya.

__ADS_1


Mawar rapuh. Amat sangat rapuh.


"Saya tau. Maaf aja nggak cukup untuk menebus kesalahan saya. Tapi saya janji. Saya akan berubah, Runi. Beri saya kesempatan, saya mohon. Sekali ini saja." Pinta Raka memohon.


Raka benar-benar merendahkan harga dirinya. Demi Seruni, dan demi anaknya. Tapi Raka berpikir, pasti akan sulit untuk mendapatkan kembali kepercayaan dari istrinya.


"Keputusanku udah bulat, mas. Aku tetep minta pisah dari kamu. Kamu bebas menikahi kakakku setelah kita resmi bercerai. Aku cuma ingin sendiri, sekarang.


Aku mohon. Aku juga berhak bahagia, kan?" Kata Seruni kemudian.


Pada akhirnya, Raka kehabisan kata-kata untuk meyakinkan istrinya.


Memejamkan mata, Raka bangkit dari posisinya sekarang. Meski hatinya berkedut penuh sakit, tapi Raka harus kuat. Ia tetap bertekad untuk tidak akan menceraikan Seruni, apapun yang terjadi.


Mawar Seruni berlalu meninggalkan Raka dengan hati yang berkecamuk. Calon ibu yang keras kepala itu, butuh waktu untuk sendiri, sekarang. Ia perlu meredakan gejolak di dadanya.


~~


Mia dan Andri tengah duduk berdampingan di sebuah cafe yang tak jauh dari toko bunga milik bibi Andri, Wina. Di depan mereka, Raka memandang mereka datar.


"Jadi, kalian sengaja menyembunyikan istri saya dari saya?" Tanya Raka pertama kali, untuk membuka percakapan.


Mia tersenyum mengejek ketika mendengar kalimat Raka.


Tapi tindakan itu saya dan Andri lakukan, karna semata untuk menjauhkan dia dari orang-orang yang sudah menyakitinya. Seruni bisa gila kalau terus berada di lingkungan yang menekan mentalnya, terlebih saat itu dia hamil muda. Ingat, pak Raka. Stress juga bisa memicu keguguran.


Sedang Andri, pria itu hanya menatap Raka dengan pandangan datar. Namun sejujurnya, Andri juga merasa bersalah karena menjauhkan Seruni dari suaminya. Tapi semua itu Andri lakukan karna ia tidak bisa membiarkan Seruni hilang pijakan saat itu.


"Saya menyesal. Dan saya ingin memperbaiki semuanya." Ungkap Raka yang sudah bertekad kali ini.


"Pak Raka bisa ngomong nyesel. Tapi nggak akan bisa muter balik keadaan. Bisa aja sekarang bapak ngomong nyesel. Palingan besok lagi-lagi di ulangi lagi." Timpal Mia hang bermulut pedas itu.


"Mia!"


Andri menyela dengan cepat. Ia tau watak Mia yang ceplas ceplos dalam bicara, tanpa memikirkan perasaan orang lain.


Memejamkan mata, Raka kembali berpikir cepat untuk mencari cara menaklukkan Seruni, dan mendapatkan maafnya.


~~


Mawar sedang melayani pengunjung siang ini. Warungnya cukup ramai. Dan tepat ketika Mawar berhadapan dengan pengunjung yang baru datang, matanya melotot karna terkejut oleh kehadiran pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu.

__ADS_1


"Kamu .... " Gumam Mawar kemudian.


"Aku cuma mau makan." Jawab Raka enteng.


Raka tersenyum manis. Sayangnya, Mawar tidak akan terpengaruh lagi kali ini.


"Pesan apa?" Tanya seruni datang.


"Menu andalan warung ini." Jawab Raka kemudian.


Mawar berjalan cepat menuju ke belakang. Dengan pelan, Raka mengikuti langkah Mawar di belakangnya.


Betapa terkejutnya Mawar, ketika mendapati sosok suaminya sudah berada tepat di belakang tubuhnya.


"Kamu jangan macam-macam, mas. Aku nggak peduli meski kamu suami aku, aku nggak akan biarkan kamu menggangguku. Mending sekarang kamu pulang. Amel udah pasti nunggu kamu di rumah." Hardik Mawar dengan suara tegas.


Kali ini, Mawar kagum dengan keberaniannya yang entah dari mana datang secara tiba-tiba. Kalau dulu, Mawar akan menciut nyalinya ketika tatapan suaminya mengintimidasinya, tapi kini, Mawar tidak ingin terintimidasi.


"Seruni .... "


Raka terhenyak mendengar kalimat sinis istrinya.


"Kamu cemburu?"


"Ya. Aku cemburu. Bukan suatu kesalahan kalau aku cemburu sama suami sendiri yang udah selingkuh. Dan suatu kesalahan kalau aku cemburu sama pria yang berstatus suami orang. Katakan? Apa aku nggak pantas cemburu?" Tanya Mawar, telah menantang Raka.


Senyum tipis tersungging di bibir Raka. Selama mengenal Seruni, baru kali ini Raka menyaksikan kekeras kepalaan Seruni. Selama ini, Seruni selalu diam dan lebih cenderung banyak mengalah.


"Aku bahagia kalau kamu cemburu. Bukannya itu artinya aku udah sepenuhnya mendapatkan hati kamu?" Tanya Raka seraya tersenyum manis.


Muak.


Mawar muak dengan gombalan receh dari suaminya. Kalau dulu dirinya akan bahagia mendengar kalimat manis dari suaminya, tapi sekarang, Ia akan muntah darah.


"Ya. kamu udah sepenuhnya mendapatkan hati aku, mas. Tragisnya, hati ini udah kamu hempaskan saat aku udah sayang-sayangnya sama kamu." Jawab Mawar dengan mata melotot.


Seruni tersenyum getir.


"Tapi aku menyesal, Runi. Aku beneran khilaf dan beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku janji aku bakalan berubah, demi kamu Dan anak kita." Ungkap Raka kemudian.


"Omong kosong. Hati aku sekarang udah mati rasa, mas. Kepercayaan yang aku pupuk subur ke kamu, sekarang udah hancur tanpa sisa. Kamu bilang sekarang kamu nyesel? Kalau terjadi belakangan emang penyesalan namanya, mas. Kalau di depan namanya pendaftaran. Jangan pernah berharap kesempatan kedua dan semacamnya, mas. Dan jangan coba-coba ngerayu aku. Aku nggak akan mempan sama rayuan receh kamu itu, dasar buaya!!"

__ADS_1


Sinis Seruni, meninggalkan Raka yang hanya tercenung dan meresapi sakit hatinya.


~~


__ADS_2