
Seorang wanita tengah duduk bersimpuh di sebuah makam. Nama Gunawan tertera di sana, dengan sebuah bara luka yang tak pernah padam. Pada jiwa yang kini sudah terkapar dalam tanah, Rima menumpahkan kebimbangan di samping makam suaminya. Ia bermonolog, seolah mendiang suaminya mendengar apa yang dirinya katakan.
Bagi seorang istri yang begitu besar dalam memiliki cinta, Rima tak bisa memberi maaf pada lelaki yang telah membunuh suaminya. Tetapi bagi sebuah kemanusiaan dan juga rasa nurani, Rima dipaksa harus menerima maaf dan menyudahi sakit hatinya.
"Mas, kamu lihat, aku semakin kurus belakangan ini. Kalau kamu disamping aku, pasti kamu ngomel dan suka beli banyak makanan biar aku nggak lapar. Aku kangen sama Omelan kamu." Rima berkata dengan melemparkan tatapan sendu. Rindunya sudah demikian menggunung dan semakin tumbuh mengerikan di hatinya.
"Mas, kamu tahu, enggak? Bastian sekarang sudah semakin bijak dan dewasa. Dia mirip banget kayak kamu. Gaya bicaranya, cara berpikirnya, pola hidup sehatnya, juga nurutnya itu loh, nggak ada bedanya sama kamu. Bangga nggak sih kamu, sama si bungsu kita itu?" Tanya Rima lagi.
Tak ada air mata. Tak ada tangisan. Tak ada kesedihan yang mendalam. Rima datang mengunjungi makam suaminya, sekadar melepas rindu, dan juga mencurahkan isi hatinya. Jika sedang bingung atau kelelahan dari aktivitas dunia, Rima memang kerap kali datang mengunjungi makam suaminya.
Bahkan hingga saat ini, Rima tetap menjaga kesucian pernikahannya dengan Gunawan. Setiap lelaki yang datang dengan niat mempersuntingnya, Rima selalu menolak, dengan dalih ingin fokus membesarkan anak-anaknya.
"Semalam Bastian tanya ke aku, kalau aku jadi dia, dipisahkan dari orang yang sangat aku cintai, gimana perasaanku? Jawabanku cuman satu, aku memilih setia atau mati salah satu yang jadi pilihannya. Sayangnya, Tian nggak denger apa yang aku katakan. Mas, Bastian setahun ini menjauhi wanita itu, anaknya si pembunuh itu, karena untuk menuruti kemauanku. Dia rela mengesampingkan perasaannya, semata karena untuk menjaga perasaan ku. Gimana menurut mas? Aku egois banget ya?" Rima bertanya lagi.
Kali ini Rima tersenyum, dengan tangan kanan yang mengusap batu nisan suaminya. Ia mengusap lembut, seolah batu nisan itu adalah dada dan kepala suaminya.
"Apa aku restui mereka saja ya, mas? Atau, atau aku maafkan saja Herman Abdullah, dan aku izinkan Tian mendekati Mawar Seruni? Menurut mas, gimana? Kalau mas merestui, aku juga akan merestui. Nanti, datang ke mimpi aku, yah? Kasih tau, mas setuju apa enggak kalau Tian mendekati Mawar. Aku tunggu nanti, ya?" Rima mengecup batu nisan suaminya, seolah-olah batu itu adalah jelmaan suaminya.
Semua tingkah Rima itu, tak lagi membuat heran si penjaga makan. Setiap kedatangan Rima ke makam, wanita itu selalu mengakhiri kunjungannya, dengan mengecup batu nisan suaminya. Selalu begitu tingkahnya setiap datang berkunjung.
**
Dalam satu waktu di tempat yang berbeda, Raka tengah berjalan mengunjungi rumah Herman Abdullah. Lelaki itu datang dengan membawa buah tangan dari Surabaya, berniat memberikannya pada mantan mertuanya itu. Sayangnya, Raka tidak tahu jika Herman sendiri tengah berada di Surabaya.
"Mas, kamu cari siapa? Tumben kesini?" Amel bertanya datar, menatap Raka sekilas sebelum membuka pintu lebar-lebar.
__ADS_1
Raka sendiri keheranan di tempatnya. Tidak biasanya Amel bersikap demikian padanya. Biasanya, Amel akan tersenyum sumringah dan bahagia ketika dirinya datang. tetapi kali ini, terlihat sangat lain.
"Saya lagi ingin ketemu Bapak dan Ibu. Mereka kemana? Kok terlihat sepi?" Bastian bertanya datar, mengedarkan pandangan dan tak menampakkan adanya Herman dan Ratna.
"Bapak sama Ibu lagi ke Surabaya, kemarin Lusa berangkat. Lagi mengunjungi Runi dan Kia." Jawab Amel kemudian. Wanita itu tidak menatap Raka ketika tengah berbicara. Amel hanya takut, ia tak bisa mengendalikan dirinya jika terlalu lama menatap mata Raka.
Biasanya, Amel sendiri suka berpetualang dan mengoleksi banyak lelaki untuk menjadi pasangan sementara saja. Amel tak memungkiri, itu adalah kelakuan minus dalam dirinya.
Hanya saja dengan Raka, Amel seperti tak bisa pindah ke lain hati, dan benar-benar tidak bisa move on dari mantan adik iparnya itu. Amel seperti terjebak dan tak bisa menghindari lagi.
"Oh, Andai tahu Bapak kalau saya mau mengunjungi Mawar, kan, bisa bareng saya." Ujar Raka.
"Oh ya, ini oleh-oleh dari saya, untuk kamu, Bapak, dan juga Ibu."
"Iya, terima kasih." Amel menjawab datar.
"Mel, ngomong-ngomong, kamu nggak ada niatan untuk ... mencari lelaki lagi untuk dijadikan suami?" Tanya Raka.
Rasanya Amel ingin menangis seketika.
"Nggak ada yang pas dan nggak ada yang cocok, mas. Kalaupun ada yang cocok, dianya yang nggak aku sama aku. Jadinya ya, lebih enak sendiri begini."
"Oh." Raka menimpali dengan pelan.
"Kamu sendiri, kenapa masih betah menduda sekarang?" Tanya Amel kemudian.
__ADS_1
"Saya, saya setahun ini berharap Tuhan mengizinkan saya untuk kembali rujuk sama Runi. Tapi sayangnya, Seruni sendiri sepertinya enggan menerima saya lagi. Berkali-kali, dan saya sudah berubah demi dia, tetapi ya memang dia sepertinya sudah benar-benar beku hatinya." Jawab Raka panjang lebar.
Amel diam tak menyahut. Hatinya kembali patah berkali-kali, hingga kemudian ia memutuskan untuk berhenti mengejar Raka. Amel sudah pasrah, bagaimana pun jalan hidupnya, Amel hanya ingin tenang sekarang.
"Mungkin suatu saat nanti, Runi akan luluh hatinya demi Kia" Ujar Amel kemudian.
'Aku udah beneran nggak punya tempat di hati kamu, mas Raka. Maaf udah banyak menyusahkan kamu, membuat rumah tangga kamu berantakan.'
Batin Amel.
"Oh ya, ngomong-ngomong, kamu nggak kerja hari ini? Tanya Raka kemudian.
"Aku udah memutuskan untuk resign, mas. Buka online shop aja, kerja sambil rebahan di rumah. Nggak punya tujuan apapun apalagi target untuk beli apa-apa. Jadinya santai." Amel menjawab pelan.
"Kenapa punya pikiran gitu? Nggak ingin membahagiakan orang tua?" Raka bertanya lagi.
"Nanti pasti aku bisa membahagiakan Bapak sama Ibu. Tapi untuk saat ini, aku malas berurusan sama lelaki manapun. Kalau aku tetap kerja, ada aja yang merayu. Jadi aku lebih baik diem di rumah dan nggak ketemu siapa-siapa." Jawab Amel kemudian.
"Oh iya, hampir lupa. Kamu mau minum apa?" Tanya Amel kemudian.
"Nggak usah. Saya juga nggak akan lama, sebentar lagi pasti pulang." Raka menjawab datar.
"Kalau gitu, kamu langsung pulang aja deh, mas. Tolong, jangan terlalu lama bertamu ke sini, segan karena Bapak dan Ibu nggak ada. Tolong juga, aku nggak mau kalau nanti sampai aku kehilangan kendali diriku. Jangan membuat aku sulit untuk melupakan kamu." Amel berkata, sambil menatap berani pada Raka.
Di tempatnya, Raka lagi-lagi dibuat terkejut oleh sikap Amel yang berbeda dari biasanya.
__ADS_1
**