Mawar Seruni

Mawar Seruni
Pasrah.


__ADS_3

Suasana rumah makan milik Mawar terlihat ramai siang ini. Beberapa pekerja dan para marketing yang singgah untuk mengisi perut, kini tampak berbondong-bondong datang untuk makan siang.


Amel dengan cekatan membantu Mawar melayani pembeli, tersenyum ramah dengan pakaian sopan serta sederhana, dan make up tipis yang menempel pada wajahnya. Wanita itu terlihat sangat bersemangat dalam membantu adiknya.


Beruntung, kini Kia tengah tertidur pulas di kamar minimalis bagian belakang rumah makan. Mawar juga tampak kembali memasak beberapa menu yang habis. Semakin hari, entah mengapa rumah makan milik Mawar itu semakin ramai saja akan pembeli.


"Runi, tuh kamu dicariin si ganteng lagi," ucap Mawar sambil menunjuk sosok yang baru saja datang, dengan menggunakan dagunya.


Pandangan mata Mawar tampak beralih menatap ke depan. Benar saja, Bastian sudah berjalan dengan gagahnya untuk masuk ke dalam. Sekali lagi, Mawar menghembuskan napasnya kasar. Ada apa lagi ini? Tidak bisakah Tian libur menemui Mawar barang sehari saja? Lihat, kondisi jantung dan hati mawar tidak baik-baik saja jika Tian datang mengunjunginya.


Mawar pura-pura menyibukkan diri, dengan masakan yang ia aduk, padahal sudah tercampur rata di atas penggorengan.


"Kak, layani dia, ya? Aku sibuk," ujar Mawar pada Amel yang terkikik geli di tempatnya.


"Kamu ini kenapa, sih? Aneh," jawab Amel kemudian. Wanita itu lantas menuju ke meja kasir, menatap Tian yang berjalan ke arahnya.


"Mbak, saya mau pesan menu makanan seperti biasanya, ya? Pemilik rumah makan ini sudah hapal menu kesukaan saya," ucap Tian pada Amel. Ia tersenyum tipis, mengamati Amel yang tampak berbeda jauh dengan Amel yang dulu. Amel yang dulu, adalah wanita yang berani menggunakan make up.


"Oh, sudah hapal, ya? Tapi pemiliknya sedang sibuk masak, pak. Bisa disebutkan apa saja yang mau dipesan?" tanya Amel kemudian.

__ADS_1


"Kalau begitu, tunggu sampai dia selesai saja, saya akan menunggu di meja pojok saja," ucap Tian sambil menunjuk meja di pojok ruangan.


"Bapak nggak malu, datang ke rumah makan ini?" tanya Amel yang berusaha Sok akrab dengan Tian. Bukan bermaksud untuk menggoda Tian, melainkan ingin mendekati lelaki itu, untuk membantunya agar bisa mendapatkan hati adiknya. Ya, Amel bertekad untuk menjadi makcomblang keduanya.


"Malu? Malu kenapa? Semua orang bisa, kan, makan di tempat ini?" tanya Tian yang masih belum paham.


"Bapak mau makan, atau mau mengambil hati pemilik rumah makannya? Tapi ini bukan tentang makan, tapi tentang sebuah tujuan," Amel berkata, dengan senyum penuh arti. Matanya masih menyorot pada meja kasir, sambil menata kertas nota pelanggan.


"Saya, saya nggak ngerti, maksudnya gimana, ya?" tanya Tian yang masih belum ngeh dengan apa yang di katakan oleh Amel.


"Saya akan bantu anda untuk bisa mendapat hati adik saya," jawab Amel dengan mengunci tatapan Raka.


**


Semenjak berpisah dengan Seruni-nya, Raka tak pernah makan di rumah, terkecuali bila dirinya berada di rumah sang ibu. Tentunya hal itu membuat Ibu Raka sendiri keheranan.


"Pelan-pelan, Raka. Kamu kayak nggak makan setahun aja," ucap Ibu Raka yang keheranan melihat putranya itu.


"Memang lama Raka nggak makan makanan rumahan kayak gini, Bu. Ibu lupa, ya? Kan Raka nggak pernah makan di rumah, selalu di luar" jawab Raka kemudian.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, gimana? Kamu masih belum bisa ngomong sama Amel? Maksud ibu, kamu udah minta maaf?" tanya ibunya Raka lagi. Wanita itu mencecar putranya dengan banyak pertanyaan. Anehnya, Raka bahkan tidak terganggu sama sekali karenanya.


"Bu Ratna bilang, Raka nggak perlu minta maaf, dan Amel sudah memaafkan. Lagi pula juga itu salah Amel sendiri. Siapa suruh dia meluk Raka, padahal Raka bilang kalau sebaiknya kita saling menjauh saja. Dia, dia terlalu mencintai Raka, kata Bu Ratna," jawab Raka panjang lebar.


Raka tak mau ambil pusing dengan segala masalah yang berkaitan dengan Amel.


"Ya udah kalau gitu. Yang penting kamu udah usaha minta maaf, punya niat baik untuk menyelesaikan semua masalah diantara kalian," ujar ibu Raka kemudian.


"Tapi nggak tahu kenapa ya, Bu, Raka masih tetap merasa nggak enak aja. Pengen ngobrol sama dia, Amel maksudnya, tapi Amel kayak udah menutup akses Raka untuk bisa minta maaf sama dia. Alasannya, simpel sih, katanya karena harus menjaga hatinya agar nggak terus menerus mengharapkan Raka," ungkap Raka kemudian.


"Ibu memang dulu suka sama Amel, berharap dia yang jadi mantu Ibu. Tapi ya kalau dinilai-nilai, Runi lebih baik. Ibu terlalu bodoh karena pernah mengabaikan mantan istrimu itu," Ujar ibu Raka tersenyum getir.


"Ini semua salah Raka, Bu. Dari awal, Raka yang udah membuat semuanya kacau. Ayah juga lama-lama menjauhi Raka. Tidak bisa sedikit saja mau mengerti dan memberi solusi," Raka menghembuskan napasnya kasar.


"Jangan menyalahkan diri sendiri, Raka. Ibu sadar, nggak ada manusia yang sempurna, pasti selalu ada kesalahan yang nggak sengaja dibuat. Ibu hanya minta, jangan diulangi lagi. Andai nanti pun tuhan menjodohkan kamu dengan Amel, apa kamu menerima?" tanya ibu Raka lagi.


"Entahlah, Bu. Raka pasrah," tak ada yang bisa Raka lakukan selain pasrah.


**

__ADS_1


__ADS_2