
Di balkon kamar Wiraka, Raka tengah berdiri dengan kedua tangannya bertumpu pada pagar teralis balkon. Pagar bercat putih itu, menjadi saksi kegundahan Raka selama Seruni pergi dari hidupnya. Sudah setahun lebih Raka tidak lagi menginjakkan kakinya.
Mawar Seruni. Nama yang kini abadi dalam hati Raka. Entah sampai kapan tepatnya, Raka tidak tahu. Hanya saja, Raka berharap ia mampu memperbaiki semuanya.
Tak ada kata menyerah. Tak ada kata putus asa. Tak ada kata terlambat sebelum Seruni dimiliki lelaki lain. Ada banyak cerita yang ingin Raka sampaikan pada Mawar. Tetapi sayangnya, semua itu tak mungkin terjadi selama Mawar belum bisa Raka miliki.
Sesakit inikah mencintai? Bahkan Raka yakin, mawar dulu lebih sakit dari sekarang ini. Andai Raka diberi satu permintaan sepanjang hidupnya, Raka hanya ingin rujuk dengan Mawar.
Namun semua itu mendadak buyar, ketika Bayangan Amel tiba-tiba terlintas dalam kepalanya. Entah mengapa, Amel tampak tersenyum pada Raka, menimbulkan banyak penyesalan di hati Raka terhadap Amelia Kenanga.
Usai insiden tak sengaja yang terjadi pada Raka dan juga Amel, Raka mendadak merasakan sebuah penyesalan yang dalam. Tak seharusnya Raka berlaku demikian. Raka mengakui, jika dirinya bukanlah elali yang baik.
Bila dipikir secara jernih, harusnya Raka diam saja dulu, membiarkan Amel menumpahkan kekesalan dan juga kerinduan terhadap Raka. Maklum, Amel sudah lama tidak berinteraksi dengan Raka selepas Raka menolaknya mentah-mentah.
Sebuah mobil tiba-tiba berhenti tepat di depan pintu gerbang Raka, mobil yang Raka tahu itu milik Rama. Tampak seorang sekuriti membuka gerbang dan mempersilahkan Rama masuk.
Tak menunggu lagi, Raka segara turun, untuk menemui Rama segera.
"Hai, Raka, ada apa kamu nyuruh saya datang ke rumah kamu?" Rama bertanya datar, sedikit jengkel karena Raka suka menyuruhnya dadakan begini.
__ADS_1
Tidak tahukah Raka, bila Rama sedang sibuk membujuk pacarnya yang tengah ngambek?
"Ayo ke balkon kamar. Nanti aku ceritakan sesuatu. Aku juga mau tanya pendapat kamu. Ini, ini tentang Amel," ungkap Rama kemudian.
Lelaki itu tidak bisa berpikir jernih untuk saat ini. Ia perlu seorang teman yang bijak untuk memberinya pencerahan. Andai tidak ada Rama, Raka pun tidak mungkin meminta solusi pada Ibunya.
"Okelah, ayo," Rama melangkah lebar, mengikuti langkah Raka yang kini sudah mulai menaiki anak tangga satu persatu.
Setibanya mereka di balkon, Raka segera menceritakan pada Rama, tanpa ada basa-basi lebih dulu.
"Ini tentang Amel, Rama. kamu bisa bantu saya mencarikan solusi?" tanya Raka kemudian.
"Ya. Harusnya memang gitu. Tadi siang aku ke rumah pak Herman, berniat memberikan satu rantang makanan untuk Amel. Ibumu yang kirim buat dia. Awalnya mengobrol ringan, sampai kemudian aku perhatikan, si Amel berubah. Dia bersikap dingin, sempat ngusir aku juga, dengan dalih tidak ingin salah jalan dan kehilangan kendali dirinya." Raka tampak menghembus napasnya kasar.
"Terus, apa yang salah? Ceritakan yang jelas, ke aku. Jangan buat penasaran deh," ucap Rama kemudian.
"Amel kehilangan kontrol dirinya, dan meluk aku secara mendadak. Ya, aku refleks dorong dia, sampai kepalanya kena kaki meja atau kaki kursi, ya? Nggak begitu jelas. Kejadiannya begitu cepat. Dan kamu tahu apa akibatnya? Kepala Amel berdarah karenanya. Dia pergi, nangis masuk kamar dan mengunci diri di kamarnya. Gimana menurut kamu?" Raka menatap Rama dengan mode wajah serius.
Rama mengerjapkan matanya beberapa kali, sebagai tanda ia juga bingung harus berkata apa. "Terus, gimana sama lukanya?"
__ADS_1
"Aku nggak tahu. Niatnya mau bantu dia ke klinik atau rumah sakit untuk mengobati luka di pelipis kanannya, tapi dia menolak, dan justru nggak mau ketemu aku. Aku merasa bersalah banget, Rama," desah Raka penuh kepasrahan.
"Mungkin dia beneran tulus cintanya ke kamu, Raka. Apa, apa nggak sebaiknya kalian berdua memperbaiki hubungan?" Rama mencoba untuk mencari tahu.
"Nggak. Nggak akan pernah. Aku nggak akan pernah kembali ke Amel, Rama, sekalipun sampai nanti, aku nggak bisa mendapatkan Seruni," tegas Raka.
"Terus, kamu maunya sekarang gimana? Apa kamu nggak merasa bersalah sama si Amel? Dan lagi, bukannya kamu dulu sangat mencintai Amel, sampai kamu tega mengkhianati Seruni? Coba deh, ingat-ingat lagi, saat kamu memulai hubungan dengan Amel, kamu mengkhianati Seruni?" Rama mencoba untuk membuka pola pikir Raka yang terbilang bodoh menurutnya.
"Aku nggak mencintai Amel, Rama. Biar gimana pun, aku sayang banget sama Seruni," jawab Raka yang mendapat cebikan kesal dari sahabatnya itu.
"Dan kamu mau menunggu Seruni sampai tua? Ingat, Raka. Sekarang si Runi udah sukses, bisa menghasilkan uang sendiri dalam jumlah yang tak sedikit. Saat lihat postingan story WhatsApp kamu, Sekarang Runi jauh lebih cantik dari sebelumnya. Mendengar kau kamu menunggu Seruni, aku geli, deh. Kamu tahu kenapa? Seruni tidak akan pernah mau sama lelaki sepertimu, karena mungkin, dia bisa mendapat lelaki yang lebih segalanya dari kamu," timpal Rama kemudian.
"Terus menurut kamu, aku harus menerima Amel lagi, begitu?" Raka bertanya tepat sasaran, tidak bertele-tele dan Tania ada basa-basi.
"Pikirkan lagi aja, Raka. Aku nggak aku kamu mendapatkan jalan yang sesat. Pesan aku, aku cuman nggak mau kalau nanti kamu mengalami penyesalan, seperti saat kamu kehilangan istri kamu. Ingat, Raka, penyesalan itu datang di depan, bukan di belakang." Rama tersenyum, menepuk pelan pundak sahabatnya untuk memberi kekuatan.
Raka tersenyum, menatap Rama cukup lama. Sepanjang Raka bergaul dengan siapapun, baru kali ini rasanya Raka mendapatkan teman sesungguhnya. Raka hanya berharap, dirinya bisa membuat Mawar kembali ke dalam pelukannya.
"Entahlah. Aku merasa juga gitu, tapi aku nggak bisa kalau harus kehilangan, Runi dan Kia. Aku mencintai dia, Rama. Cinta yang terlambat," lirih suara Raka kemudian. Jelas sekali Raka terpukul atas perpisahannya dengan Seruni. Tetapi sayangnya, Mawar seolah telah betah tinggal disana.
__ADS_1
**