
Suasana malam terasa sepi, ketika Herman serta istrinya berjalan menuju hotel terdekat. Selepas kepergian dirinya dari rumah Rima, mendadak Herman menjadi pendiam, merasa bersalah dan seperti dikejar dosa. Entah bagaimana awal mulanya, Herman tak begitu mengerti, tetapi ia seperti tidak tenang.
Begitu juga dengan Ratna yang hanya diam. Tak ada pembicaraan apapun yang mereka ucapkan. Hanya sesekali mendengus kasar pertanda ia seperti tengah kelelahan.
"Bagaimana ini, pak? Gimana kalau Bu Rima nggak memaafkan kita? Atau, atau memenjarakan bapak? Gimana nasib ibu sama Amel? Seruni dan Kia juga sangat butuh bapak." Ratna bertanya dengan nada suara pelan.
"Yang penting kita udah berusaha Bu. Apapun keputusan Bu Rima nanti, setidaknya kita udah punya niatan baik meminta maaf, datang jauh-jauh dan mencoba untuk memperbaiki diri. Kalau dia bisa memberi maaf asal kita menghidupkan pak Gunawan, ya Bapak mana bisa? Bapak pasrahkan aja sama Tuhan. Anggap juga bahwa kita datang ke Surabaya, untuk mengunjungi Runi dan cucu kita." Herman tersenyum pada istrinya, berusaha menutupi kesedihannya kali ini.
"Ibu salut sama Bapak, Bapak hebat, bisa memiliki hati yang luas begitu." Ratna menepuk-nepuk bahu suaminya, menatap Herman dengan penuh sayang.
Tanpa terasa, keduanya telah tiba di kamar hotel tempat mereka menginap, tak lupa, Herman juga sudah dibekali makanan oleh Mawar, untuk mereka makan di dalam kamar nanti.
"Pak, ibu pengen ngomong sama Bapak." Ratna berkata, di sela-sela mereka makan malam. Ada sesuatu yang mengganjal perasaan Ratna mengenai anak sulung mereka.
"Ngomong aja lah, Bu, Kan dari tadi ibu juga udah ngomong." Jawab Herman sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
Masakan Mawar Seruni, putrinya yang enak itu, membuat Herman sepertinya kalap dan sanggup menghabiskan semuanya.
"Ini tentang Amel, pak. Ibu nggak tahu kenapa, kok ya mendadak sendu kalau ingat anak itu. Bapak tahu sendiri, kalau dia patah hati berat sejak Raka menolak dirinya, dan lebih mengejar Runi. Enaknya anak itu gimana ya, Pak, biar bisa ikhlas melepaskan Raka?" Ratna tak lagi berminat meneruskan makannya, mengingat Amel yang hingga kini belum mendapatkan pengganti Arya, mantan suaminya, membuat Ratna sedih.
__ADS_1
"Mau di gimanain lagi, Bu? Itu semua salah Amel sendiri. Dari awal harusnya Amel tahu risiko dari perbuatannya itu, tapi dia nekat menggoda Raka. Menurut bapak, korban yang sesungguhnya itu Runi, bukan Amel. Kalau Bapak harus kasihan, ya Bapak lebih kasihan Runi, lah." Herman menjawab santai, seolah ia dan istrinya tengah membahas masalah makanan.
"Iya sih, pak. Tetapi menurut Ibu, Runi sudah tenang, anak itu juga bisa dibilang mapan dan mandiri. Kalau dibandingkan sama Amel, coba deh Bapak lihat Amel, dia bahkan sering melamun, kerjaan juga ya gitu-gitu aja. Kayak nggak memiliki pemikiran maju gitu." Ratna menyahut.
Mata wanita itu menatap suaminya yang makan dengan lahap. Bahkan Ratna tak mampu menghabiskan makannya, dan justru lebih memilih memandangi suaminya itu.
"Bapak sih nggak ambil pusing. Bapak sekarang nggak mau berpihak sama siapa-siapa. Kalau dipikir-pikir, mereka udah sama-sama dewasa, Bu. Mereka berhak menentukan jalan yang mau mereka ambil. Dengan Amel yang nekat kayak setahun yang lalu, itu ya artinya dia sudah siap dengan segala risiko dan konsekuensinya. Apalagi, dia lebih dewasa secara umur, bila dibanding Runi." Tandas Herman, masih tetap makan dengan lahap.
"Iya juga sih, pak. Tapi nggak tahu kenapa, ibu kasihan sama Amel." Ratna menimpali.
"Sekarang gini aja, Bu, Runi dengan sikapnya dan juga kelakuannya yang sejak dulu nggak suka diatur, dan lebih condong ke sifat barbarnya, dibandingkan dengan Amel yang penurut, kita dulu sering mengabaikan dan terlalu keras sama Runi. Lihat sekarang, anak yang penurut seperti Amel, justru nggak sesukses dan sedewasa Runi. Menurut ibu, bagaimana?" Herman menatap istrinya itu.
"Bapak nggak setuju sama sekali, kalau dia dan Raka menyatu. Sampai kapanpun itu." Herman menyudahi makanannya yang sudah habis, meneguk air putih dan menutup kotak bekal milik Mawar.
"Loh, kenapa bapak nggak setuju kalau Amel bersatu sama Raka lagi?" Ratna bertanya keheranan.
"Kenapa tidak, pak? Mereka saling mencintai. Dan lagi, Raka juga sudah lama menduda."
"Ibu ini bagaimana? Kenapa Ibu lebih mementingkan perasaan Amel, sih? Amel harus dapat laki-laki lain, begitu juga dengan Raka. Justru disini perasa Seruni yang harus dipikirkan, Bu. Oh bukan, bukan Runi, melainkan perasaan Kia. Semakin hari Kia pasti tumbuh besar, mengerti dan bisa mengamati urusan para orang dewasa. Apa yang akan dipikirkan anak itu, kalau pakdhe nya, adalah ayah kandungnya. Apa Ibu nggak mikir kesana?" Herman mendelik ke arah Ratna, membuat Ratna bungkam dan hanya menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Iya, pak. Ibu yang salah. Ibu minta maaf, ibu nggak akan berpihak pada Amel lagi." Ratna berkata lirih. Wanita itu benar-benar sulit melihat Amel menderita.
"Lain kali jangan diulangi omongan yang kayak gini, Bu. Bapak nggak suka kalau ibu berpihak ke Amel, atau ke Runi sekalipun. Mereka sama-sama anak kita. Kesalahan bapak di masa lalu yang kurang tegas dan cenderung pilih kasih, membuat bapak menyesal setelah kehilangan Runi. Sekarang kita sedang memperbaiki hubungan dengan putri bungsu kita, tolong Ibu jangan bikin gara-gara dengan mengharapkan Raka dan Amel bersatu lagi. Bapak ngagk akan setuju."
Tandas Herman.
Ratna diam, memikirkan dan mencerna apa yang suaminya itu katakan. Semua yang Herman katakan memang benar, selama ini dirinya cenderung pilih kasih dan suka semaunya sendiri dalam membela anak.
"Pak, gimana kalau kita carikan lelaki saja untuk Amel, yang bisa menerima status janda Amel dan bersedia membimbing Amel? Maksudku, kita jodohkan saja Amel." Ratna melihat suaminya tengah menghela napas panjang.
"Bapak trauma, Bu." Herman menjawab pelan, "Bapak trauma dalam menjodoh-jodohkan anak-anak. Bapak dulu berpikir, kalau Runi dan Raka akan berjodoh dan rumah tangga mereka harmonis. Sayangnya, itu salah. Salah besar." Ujar Herman kemudian.
"Runi memang nggak banyak tingkah, tetapi siapa yang nyangka, justru yang banyak tingkah malah si Raka?" Tbah Herman.
"Baiklah, Pak. Ibu manut saja apa kata Bapak. Yang penting, Bapak juga harus pikirkan cara agar Amel bisa berubah lebih baik ya, Pak? Ibu cuman nggak mau, Amel nggak terlalu lama menjanda, takut kalau nanti justru Amel salah jalan." Pinta Ratna.
"Pasti, Bu. Meski jujur aja bapak masih marah sama Amel, tetapi Amel tetap anak kita." Ujar Herman kemudian.
Banyak hal yang selama ini Herman pikirkan, termasuk tentang kebaikan anak-anaknya. Pelajaran hidup telah membuat dirinya tersadar, bahwa sikapnya di masa lalu yang pilih kasih terhadap Mawar Seruni, sangat keliru.
__ADS_1
**