Mawar Seruni

Mawar Seruni
Pinjam motor


__ADS_3

Malam telah larut. Bulan tampak indah menggantung malam ini, memberikan sinar indah yang banyak dinikmati oleh seluruh makhluk bumi.


Bastian Gunawan tengah berdiri di balkon kamarnya, sambil menimbang sesuatu, hendak menghubungi nomor yang ada di kertas dalam genggamannya, atau tidak. Lelaki itu sejujurnya merasa senang, karena ada yang membantu dirinya untuk meruntuhkan dinding pertahanan Seruni. Namun Tian hanya ingin menjaga diri, dan tak ingin terlalu dekat dengan kakak Mawar itu.


Amelia Kenanga.


Wanita itu adalah selingkuhan sahabat Raka dulu, Angga namanya. Bahkan itu terjadi ketika dulu Amel masih belum menikah.


Tian tahu betul saat itu, bagaimana hancurnya rumah tangga Angga, akibat ulah Amel. Ya, Amel dulu sejahat itu, tetapi tidak dengan sekarang. Amel tampak lain dengan penampilan sederhana dan tak semewah dulu.


Bastian sejujurnya masih belum percaya dengan perkataan Amel yang hendak membantunya. Hanya saja, ini seperti sebuah tawaran yang menggiurkan, tanpa imbalan yang Amel minta.


Tak ingin terlalu lama hanyut dalam keraguan, Tian lantas menyimpan kertas itu lagi, di dalam dompetnya. Lelaki itu memutuskan untuk untuk keluar dan menghampiri Mawar saja.


"Mau kemana, Tian? Ini udah malam. Anggi juga sudah tidur. Kamu nggak istirahat?" Suara Rima terdengar dari arah ruang keluarga di lantai atas.


Ibu Bastian itu lantas meletakkan kacamatanya di atas meja, bangkit dan menghampiri Bastian. Biasanya jika malam begini Bastian keluar, pasti ia akan nongkrong dengan teman-temannya.


"Mau nongkrong?" tanya Rima lagi, yang melihat Tian hanya tersenyum.


"Enggak, ma. Aku pengen beli camilan pinggir jalan dan mau ajak Mawar, nggak apa-apa, kan?" tanya Tian kemudian. Rima hanya tersenyum, menatap Bastian. "Mama mau titip apa? Nanti Tian belikan," ujar Tian kemudian.


Rima tampak berpikir, melirik ke atas dan tersenyum merekah. "Mama nggak titip deh, ini udah malam juga. Udah makan malam dan males mau beli yang aneh-aneh," jawab Rima.


"Ya udah kalau gitu, Tian berangkat dulu, ya?" pamit Tian dan mengecup sekilas pipi ibunya.

__ADS_1


Rima tersenyum menatap putranya, senyum tulus keibuan yang selama ini ia miliki.


Bastian turun ke bawah, menemui sekuriti yang biasa berjaga di depan, dengan memasukkan dompet dan ponselnya ke dalam saku celana pendeknya, yang berwarna coklat. Kaos kuning kunyit melekat di tubuh atasnya, membuatnya tampak serasi dengan celana pendek cokelat tua yang Tian kenakan.


"Mang, boleh pinjam motornya, nggak?" tanya Tian pada sekuriti yang kebetulan sedang main catur dengan sesama rekannya.


"Boleh sih, Mas Tian," ucap Mang Asep, sekuriti yang kini saling pandang dengan amang Ujang. "Tapi, mau dipakai untuk apa?" tanya Mang Asep lagi.


"Saya mau mengencani cewek, mang. Itu, si Mawar," jawab Tian dengan santai.


"Mas Tian serius? Memangnya ibu nggak marah lagi?" tanya Mang Asep yang ia tahu, bahwa Rima pernah tidak suka pada Mawar, lantaran Mawar anak dari lelaki yang dulu menabrak mendiang Gunawan hingga tewas.


"Enggak, Mama udah berdamai dengan kenyataan. Mang Asep sama Mang Ujang jangan khawatir, nanti saya bawakan oleh-oleh, untuk Mamang-Mamang ini. Bilang saja mau oleh oleh-oleh apa," ucap Tian.


"Ini kuncinya, Mas. Bensinnya jug kebetulan baru saya isi full," tambahnya lagi.


"Oke, Mang, saya pinjam dulu, ya?" Tian menerima kunci motor yang disodorkan oleh Mang Asep.


"Memangnya, Mas Tian apa masih ingat caranya mengemudikan motor?" Kali ini Mang Ujang yang bersuara.


"Ingat, dong,"jawab Tian dengan semangat. Hingga kemudian siluet lelaki itu menghilang, tentu itu berhasil membuat kedua sekuriti di rumah Tian keheranan.


"Jatuh cinta memang kadang membuat orang ganteng, jadi mendadak gila ya, Sep?" tanya Ujang kemudian.


"Iya, Jang. Semoga aja gilanya mas Tian nggak kelewatan. Mas Tian kan duda, kira-kira, puber ke berapa, ya?" kali ini Asep tampak balik bertanya.

__ADS_1


"Entah," Ujang menatap tak berdaya.


Sedangkan Tian, lelaki itu menggantikan motor matic berwarna merah, tepat di depan rumah Wina Wina sendiri melotot tak percaya, ketika melihat Tian datang mengendarai motor yang biasa dipakai oleh salah satu sekuriti rumahnya.


"Nak Tian? Ini serius? Kamu bawa motor?" tanya Wina pada Tian yang tersenyum.


"Iya, Bi. Bi Wina masa lupa, sih?" Tian balik bertanya, sambil mematikan mesin motornya. "Mawar ada?"


"Ada. Sebentar, Bibi panggil dulu. Ayo masuk," Ajak Wina kemudian. Anaknya itu lantas memanggil Mawar dan Amel. Tampak sekali Mawar seperti sedang menghindari dari Tian. Berbeda dengan Amel yang tampak semangat keluar kamar, sambil menggendong Kia.


"Ini Mawar," Ujar Wina kemudian. "Memangnya, kenapa kok nyariin mawar?" tanya Wina lagi.


"Lagi pengen beli camilan, Bi, tapi mau ajak Mawar. Nggak apa-apa, kok," Ucap Tian kemudian.


Mawar hanya berdiam, berpikir untuk mencari alasan agar ia tak keluar bersama Tian. "Tapi, aku nggak bisa, Bang. Ada Kia. Takutnya nanti, Kia ngantuk dan nyariin aku," kata Mawar beralasan.


"Nggak apa-apa, Runi. Kau anteng sama aku. Jadi kamu pergi aja deh sana, Kia malam ini biar tidur bareng aku. Nanti kalau kamu pulang, baru Kia sama kamu," Amel menimpali.


'Sejak kapan kak Amel jadi berubah gini? perasan dulu nggak serese' ini, deh. Ada baiknya kamu pulang aja, kak Amel. Kamu tuh suka banget, deh, aku sama Tian berjalan berduaan," Ujar Mawar dalam hati.


"Tapi .... " Mawar tak berdaya dibuatnya.


"Jangan ada tapi-tapian. Sana jalan," usir Amel yang kemudian masuk ke dalam rumah Wina. Wina hanya terkekeh kecil ditempatnya.


**

__ADS_1


__ADS_2