
Perjalanan Rima menuju ke ibukota kali ini terasa lebih cepat. Selama perjalanan yang ia habiskan untuk termenung, membuatnya tidak sadar, bahwa kini ia telah tiba di depan rumah Herman Abdullah.
Setelah memikirkan masak-masak, Rima memutuskan untuk memikirkan kebahagiaan Bastian yang sudah banyak mengalah selama ini, demi ego dirinya sebagai ibu. Ia berpikir, selama ini Bastian sudah cukup lama hidup sendiri, sudah saatnya Rima memikirkan masa depan Bastian.
"Pak, Pak Moyo boleh ngopi atau gimana dulu, deh. Ini nanti jemput saya, kalau saya sudah telepon," perintah Rima pada sopir pribadinya. Wanita itu lantas turun, setelah perintahnya diiyakan oleh sang sopir.
Begitu turun dari mobil, Rima bisa melihat jelas bagaimana wajah terkejut Ratna Puspa, yang mematung dan mengerjapkan mata tak percaya.
"Selamat sore, Bu Ratna. Pak Herman, ada?" tanya Rima dengan gugup dan canggung. Mungkin Ratna berpikir jika kedatangan dirinya kali ini terlihat konyol di mata Ratna. Namun demi Bastian dan senyum putra bungsunya itu, Rima rela melakukan apa saja.
"Ada, Bu Rima. Baru saja pulang dari bekerja. Mari masuk, aduh apa ini? kenapa repot-repot?" tanya Ratna, ketika ia Melihat Rima datang dengan membawa oleh-oleh untuk keluarga Herman.
"Hanya sedikit, oleh-oleh dari Surabaya," jawab Rima.
"Mari masuk," ajak Ratna dan diangguki kepala oleh Rima.
"Pak, ada Bu Rima datang," kata Ratna yang melihat Jerman baru saja keluar kamar dan baru selesai mandi.
"Bu Rima?" ucap Herman yang baru melihat Rima yang kini telah duduk di sofa. "Apa kabar?"
"Baik, Pak," jawab Rima. Mereka lantas berbincang dan berbasa-basi sebentar, untuk merilekskan suasana. Hingga kemudian Rima mengatakan apa yang menjadi tujuannya datang kemari.
"Pak Herman, saya datang sendiri. Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan pada Pak Herman dan Bu Ratna. Ini tentang, Bastian putra saya, dan Mawar Seruni," Rima menghela napas panjang.
"Apa itu, Bu?" Herman bertanya serius, begitu mendengar nama Mawar disebut.
__ADS_1
"Apakah Mawar Seruni sudah berbuat kesalahan?" tanya Herman lagi.
"Tidak ada kesalahan yang dilakukan oleh Mawar, Pak Herman. Hanya saja, kedatangan saya kemari, semata untuk meminta izin pak Herman, meminang Mawar untuk Bastian, anak saya," ungkap Rima tegas.
Herman syok, merasa bahwa apa yang dikatakan Rima baru saja, berhasil membuat dirinya kesulitan mencerna. Lelaki itu lantas saling pandang dengan istrinya, menyampaikan kebingungan yang sama mereka rasakan.
"Saya, bukan saya tidak menyetujui dan tidak menyukai nak Tian untuk jadi mantu saya. Hanya saja, begini Bu Rima, yang akan menjalani kehidupan bahtera rumah tangga, adalah nak Tian dan Seruni. Jadi jika masalah mau dan tidaknya, saya akan bicarakan lagi dengan Runi. Semoga saja Runi menerima nak Tian. Masalah suka dan cinta, saya tidak tahu jika Runi memilikinya untuk nak Tian," Herman menjawab logis. Lelaki itu benar-benar takut salah langkah, dan menerima pinangan Rima atas Mawar Seruni, tanpa persetujuan putri bungsunya itu.
"Baiklah. Saya ingin besok Bapak Herman dan juga Ibu, ikut saya untuk pulang ke Surabaya dan memberi kejutan Mawar Seruni. Bapak bersedia?" tanya Rima kemudian.
"Baiklah, Bu. Besok saya akan ajukan cuti lagi untuk pergi ke Surabaya," jawab Herman kemudian. "Hanya saja, apa Ibu tidak menyesal, andai nanti nak Tian memperistri Seruni? Orang tua Runi ini keluarga yang tidak mampu. Saya takut, ada penyesalan di kemudian hari, akibat adanya perbedaan strata sosial diantara keduanya," ujar Herman.
"Tak masalah, Pak. Saya menyukai Mawar dan setuju jika Tian menikah dengannya, semata karena Mawar adalah wanita baik dan penyayang," Rima menjawab penuh keyakinan.
Satu tujuannya kali ini telah berhasil ia raih. Selanjutnya, tinggal menyusun strategi untuk memberikan kejutan untuk Mawar dan Tian.
**
Tak hanya itu, rupanya malam ini juga, kedua orang tua Mawar telah tiba di Surabaya, untuk meminta jawaban Mawar, mengenai pinangan Rima untuk Tian. Tian sungguh merasa diberi kado terindah dari Mama, setelah kesabaran panjang yang selama ini Tian miliki.
Lelaki itu lantas keluar rumah, dengan kembali meminjam motor pada mang Ujang untuk pergi ke rumah Tante Wina, dan menemui Mawar disana. Mama juga sudah memberi kabar, bahwa orang tua Mawar akan segera tiba di rumah Bibi Wina.
Bukankah ini sebuah kejutan untuk Mawar.
Setibanya di rumah Tante Wina, benar saja, Bastian mendapati kedua orang tua Mawar telah tiba disana, dan juga Mama Tian yang duduk tepat di sebelah Tante Wina. Mawar tampak bingung, dan tidak mengerti dengan maksud semua ini.
__ADS_1
"Mama sudah datang sejak tadi?" tanya Tian, yang melihat mamanya kini tampak kelelahan.
Ada Herman abdullah, dan juga Ratna yang kini tampak kuyu. Tampak sekali, mereka baru saja melakukan perjalanan jauh.
"Ya, ayo sini, duduk dulu. Mumpung ada Mawar dan juga keluarganya, Mama ingin menegaskan sesuatu sama kamu," Rima berkata, sambil melambaikan tangannya pada Tian.
Tian bingung, dan juga tampak kikuk. Ada apa ini? Batinnya bertanya-tanya, mengenai apa maksud rencana mamanya kali ini. "Ada apa, Ma? Kenapa orang tuanya Mawar tiba-tiba datang?" tanya Tian lirih.
"Mama tanya sama kamu, Tian," Rima mengabaikan tanya Bastian, "kamu menyukai Mawar?"
"Iya Ma, tapi ya bukan berarti harus kayak gini juga," Jawab Bastian kemudian.
"Mama datang kesini, sengaja membawa pak Herman dan Bu Ratna, untuk melamar Mawar, dan pak Herman sudah setuju. Hanya tinggal Mawar saja, yang belum mama dapatkan jawabannya," ujar Rima dengan tegas.
Ini adalah kegilaan paling dahsyat yang Rima miliki. Rima sadar itu.
Mawar terpaku di tempatnya. Usapan lembut di tangannya dari ibunya, berhasil membuat Mawar kian bimbang di tempatnya.
"Jawab jujur saja, Mawar. Ikuti apa kata hati kamu. Saya tidak membedakan strata sosial diantara kamu dan Tian. Saya hanya mencari menantu yang bisa menjaga dan menyayangi Tian dan Anggi, menerima mereka dengan baik. Jadi saya mohon, jangan lagi menghindar apalagi menolak lamaran saya untuk Tian, Mawar, karena saya bukan tipe orang yang sudi melakukan sesuatu dengan kemurahan hati, dua kali," Rima berkata, dan mendadak lebih tegas dan berwibawa.
Mawar kian bingung.
"Jawab aja, nak. Kalau kamu suka Tian, dan ayang dia dan anaknya, kamu katakan iya. Tetapi jika tidak, Bapak tidak akan memaksa dan katakan tidak," Herman mencoba membantu putrinya untuk memantapkan hati.
Dan Mawar membenci mulutnya kali ini, karena mulutnya itu dengan tegas mengatakan, "Mawar juga mencintai Bang Tian, Bu."
__ADS_1
**