Mekarnya Bunga Layu

Mekarnya Bunga Layu
Nia Kecelakaan


__ADS_3

Lila juga berpamitan pulang.


"Sayang, aku pulang juga dulu ya. Aku mau menenangkan Nia,"


"Tidak perlu, dia berusaha membubarkan kita,"


"Wajar saja. Aku pulang dulu ya, bye!" sambil mengecup pipi Deny.


****


Di perjalanan, Nia berasa rem nya kurang cakram, ia memutuskan menepi karena takut remnya blong. Nia keluar dari mobil dan melihat jalanan yang mulai sepi. Nia mengambil Hp dan mencoba menghubungi Dinda untuk meminta tolong.


"Halo,"


"Iya Din, dimana?"


"Di rumah. Ada sesuatu?"


"Rem mobilku tidak enak, aku takut. Bisa tolong jemput aku?"


"*Oh, bisa-bisa. Shareloc ya, nanti-"


'Ckkiittttt' 'Kyaaa*!'


'tut tut tut'


"Nia! Niaaa! Halo! Nia?!!"


Sebuah mobil menabrak Nia hingga terpental dijalan, Nia yang setengah sadar mencoba meminta tolong namun mobil itu segera pergi dari lokasi.


Dinda yang panik langsung menelfon Mama Nia dan bertanya Nia pergi kemana.


"Tante, Nia pergi kemana?"


"Tadi keluar, katanya ada urusan."


Dinda langsung menutup telfon, ia segera melacak Hp Nia, setelah lokasi ditemukan, Hp Nia tidak terlacak lagi. Dengan buru-buru dan panik Dinda segera menuju lokasi dan juga menghubungi Ambulance.


Setibanya di lokasi, Dinda berurai air mata melihat kerumunan yang tidak terlalu ramai,


"Niiaaa!"


Orang-orang yang mengerumuni Nia memberi jalan pada Dinda.


"Nia, bertahanlah! Ambulance akan datang sebentar lagi!"


Nia tersenyum lemah, matanya berkunang-kunang dan mulai susah untuk membuat matanya tetap terbuka.


"Nia ku mohon! Bertahanlah!"


****


Beruntung Nia masih terselamatkan, ia di larikan ke Rumah Sakit dan langsung di tangani.


"Bu Nia masih bisa di selamatkan, mohon untuk membatasi jumlah orang yang menjenguknya ke dalam ruang rawat," ucap David yang menangani Nia.


"Terimakasih, Dokter." Mama Nia menangis lalu di peluk oleh Dinda.


***


Di hari ketiga, Nia sudah sadarkan diri. Ia sedih karena telah membuat orang terdekatnya kerepotan.


"Maaf, Ma. Maaf, Dinda."


"Hus! Jangan seperti itu. Aku sangat senang kau bisa sadar kembali. Kau membuat kami sangat khawatir, tau." Dinda menyeka air matanya sambil memukul pelan kaki Nia.


"Sakit tau,"


Dinda menjulurkan lidah mengejek Nia.

__ADS_1


"Ma, maaf ya. Nia ceroboh,"


Mama Nia mengangguk dan menciumi punggung tangan Nia.


"Permisi, selamat siang, maaf kami mau memerika pasien dulu" Dokter David dan suster datang.


Mama Nia dan Dinda diminta keluar sebentar.


"Bagaimana Bu, Nia? Ada keluhan?" tanya David.


Nia menggeleng.


"Bisakah saya lebih cepat pulih?"


"Bisa, Bu. Asal Bu Nia mau menurut pada Dokter,"


Nia tersenyum.


Suster melakukan pemeriksaan pada Nia, dan David mempersiapkan cairan yang akan di suntikkan pada tubuh Nia.


"Semoga Bu Nia lekas sambuh," ucap David


"Aamiin, terimakasih,"


Setelah selesai, mereka berpamitan dan meminta Dinda serta Mama Nia masuk ke ruang rawat nanti karena Nia harus beristirahat. Nia yang selesai diperiksa merasakan tubuhnya memanas, suaranya tertahan.


Malam harinya, Dinda masuk ke ruang rawat dan bertanya kondisinya pada Nia,


"Badanku tadi terasa panas,"


"Apa itu efek obatnya, ya?" tanya Dinda.


"Sepertinya,"


****


Nia menggeleng saat akan di suapi makanan. Saat malam tiba Nia juga tidak mau makan, tubuhnya semakin melemah.


"Kamu pasti akan sembuh, Anak Mama tidak lemah. Iya kan?"


Nia mengangguk.


***


3 hari berlalu, Nia masih tetap tidak mau makan, David mengatakan Nia akan baik-baik saja.


***


Hari ke 4, kondisi Nia semakin memburuk, raut wajah Nia pun sudah tidak sesegar sebelumnya. Nia terus menolak makan.


"Nia, kau harus makan loh?"


"Tapi aku tidak mampu, melihatnya saja aku tidak mau."


Dinda merasa ada kejanggalan. Sekali lagi ia meminta David untuk memeriksa Nia lagi, namun David mengatakan tidak apa-apa.


***


Hari ke 7, Nia semakin kurus dan tidak berdaya, Dinda semakin curiga, nama tersangka yang melintas di otaknya adalah Lila.


Dinda pergi menuju ke rumag Lila dengan harapan Lila tidak benar-benar terlibat.


"Sial!" Dinda putar balik saat di dekat lampu merah terdapat razia. Dinda yang kurang fokus lupa membawa seperangkat surat yang harus dibawa saat bekendara.


Dinda berhenti di depan gang, ia turun dari mobil.


"Astaga!" sambil berkacak pinggang.


"Hanya ini jalan satu-satunya agar sampai di dekat rumah Lila." gumamnya.

__ADS_1


"Mana mobilku tidak muat lewat disini,"


Setelah diam sejenak, Dinda memesan ojek online dan menunggu beberapa saat.


"Sesuai aplikasi, ya kak."


"Iya," Dinda mengenakan helm dan naik ojek untuk melewati gang tersebut,


Kesabaran Dinda di uji saat harus mengalami kemacetan karena banyak motor yang juga lewat di gang tersebut untuk menghindari razia. Dinda yang haus melihat sekitar untuk mencari toko yang menjual minum, pandangannya tertuju pada seorang laki-laki yang berada di warung tertutup sedang menerima uang yang lumayan tebal. Setelah lebih teliti, ia menyadari suatu hal.


"Itu kan Lila?" gumam Dinda.


Dinda menutup kaca helm nya saat Lila dan laki-laki itu keluar dari warung tersebut.


Lila keluar dari warung dan menutupi wajahnya menggunakan kerudung, ia jalan kaki sepanjang gang tersebut.


"Pak, saya turun dulu. Nanti saya hubungi lagi,"


"Oke, kak."


Dinda turun dari motor dan tetap memakai helm ojol untuk menutupi wajahnya. Melihat Lila mengeluarkan Hp, Dinda dengan gercep merekam dari belakang dan seakan-akan sedang mencari sinyal.


"Sayang, bagaimana? Berhasil?"


"Eeemmm bagus, aku makin cinta deh!"


"Iya ini aku baru datang menyelesaikan urusan"


"Oke, bye-bye"


Dinda mengepalkan tangannya saat mendengar itu.


"Maaf, kak. Kakak kok dari tadi di belakang saya?" Lila menghentikan langkahnya dan menatap Dinda.


"Ojol saya di dekat lampu merah sana kak. Tadi dompet saya jatuh di sekitar sini,"


"Oh, begitu. Mau saya bantu kak?"


"Oh makasih kak, ini sudah ketemu."


"Oh begitu, Kalau begitu ayo kita bersama-sama kesananya." ajak Lila.


"Boleh,"


"Namanya siapa kak?"


"Saya Adin, kak. Orang sekitar sini juga. tadi lupa bawah Sim eh taunya ada razia di lampu merah sana."


"Emmm begitu ya, bawa mobil?"


Dinda mengangguk.


"Untung aku belum pernah bertatap muka langsung dengannya," batin Dinda.


Saat lengah, Dinda mengirim pesan pada ojolnya dan meminta agar di tunggu di ujung gang.


"Terimakasih sudah menemani saya kak, itu ojol saya. Saya duluan ya, daaah!" Dinda melambaikan tangan sambil melangkah menuju akang ojol yang sudah menunggunya


"Daaaahh!"


****


Dinda yang kembali ke rumah sakit meminta Nia di tangai Dokter lain saja pada pihak rumah sakit, setelah di setujui Nia ditangani oleh Dokter lain.


Malam harinya, Dinda yang kelelahan tertidur di samping Nia. Mama Nia sedang pergi ke toilet.


'Krrieeett' pintu ruang rawat Nia terbuka.


"Jangan mengira aku bodoh," orang yang masuk tak lain ternyata adalah Lila, ia membuka Hp Dinda yang terkunci menggunakan sidik jari Dinda yang sedang terlelap.

__ADS_1


Dinda menghapus rekaman suara yang direkam oleh Dinda tadi siang.


"Sayang sekali, kau kurang pandai berakting," ucap Lila sambil memainkan rambut Dinda. Setelah itu ia segera pergi meninggalkan ruang rawat Nia.


__ADS_2