Mekarnya Bunga Layu

Mekarnya Bunga Layu
Aku Janda


__ADS_3

Disisi lain dirumah Deny. Deny berdiri di balkon kamar sambil memandangi langit malam yang disertai angin tipis. Ia menghela nafas pelan, hatinya terasa sakit mengingat Nia bersama Rino pada saat itu.


Pada saat itu Deny pergi ke Butik Nia namun saat turun dari mobil ia melihat Nia dan Rino seperti mengobrol mesra, ditambah dengan Nia yang memberikan senyum manis pada Rino, ia lalu pergi dari tempat itu karena melihat ekspresi Nia yang datar padanya.


Deny berjongkok dan merasakan sesak di dadanya, ia ingin berteriak.


"Kenapa aku seperti ini?!" Deny mengacak rambutnya.


***


"Tidak apa-apa," ucap Rino lembut.


Tubuh Nia bergetar. Rino meminggirkan mobil dan membuka sabuk pengamannya.


"Nia," panggil Rino.


"Kau membunuhnya?" lirih Nia.


Rino mengambil pistolnya dan menyodorkannya pada Nia.


"Jika memang takut ku sakiti, bunuh aku sekarang," ucap Rino.


Nia menoleh dengan raut wajah ketakutan. Rino masih menyodorkan pistolnya pada Nia.


"Lakukanlah,"


Nia menggeleng.


"Kenapa?" tanya Nia.


"Kalau kau takut aku menyakitimu, bunuhlah aku sekarang,"


"Bukan itu,"


"Lalu?"


"Kenapa kau membunuh orang itu? Apa maksudnya? Kita akan ditangkap polisi."


"Tidak akan,"


Setelah Nia agak tenang, mereka melanjutkan perjalanan.


"Aku akan terus berusaha melindungimu," gumam Rino.


"Alasannya?"


"Eh, kau dengar ya?" Rino terkekeh


"Iya,"


"Alasannya kau terlalu baik."


Nia terdiam. Ia masih terbayang-bayang kejadian barusan.


"Maaf atas tindakanku. Aku akan minta maaf juga pada suamimu,"


Nia menghela nafas.


"Aku janda," sambil tersenyum tipis.


"Eh?! Anakmu?"

__ADS_1


"Aku tidak memberitahunya, aku bisa merawatnya sendiri," Nia menoleh dan tersenyum


Rasa bersalah semakin terasa dihati Rino.


Setelah sampai, Rino tidak ikut masuk dengan alasan akan membereskan orang yang ia tembak tadi.


"Hubungi aku sebelum keluar,"


"Kenapa?"


"Dia akan terus membahayakanmu sebelum kau benar-benar tewas," jawabnya sambil melangkah pergi dari rumah Nia.


"Dia? Siapa?" gumam Nia.


Setibanya di lokasi ternyata sudah banyak orang mengerubungi orang suruhan Lila yang Rino tembak, Rino menggunakan masker dan ikut mengerubungi.


"Ini kenapa?" tanya Rino.


"Kecelakaan mungkin, Mas."


****


Keesokan paginya.


Lila yang bangun tidur membuka sosmednya, ia terkejut melihat orang suruhannya di rencana B mati karena tertembak dan mobilnya menabrak pohon di pinggir jalan.


"Hah?! Kok begini?!"


Lila langsung menelfon Rino.


'Drrrrr drrttt' Rino melihat Hp nya yang berdering, melihat siapa yang menelfonnya, Rino mengabaikannya dan bersiap-siap bekerja.


"Dimana?"


"Mau berangkat ke Butik. Ada apa?"


"Tunggulah sebentar. Aku akan segera kesana."


"Aku bisa sendiri."


"Tidak. Semalam aku tidak bisa membereskan mayat orang itu, pesuruhku pasti sudah melihat berita kematian orang suruhannya saat ini. Aku segera kesana"


Belum sempat Nia menjawab iya atau tidaknya, Rino langsung mematikan telfonnya dan segera menuju rumah Nia untuk menjemputnya.


Lila yang emosi karsna Rino tidak bisa di hubungi, ia segera bersiap-siap untuk pergi ke rumah Rino.


Mobil Nia baru keluar dari gerbang rumahnya, ia menoleh ke samping dan sudah ada Rino yang berdiri di luar pagar rumahnya. Nia membuka kaca jendela mobilnya.


"Loh, kok disini?" tanya Nia heran.


"Biar aku yang mengemudi,"


"Tidak perlu. Masuklah."


Rino menolak dan tetap ingin ia yang mengemudi.


"Sudah baikan?" tanya Rino


"Masih sedikit merinding mengingat semalam." Nia mengambil botol berisikan susu bumilnya.


"Maaf, tapi aku harus menghabisi orang itu."

__ADS_1


"Temanmu?"


"Tidak. Dia orang suruhan pesuruhku di rencana B bila aku gagal melaksanakan misiku."


"Apa dia masih menghubungimu?"


Rino mengangguk.


"Apa yang akan kau lakukan? Kau adalah orang kepercayaannya dan aku adalah targetmu."


"Akan ku laksanakan misiku setelah anakmu lahir," jawabnya enteng.


Nia terkejut, ia menyipitkan mata. Rino terkekeh melihatnya.


"Aku akan berhenti menjadi bawahannya," ucap Rino.


"..."


"Dia akan mengancam nyawamu tentunya," ujar Nia


Rino tidak menjawab, ia hanya tersenyum tipis. Sesampainya di Butik, sudah ada Deny yang sedang berdiri di depan Butiknya.


"Eh?"


"Kenapa?" tanya Nia karena Rino terkejut.


"Itu tunangannya pesuruhku,"


"Ha?! Tunangan pesuruhmu?"


Rino menganggguk.


"Pesuruhmu itu Lila?!"


"Kok tau?"


"Apa maunya dia coba?!" Nia turun dari mobil di ikuti Rino.


Deny menghela nafas kasar saat melihat Rino keluar dari mobil Nia.


"Suami baru?" tanya Deny saat Nia menghampirinya.


"Ada perlu apa, Mas?" Nia balik bertanya.


"Aku tanya, itu suami barumu?"


"Kenapa memangnya? Apa urusannya sama Mas Deny?"


"Nia, kita belum resmi bercerai di mata Negara."


"Sah di mata Agama." Nia tersenyum.


"Pagi, Pak" Sapa Rino, Deny tidak menjawabnya.


"Bapak cari baju untuk kekasih atau orang terdekat?" tanya Rino.


"Mari saya antar," ucapnya lagi.


"Masuklah," perintah Nia pada Rino.


"Baik, Bu."

__ADS_1


__ADS_2