
Malam harinya.
Rino merasa dilema. Di satu sisi ia adalah kepercayaan Lila, sedangkan disisi lain Nia terlalu baik padanya.
'Ddrrttt drrttt'
"Halo,"
"Halo, Bu?"
"Bagaimana? Belum dibunuh? "
"..."
"Halo, Rino. Kau dengar tidak?"
"Iya, Bu."
"Sudah dibunuh belum?"
"Saya..."
***
Keesokan paginya. Rino datang ke Butik Nia menggunakan pakaian rapih.
'Tok tok tok'
"Bu, ada yang mencari Bu Nia."
"Suruh masuk saja,"
Rino masuk ke ruangan Nia dan disambut baik oleh Nia.
"Bagaimana? Minat?" tanya Nia.
"Aku akan mencobanya dulu,"
"Oke. Sebentar."
Nia keluar ruangan untuk memanggil salah satu karyawannya.
"Ini tolong kamu bimbing ya,"
"Kerja disini?"
"Iya."
"Bu Nia yakin sama saya?" tanya karyawan Nia.
"Iya, tolong ya."
"Baik, Bu."
"Ayo ikuti aku,"
Rino mangangguk. Setelah Rino dan karyawannya keluar dari ruangan, Nia kembali memikirkan siapa pelakunya.
"Siapa yang menyuruhnya untuk menghabisiku? Apa Lila lagi? Tapi aku kan sudah menghindar darinya?" Nia memangku wajah.
Disisi lain.
Lila yang tidak sabar menanti berita pembunuhan tak kunjung mendengarnya. Sampai sore ia belum mendapat kabar dari Rino, orang suruhannya.
Karena mulai kesal, Lila memutuskan menelfon Rino, namun nomer Hp Rino malah tidak aktif dan tidak bisa dihubungi.
***
"Baiklah, kalian semua bisa pulang."
"Daaaahhh!"
"Sampai jumpa besok, Bu."
__ADS_1
3 karyawan Nia satu persatu pergi dari Butik Nia.
"Loh, belum mau pulang? Sudah jam 17:30."
Rino yang masih di dalam menggeleng kepala.
"Kenapa?"
"Karena ownernya saja belum pulang."
Nia terkekeh.
"Aku masih ada pekerjaan, malas pulang. Pulanglah, ini juga sudah tutup."
"Aku akan menemanimu sampai kau pulang."
Nia terkesiap.
"Eh? Salah dengar kah aku?"
"Tidak. Aku akan menemanimu sampai kau pulang dengan selamat."
Nia sedikit kebingungan mendengar perkataan Rino.
"Emmm, begitu. Baiklah kalau kau tidak keberatan."
***
Malam harinya, pukul 20:00
Nia pergi ke dapur untuk menyeduh susu bumil. Saat membuka pintu ia terkejut mendapati Rino sedang berdiri disamping pintu.
"Astaga, kau membuatku terkejut." ucap Nia.
Rino hanya tersenyum tipis. Saat Nia kembali ke ruangannya, Rino berdiri di luar pintu. Nia menghidupkan musik untuk menemaninya bekerja malam ini, karena kelelahan ia tidak sadar dan tertidur dimejanya.
Pukul 23:00
Musik yang dihidupkan Nia sudah tidak lagi terdengar oleh Rino dari 1 jam yang lalu. Rino mencoba mengetuk pintu.
'Tok tok tok'
"Bu," panggilnya.
"Bu Nia," panggilnya lagi.
"Eeengghhhh~" Nia membuka matanya perlahan.
"Syukurlah kau hanya tertidur," gumam Rino.
"Aku ketiduran, ya?" Nia mengucek matanya.
"Iya. Mau pulang?"
Nia mengangguk.
"Ayo pulang. Aku sangat mengantuk," Dia menutup laptopnya dan meneguk habis sisa susunya.
Semua lampu di dalam ruangan telah dimatikan, Nia mengunci pintu.
"Biar ku antar," ucap Rino.
"Terimakasih, tapi aku sudah bawa mobil kok."
"Tidak, aku akan mengantarmu dan memastikan kau selamat sampai di rumah."
Nia mengerutkan dahi.
"Memangnya kenapa? Ada apa? Kau terbiasa pulang sendiri kok."
Rino menggeleng.
"Hari ini aku akan mengantarmu,"
__ADS_1
Nia sedikit curiga.
"Tidak ada niatan menghabisiku di perjalanan, kan?"
Rino menggeleng.
"Aku tidak akan melakukan hal itu. Mana kunci mobilnya?"
"Ya kenapa dulu? Apa alasannya?" Nia masih curiga.
"Pokoknya aku akan mengantarmu pulang. Kunci mobilnya sini,"
Nia menggeleng.
"Percayalah padaku," ucap Rino.
"Tapi aneh loh, kenapa kau ngotot menemaniku dari tadi?"
"Sudah, menurutlah padaku."
"Tidak!"
Rino menghela nafas kasar.
"Aku tidak akan menyakitimu,"
"Apa jaminannya?"
"Kau boleh membunuhku jika aku berbuat yang tidak-tidak padamu,"
"Berani bersumpah?"
Rino mengangguk. Wajah Rino mulai terlihat gusar.
"Cepat, kunci mobilnya."
Nia menghela nafas dan mencoba percaya.
Selama di perjalanan Nia agak tegang karena jalanan begitu sepi dan saat ini sedang berdua dengan orang yang hampir membunuhnya. Rino yang mengemudi sesekali melirik ke arah samping jalan.
"Kau tidak merencakan sesuatu kan?" Nia mulai takut.
"Tidak."
Nia membulatkan mata saat ada mobil yang melawan arah menuju mobil Nia. Nia tegang, mobil itu mulai dekat.
'Dorr! Dor!'
Nia membatu melihat Rino mengeluarkan pistol dan menembak pengemudi mobil yang sedang melawan arah di depannya. Seketika mobil itu oleng dan menabrak pepohonan di pinggir jalan.
"Ini hanya mimpi, kan?" batin Nia.
Rino menoleh ke arah Nia yang sedang diam tegang, ia memasukkan kembali pistolnya di tas kecilnya. Rino menyentuh lembut tangan Nia, tangan Nia terasa sangat dingin.
"Tidak apa-apa," ucap Rino sambil tetap mengemudi.
FLASH BACK ON
"Halo, Rino. Kau dengar tidak?"
"Iya, Bu."
"Sudah dibunuh belum?"
"Saya..."
"Dengar, jika kau gagal maka kau yang akan mati. Aku sudah membayarmu, ya!"
"Jika saya telah berusaha namun gagal bagaimana?"
"Sampai jam 9 malam kau masih belum memberi kabar keberhasilan, aku akan menyiapkan rencana B. Buat dia pulang malam dari tempat kerjanya, akan ada pembunuh bayaran lainnya yang akan menghabisinya di tengah jalan. Ingat, jika tugas pertamamu gagal, tugas keduamu harus pokoknya harus dengan cara apapun kau harus membuat dia pulang malam."
"Tapi Nia sedang hamil, Bu."
__ADS_1
"Haaa?! Apa?! Kalau begitu kau harus membunuhnya segera!"
FLASH BACK OFF