Mekarnya Bunga Layu

Mekarnya Bunga Layu
Ingin Memilikinya Lagi?


__ADS_3

Lila memeluk David di Bandara.


"Hati-hati,"


"Iya. Kamu juga hati-hati disini,"


Setelahnya, Lila bernafas lega karena dengan kepergian David membuatnya tidak pusing-pusing mengatur waktu lagi. Lila mengambil Hp miliknya dan mulai memblokir akun sosmed David, ia hanya menyisakan Instagram saja untuk berkomunikasi nantinya.


Sore harinya Lila asik berenang di kolam renang yang ada dirumahnya, sambil menikmati jus buah ia memikirkan alasan agar ia bisa putus dengan David.


"Sekarang David sudah tidak berguna untukku, membunuh Nia secara perlahan saja tidak mampu," ucapnya sambil meneguk minumannya.


"Yaaahhh syukurlah dia sudah pergi, sekarang aku harus memikirkan alasan tepat agar kami bisa putus dan dia tidak menemuiku lagi. Langkah pertama memblokir akun sosmednya sudah selesai," lanjutnya.


"Langkah kedua adalah, meminta pernikahan ini agar cepat terlaksana."


***


3 hari berlalu, David yang baru mendarat di tempat tujuan tidak sempat mengecek sosmednya ditambah dengan signal yang susah di dapatkan.


Lila menarik nafas dalam-dalam, jemarinya dengan lincah menari di kyboard hp nya dan mengirim DM pada David yang berisikan keputusannya untuk menakhiri hubungan mereka berdua.


"Sayang, maafkan aku. Aku telah dijodohkan dengan pria lain. Sejujurnya aku berat menerima semua ini, namun aku baru mengetahui bahwa ini adalah perjanjian dari orang tua Ayahku. Jadi, tolong maafkan aku, kita sampai disini saja."


Lila menghela nafas kasar saat pesannya hanya centang satu. Ia kemudian mengirim vn dengan isi pesan yang sama.


***


Malamnya pukul 20:00? , David baru keluar dari kantor. Ia terkejut saat melewati pintu gerbang, sudah ada Nia yang sedang berdiri memunggunginya. David meminggirkan mobilnya dan berjalan ke arah Nia.


"Nia," panggil Deny, Nia langsung menoleh.


"Mas,"


"Sedang apa disini?" sambil melihat Nia yang membawa rantang makanan.


"Ahaha ini tadi aku berniat mau membawakan Mas Deny makanan, barangkali Mas Deny lembur demi mengumpulkan uang untuk pernikahan Mas Deny dengan Lila. Aku memasak makanan terlalu banyak tadi, tapi ternyata di perjalanan mobilku mogok lagi dan Hp ku lupa tidak di cas," sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Oh, begitu. Jadi itu untukku?" tanya Deny.


Nia mengangguk perlahan.


"Tapi tidak jadi, kan sudah dingin makanannya. Soalnya sudah 1 jam aku disini,"


"Astaga, kenapa tidak ke kantorku langsung?"


"Aku takut di tolak lagi seperti saat itu, karena aku belum membuat janji dengan Mas Deny,"


"Hmmm, baiklah sekarang mobilmu dimana?"

__ADS_1


"Mau apa memang, Mas?"


"Akan ku bantu memeriksanya,"


"Mas Deny tidak lelah?"


Deny tersenyum.


"Tidak terlalu," jawabnya berbohong, padahal aslinya punggungnya seperti mau rontok.


Deny dan Nia menuju ke tempat mobil Nia yang mogok menggunakan mobil Deny. Selama di perjalanan, Deny curi-curi pandang pada Nia yang terlihat cantik natural malam ini.


"Ada apa, Mas? Apakah wajahku terlihat butek?" tanya Nia.


"Tidak ada apa-apa. Apa masih jauh mobilnya?"


"Sebentar lagi. Nah, itu!" sambil menunjuk ke sebrang jalan.


Setelah sampai, Deny meletakkan Hp di mobilnya sendiri dan mulai mengecek mobil Nia.


"Benar tidak merepotkan Mas Deny?" tanya Nia untuk memastikan


"Tenang saja,"


Deny yang sibuk mengecek mobil Nia tidak menyadari ada yang menelfonnya, melihat hal itu Nia lansung menuju mobil Deny dengan niat akan menyerahkannya pada Deny. Niatnya diurungkan saat mengetahui Lila yang sedang menelfon Deny. Nia tersenyum lalu menerima telfon Lila, ia agak menjauh dari Deny.


"Sayang! Lama sekali mengangkat telfonnya,"


"Eh?! Ini Nia?" dengan terkejut


"Iya, ini Nia. Ada apa Lila sayang?"


"Heh! Kenapa kau yang mengangkat telfonku?! Mana tunanganku!"


"Ya gimana yah, kami sedang berdua saat ini."


"Cih! Kurang ajar! Dimana kalian?!"


"Kami dimana ya? Di hotel mungkin"


"Jangan bohong, jelas terdengar suara kendaraan yang berlalu lalang."


"Kan hotelnya di dalam mobil, hihi."


"Nia! Jangan kurang ajar!"


"Duh, iya deh maaf ya.


"Nia! Brengsek! Katakan, dimana kalian?!"

__ADS_1


"Aaahhh," seperti mendesah.


"NIA!!!!"


"Jangan ganggu kamu dulu, ya. Mas Deny jadi tidak bisa menikmatinya. Papayy!!"


Nia langsung mengakhiri telfon sambil tertawa pelan, ia langsung meletakkan kembali Hp Deny di mobilnya.


"Nia, ada apa?"


Nia menggeleng.


"Bagaimana, Mas? Apa ada masalah?"


"Tidak ada. Biar ku nyalakan dulu."


Mobil Nia hidup normal, Nia tersenyum. Ia menyodorkan rantang makanannya pada Deny.


"Apa Mas Deny mau menerimanya sebagai bentuk terima kasih?"


"Tidak perlu, lagipula aku tidak berbuat banyak." tolak Deny.


Nia menunjukkan raut wajah kecewa dan tersenyum kecut.


"Baiklah kalau begitu."


"Tapi jika kau memaksa aku tidak keberatan menerimanya!" ucap Deny saat Nia akan memasukkannya ke dalam mobil.


Dengan senyum sumringah Nia langsung menyerahkannya pada Deny,


"Terimakasih," ucap Deny.


"Aku juga mau berterimakasih sama Mas Deny."


Deny terkesiap melihat senyum Nia.


"Aku tidak tau, kenapa aku seperti ingin memilikinya lagi," batin Deny


"Mas," panggil Nia.


"Eh, iya."


"Kok melamun?"


"Tidak apa-apa,"


"Mas Deny, apa yang harus ku lakukan agar Mas Deny mau mencabut talak atas diriku?"


Deny diam membisu, melihat Deny yang hanya diam membuat Nia kecewa.

__ADS_1


"Ahahah, aku hanya becanda kok! Aku pulang dulu ya, takut Maka khawatir."


Deny mengangguk dan tersenyum kecut.


__ADS_2