Mekarnya Bunga Layu

Mekarnya Bunga Layu
Orang Suruhan Lila


__ADS_3

Keesokan paginya. Orang suruhan Lila kembali ke butik Nia. Nia yang masih mengingatnya menuntun suruhan Lila untuk menemukam baju yang ia cari


"Mau cari baju motif dan model apa?"


"Eee yang bagian bahunya terbuka."


"Oh, ada. Mari ikut saya ke lantai atas."


"Oke, kak."


"Nah, ini motif terbaru dari kami. Bisa juga request warna, pengerjaan dalam waktu 4 hari." sambil tersenyum ramah.


"Baik kak,"


Saat Nia menjelaskan beberapa produk bajunya, Laki-laki suruhan Nia mengeluarkan pisau dari dalam kantong celananya, ia berdiri di belakang Nia dan siap menusukkan pisau itu di pinggang Nia.


"Dibayar berapa oleh orang itu?" celetuk Nia tiba-tiba tanpa berbalik badan.


"E-Eh?"


"Jawab saja, dibayar berapa oleh pesuruhmu?"


"Pasti bayarannya sangat mahal sampai kau berani melaksanakan tugas membunuh wanita berbadan dua, ya?"


Nia berbalik dan tersenyum, spontan suruhan Lila menyembunyikan pisaunya di belakang tubuhnya.


Nia tersenyum lagi.


"Dibayar berapa? Bisakah aku menyewamu untuk balik membunuhnya? Aku akan memberi upah yang lebih besar."


Tangan Nia berusaha mengambil pisau yang ada di belakang tubuh laki-laki tinggi di depannya, suruhan Lila tersebut berniat menghindar.


"Aw!" tangan Nia tergores pisaunya.


Orang suruhan Lila terkejut, ia spontan memegang jari Nia yang mengeluarkan darah dan menjatuhkan pisaunya. Ia menahan darah yang terus mengalir, ia langsung mengambil sapu tangan di kantong celana sebelahnya dan mengikatnya di jari Nia.


"Ternyata aku masih bisa merasakan sakit," Nia tersenyum namun air matanya mengalir.


"Mbak?"


***


Nia dan orang suruhan Lila duduk berhadapan di ruangan Nia.


"Terimakasih," ucap Nia pada salah satu karyawannya yang sudah memberi perban dan plester di jari Nia yang tergores pisau.


"Bu Nia benar tidak apa-apa?"

__ADS_1


Nia mengangguk.


"Dia telah menolongku menghentikan darah yang terus mengalir di jariku tadi,"


"Syukurlah. Lagipula Bu Nia kenapa bawa pisau? Kan tidak ada dapur memasak disini,"


Nia terkekeh.


"Iseng saja tadi. Oh iya, tolong buatkan minum ya untuk kami,"


"Baik, Bu."


Setelah karyawan Nia keluar ruangan, orang suruhan Lila mengangkat kepala dan menghela nafas berat.


"Oh iya, pertanyaanku tadi belum di jawab loh." sambil tersenyum.


"Aku mintaa maaf," ucapnya pelan.


"Kau tidak bersalah. Itu tugasmu, bukan? Jawablah pertanyaanku."


"Aku dibayar 20 juta,"


"Ooohhh lumayan,"


"Bisakah kau membunuh perasaan cinta dalam hatiku? Kalau bisa, aku akan membayarmu 3 kali lipat dari yang pesuruhmu berikan."


Orang suruhan Lila menoleh ke arah Nia. Jika dilihat dari dekat wajah Nia tidaklah seceria yang terlihat.


"Aku bingung sih sekarang. Jika aku tidak berhasil kau habisi, kau akan kehilangan uang dari pesuruhmu. Jika aku mati, maka anakku akan mati sebelum lahir."


"Kau sedang hamil?"


Nia mengangguk. Orang suruhan Lila itu seketika duduk di lantai dan bersujud bahkan menyentuh kaki Nia. Nia yang terkejut refleks menarik kakinya namun tanpa sengaja ujung sandalnya mengenai dahi suruhan Lila.


"Maaf," ucap Nia.


Mendengar kata Maaf dari Nia membuat laki-laki itu semakin menangis tersedu-sedu. Nia tentu kebingungan.


"Apa yang kau lakukan? Bangunlah!"


"Tolong maafkan aku, hiikss!"


"Ahaha, kau hanya melakukan tugas kok!"


"Aku sungguh tidak tau kalau kau sedang hamil,"


Nia tersenyum dan meminta laki-laki itu untuk berdiri dan kembali duduk. Nia mengambil tisu di laci meja dan memberikannya pada laki-laki yang merupakan orang suruhan Lila.

__ADS_1


"Setiap orang pasti punya alasan dibalik ia melakukan sesuatu," ucap Nia sambil menatap langit-langit ruangannya.


"Aku sungguh minta maaf," ucap laki-laki itu


Nia tersenyum.


"Pasti hidupmu berat ya sampai melakukan hal keji ini,"


"Huuftt, Istriku meninggal."


Nia terkejut.


"Dia meninggal saat sedang mengandung anakku di usia kandungan 7 bulan. Sebelum kami menikah, ada pria yang menyukai istriku itu namun ia kalah karena istriku lebih memilihku. Saat itu istriku tengah hamil, sepulang bekerja aku sudah melihat dia tergelatk di lantai tanpa sehelai benang yang melekat pada tubuhnya dan pelakunya adalah sainganku tadi. Aku membunuhnya, aku sempat masuk penjara, setelah bebas aku bergabung dengan kelompok pembunuh bayaran yang mana salah satu anggotanya adalah teman masa kecilku. Setelah membunuh, aku ketagihan membunuh orang."


"Aku turut berduka, pasti sangat sakit rasanya ketika kita tidak bisa mempertahankan yang kita punya." Nia tersenyum dan kembali menyodorkan tisu.


"Tapi keburukan itu masih bisa dirubah,"


Seperti mendapat dorongan semangat, Laki-laki itu tersenyum dan merasa sedikit lega.


"Apa kau hanya bekerja seperti ini?" tanya Nia.


Laki-laki suruhan Nia mengangguk.


"Sulit mencari pekerjaan bagi Napi sepertiku,"


"Jika mau, kau bisa bekerja disini. Butik Pusat milik Mamaku masih dalam tahap proses pembangunan, dan itu dibangun lebih besar dari sebelumnya. Mama pasti akan merekrut orang baru untuk tambahan karyawan, jika kau mau sementara bisa disini dulu sebelum di Butik Pusat,"


"Kenapa kau percaya padaku?"


"Karena masih ada kebaikan dalam dirimu," jawab Nia sambil terkekeh pelan.


Seperti di tiup angin dingin ditengah panasnya cuaca, Laki-laki itu tak berhenti menatap Nia yang tertawa pelan.


"Rino, namaku Rino." ucapnya tiba-tiba.


'Tok tok tok'


"Masuk," sahut Nia.


"Ini minumannya, Bu. Maaf agak lama, tadi es batu di kulkas habis. Jadi beli ke toko sebelah dulu,"


"Iya tidak apa-apa. Terimakasih,"


Karyawan Nia pamit keluar ruangan.


"Silahkan di minum."

__ADS_1


"Terimakasih,"


"Aku Nia," sambil meneguk minumannya.


__ADS_2