Mekarnya Bunga Layu

Mekarnya Bunga Layu
Dokter David


__ADS_3

Hari mulai malam, Nia berpamitan pulang.


"Ma, Nia pulang."


"Kenapa tidak menginap?" dengan mata yang berkaca-kaca.


"Lain kali, ya." tersenyum lebar sambil mencium punggung tangan Diana, Mama Deny.


***


"Terimakasih telah datang," ucap Deny saat Nia akan masuk ke mobilnya.


"Sama-sama," tersenyum kecut,


Setelah keluar dari rumah Deny, Nia bisa bernafas lega.


"Jujur, itu sangat menyakitkan bagiku."


Tiba-tiba mobil Nia terasa tidak nyaman, ia berhenti di tepi jalan lalu keluar dari mobil untuk mengeceknya.


"Yah, kurang angin."


Sambil berkacak pinggang Nia melihat ban mobilnya yang mulai kempes. Nia berniat masuk ke dalam mobil dan ada mobil melaju kencang, bersamaan dengan membuka pintu mobilnya, Nia diserempet oleh mobil itu.


"Kyaaaaa!" Nia terjatuh ke aspal dan kakinya baret juga ada lebam.


"Maaf, Bu." pengemudi mobil yang menyerempet Nia turun dari mobilnya dan menghampiri Nia


"Iya, lain kali hati-hati." Nia berusaha berdiri.


"Sekali lagi maaf, mari saya antar ke rumah sakit untuk berobat."


"Tidak perlu, ini tidak terlalu parah."


"Sekali lagi maaf!" sambil membungkukkan punggungnya, Nia tersenyum.


***


"Assalamu'alaikum," Nia masuk ke dalam rumah.


"Nia!" Mama Nia mengampiri Nia yang berjalan tertatih.


"Dari mana saja kamu? Kenapa kakimu?" dengan raut wajah cemas


"Keserempet mobil, Ma. Hanya lecet sedikit."


"Sedikit katamu? Ayo duduk!"


Mama Nia menghubungi suatu Rumah Sakit dan meminta Dokter ke rumahnya.


"Astaga Mama, tidak perlu begitu."


"Nanti lukamu terinfeksi, udah diem, nurut sama Mama."


Nia terkekeh, Mama Nia membantu Nia menuju kamarnya.


Tidak butuh waktu lama, Dokter pun datang.


"Selamat malam, Bu. Saya David, yang di tugaskan oleh pihak rumah sakit untuk memenuhi panggilan Ibu."


"Malam, silahkan ke kamar anak saya. Mari," Mama Nia menuntun Dokter David.


"Selamat malam, Bu." sapa David.


"Selamat malam, Dokter." Nia meletakkan lap basah ke baskom.


"Silahkan di periksa ya, Dok. Saya akan buatkan minum dulu."


"Baik, Bu. Terimakasih."


"Maaf Dokter, Mama saya terlalu berlebihan. Ini hanya luka biasa."

__ADS_1


"Jika tidak segera di atasi, nanti lukanya akan terinfeksi, Bu."


"Hah? Separah itu?" Nia tidak percaya.


David mengangguk dan mulai mengobati luka kaki Nia, tahap terakhir di perban.


****


Keesokan paginya.


"Niaa!"


Nia yang baru selesai dari kamar mandi terkejut mendapati sahabatnya, Dinda, sedang duduk sambil melihat wajah.


"Dinda, kapan datang?"


"Tadi. Kenapa kau tidak menghubungiku?!"


"Cup cup, jangan ditekuk seperti itu. Nanti ku cubit loh pipinya," Nia duduk di samping Dinda.


"Ya habisnya! Aku panik saat Mamamu menelfonku dan mengatakan kau kecelakaan, bisa-bisanya!"


"Astaga Mama. Aku hanya luka-luka ringan, kok."


"Hump!"


***


"Mau makan apa? Aku pesankan nih."


"Aku sudah sarapan tadi, kau sudah sarapan belum?"


"Sudah. Aku akan disini sampai Mamamu pulang,"


"Sudah izin pada orang tuamu?"


"Sudah. Toh aku masih lama akan menikah,"


"Apakah sakit?" tanya Dinda, Nia menggeleng.


Mendengar suara mobil yang masuk ke halaman rumah, Dinda lekas melihat dari jendela kamar Nia.


"Ada Dokter tuh," ujar Dinda.


"Eh? Ini pasti Mama yang menyuruhnya."


"Tolong bukakan pintu ya." pinta Nia.


"Okeh!"


"Selamat pagi, Bu."


"Pagi Dokter,"


"Dokter, apakah Mama saya yang meminta Dokter untuk kemari?"


"Betul, Bu. Perkenalkan, saya David, Dokter yang akan merawat Ibu sampai sembuh."


"Saya Nia, terimakasih Dokter."


"Nia, ada satu pertanyaan dariku,"


Nia meenoleh.


"Kenapa kau disini?"


Nia menelan ludah.


"Eemm... Maksudmu?"


"Hais! Jelas dong, kenapa kau disini dan tidak di rumah suamimu?" Dinda duduk di sebelah Nia yang sedang di periksa.

__ADS_1


"Sssttt! Naanti ku jawab, sekarang masih ada Dokter," bisik Nia.


"Tapi aku tidak bisa menahan lagi, dari tadi aku menahan rasa penasaran ini."


Nia menghela nafas, ia berbisik lagi.


"Aku... Aku sudah di talak." bisiknya pelan.


"Ha?!!" Dinda dengan raut wajah terkejut spontan melotot,


"Ssssttt!"


"Maaf Dokter, teman saya memang begini," tersenyum kaku.


"Iya tidak apa-apa, Bu Nia."


Dokter David memasukkan kembali peralatannya dan bersiap-siap akan pergi. Saat akan keluar kamar ia menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Nia.


"Saya turut Prihatin, Bu Nia." ucapnya sopan lalu pergi dari kamar Nia.


"Lah, dia mendengarnya?" Nia heran.


"Kan dia punya telinga," timpal Dinda santai.


"Iya tau, tapi aku sudah meengecilkan suaraku tadi,"


"Ya intinya itu telinganya si Dokter tidak budeg. Ayo sekarang ceritakan, kenapa sahabat baikku ini di talak, kurang ajar sekali pria itu."


Nia menarik nafas dalam sebelum bercerita, sambil berurai air mata ia menceritakan apa yang terjadi padanya.


"Lah, itu ulat bulu kenapa baru datang pas kalian nikah, he?" Dinda tidak terima.


"Dia tidak sepenuhnya salah,"


Nia tertawa pelan melihat Dinda yang terus mengomel bahkan mengumpat Lila.


☘☘☘


Satu minggu berlalu.


Nia yang sudah pulih total akhirnya kembali bekerja. Sapaan hangat dari para karyawannya sedikit mengurangi beban fikirannya.


"Woah, rame banget ya," ujar salah satu karyawan.


"Iya, bersamaan dengan Bu Nia yang kembali sehat, pengunjung juga bertambah."


Salah satu karyawan Nia melihat customernya bergosip, seperti ada magnet yang menariknya, ia perlahan mendekat untuk menguping.


"Dengar tidak?"


"Ada apa?"


"Itu anak dari salah satu pemilik cafe besar di kota ini mau bertunangan lagi."


"Bukannya sudah menikah ya? Bukannya Butik ini adalah milik Istrinya?"


"Tidak tau, kemarin anakku lihat di IG ada berita tersebut."


"Wah, jangan-jangan mau poligami itu mah."


"Iya mungkin"


Mendegar hal tersebut karyawan Nia langsung melapor pada Nia.


"Begitu, Bu."


"Ooohhh, baiklah terimakasih infonya ya. Silahkan kembali bekerja," sambil tersenyum


Perlahan senyumnya memudar saat karyawannya telah keluar dari ruangannya. Air matanya mengalir dari sudut matanya, ia membuang nafas lalu tersenyum.


"Tidak apa-apa Nia, kau harus sadar diri, Oke. Semangat bekerja!!"

__ADS_1


__ADS_2