Mekarnya Bunga Layu

Mekarnya Bunga Layu
Kecewa


__ADS_3

Rino menghampiri Nia yang sedang mengunci pintu gudang.


"Kau benar baik-baik saja?" tanya Rino lagi.


"Tentu. Memangnya ada apa?"


Rino menarik nafas dalam-dalam.


"Tentang kapsul itu.."


"Kapsul? Aku akan menggantinya kok." Nia tersenyum.


"Aku bersyukur kau tidak meminumnya,"


Nia menghentikan langkahnya.


"Apa maksudmu?" Nia menoleh.


"Kapsul itu bukanlah obatku."


Nia mengerutkan dahi.


"Itu penggugur kandungan." lanjut Rino.


Jantung Nia seakan berhenti berdetak.


"Penggugur kandungan? Kau berniat menggugurkan kandungan siapa? Apa kau menghamili anak orang?"


"Itu dari Lila," jawabnya pelan.


Manik mata Nia membulat.


"Kau masih berhubungan dengannya? Masih menjadi bawahan setianya?"


Rino diam tidak menjawab.


"Kau masih berniat menghabisiku, ya?" Nia kecewa pada Rino.


"Mohon maafkan aku," ucap Rino.


"Kali ini berapa uang yang ia berikan padamu?"


"30 juta,"


Nia menghela nafas berat.


"Kembalilah padanya jika memang gaji darinya lebih besar daripada gaji dariku," ucap Nia yang langsung pergi ke ruangannya meninggalkan Rino yang belum sempat menanggapi apa yang Nia katakan.


Nia memijit pelipisnya. Rino mengetuk pintu dan meminta izin untuk masuk namun Nia tidak meresponnya.


"Nia, tolong maafkan aku." ucap Rino.


"..." Nia tidak menjawab.


Nia melihat jam di hp nya dan sudah pukul 9 malam. Nia keluar ruangan dan mendapati Rino berjongkok di dekat pintu ruangannya.


"Aku minta maaf," ucap Rino lagi. Nia menghela nafas lalu keluar dari Butik di ikuti Rino.


Nia mengunci pintu dan melangkah menuju mobilnya.


"Aku akan mengantarmu," ucap Rino.


Nia bahkan enggan melihat ke arah Rino. Ia tetap masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Rino di depan Butiknya.


"Nia!" panggil Rino saat mobil Nia mulai menjauh.


"Sial!" umpat Rino.


"Ternyata diamnya orang yang baik sangat menyakitkan," batin Rino


Rino mengambil kapsul penggugur kandungan dari saku kemejanya, ia membuka kapsulnya dan membuangnya ke tempat sampah. Rino segera mengejar Nia.

__ADS_1


Rino sampai lebih dulu di rumah Nia, ia berdiri di luar pagar rumah Nia. Ia menghadang mobil Nia yang akan masuk ke dalam. Nia tidak mengucapkan sepatah kata apapun, ia hanya menatap datar Rino.


"Aku minta maaf," ucap Rino.


"Kemari!" panggil Nia. Rino tersenyum dan melangkah mendekat pada Nia.


"Pergilah, majikanmu menunggu kabar baik darimu," ucap Nia lalu berhasil masuk ke halaman rumah.


"Tutup gerbangnya,"


"Baik,"


Rino menatap nanar pintu gerbang Rumah Nia yang tertutup.


🍀🍀🍀


Keesokan paginya cuaca sedang tidak baik, hujan turun dengan derasnya.


"Mau berangkat?" tanya Mama Nia.


"Sedang hujan loh."


"Iya, Ma. Kan pakai mobil, hihi." Nia mencium punggung tangan Mamanya.


Saat keluar dari gerbang rumahnya, Nia dikejutkan dengan Rino yang duduk bersandar di pagar rumahnya dan masih mengenakan pakaian semalam.


"Apa dia semalaman disini?" batin Nia


Rino yang melihat mobil Nia langsung berdiri dan mendekat.


"Tolong maafkan aku," ucap Rino.


Nia membuka kaca jendela mobil.


"Jika kau hujan-hujanan begini apakah kapsulnya tidak rusak," Nia tersenyum tipis.


"Aku sudah membuanganya kemarin. Aku mohon maaf,"


"Pulanglah," ucap Nia


"Aku tidak akan pulang sebelum mendapat maaf darimu," mata Rino memerah.


Nia menghela nafas.


"Masuklah ke mobil." ucap Nia


"Aku membutuhkan maaf darimu."


"Iya, maaf kuberikan. Masuklah ke mobil,"


Rino terlihat senang.


"Aku izin terlambat, aku harus mandi dan lainnya." ucap Rino gembira.


"Masuk ke mobilku, cepat."


"Terima kasih, aku akan memesan ojek atau lainnya saja."


"Masuklah ke mobilku," paksa Nia.


"Aku basah kuyup,"


"Cepatlah masuk,"


Akhirnya Rino masuk ke mobil Nia.


"Dimana alamatmu?"


****


Sesampainya di rumah Rino, Nia masuk mengikuti langkah Rino.

__ADS_1


"Maaf rumahku agak berantakan." ucap Rino.


"Iya tidak masalah." Nia duduk di ruang tamu.


"Aku akan membuatkan minuman hangat untukmu."


Nia menolak dan menyuruh Rino mandi. Setengah jam berlalu, Rino keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi.


"Kau tidak perlu datang ke Butik hari ini," ucap Nia, ia berdiri.


"Aku di pecat?"


"Tidak. Istirahatlah hari ini," Nia melangkah dan akan membuka pintu.


"Nia!" Rino menarik lengan Nia.


"Tolong maafkan aku,"


Nia melepas tangan Rino dan menoleh


"Aku sudah memaafkanmu. Aku berikan satu kesempatan lagi untuk kau berubah."


Nia mengeluarkan uang dari dompetnya.


"Gunakan ini untuk membeli obat dan salep." Nia keluar dari rumah Rino dan pergi menuju Butiknya.


"Apa yang telah ku lakukan?" Rino menitikkan air mata.


Rino mengambil Hp nya, ia bersyukur Hp nya tidak mati terkena air hujan, ia menelfon Lila dan meminta untuk bertemu.


"Oke, kita ke cafe di sudut kota."


"Baik,"


1 jam perjalanan akhirnya Rino sampai di lokasi perjanjian. Dengan kondisi cafe yang tidak ramai dan masih jarang gedung dan rumah.


"Ada apa? Apa ada kabar bahagia?" tanya Lila.


Rino mengeluarkan uang senilai 50 juta dan meletakkan di meja.


"Aku kembalikan." ucap Rino.


"Apa maksudnya ini?"


"Aku berhenti menjadi bawahanmu. Ini semua uang yang kau berikan padaku karena misiku gagal. Aku kembalikan."


"Rino, jangan bercanda!"


"Aku tidak bercanda. Mulai detik ini jangan menggunakan aku sebagai bawahanmu lagi."


"Jangan seenak jidat! Aku bisa menghabisimu," ancam Lila. Ia geram pada Rino.


Rino dengan santai mengeluarkan pistol dan menodongkan pada Nia.


"Aku lebih hebat menembak daripada bawahanmu yang lain."


Beruntung saat ini cafe sedang tidak ada pengunjung selain mereka berdua.


"Rino!"


"Diam dan tenanglah sebelum peluru ini bersarang di kepalamu,"


"Kau mengancamku hah?!"


'Brak!' Lila menggebrak meja.


"Aku akan menghabisimu jika kau berani mencelakai Nia."


"Cih! Kau terpengaruh olehnya,"


"Aku tidak peduli. Mulai detik ini aku bukanlah orang yang bisa kau sewa." Rino menurunkan pistolnya dan pergi dari sana meninggalkan Lila yang sedang marah.

__ADS_1


"Nia! Kurang ajar! Kau telah merebut Deny, dan sekarang?a! Cih!"


__ADS_2