
🍀🍀🍀
Hari mulai sore, Nia mulai sadar. Deny yang melihatnya langsung memanggil David.
"Bagaimana?" Tany Deny saat David selesai memeriksa Nia.
"Nia baik-baik saja, efek racunnya tidak lagi menyebar."
Deny bernafas lega, Rino menitikkan air mata bahagia.
"Apa boleh ku lihat?" Tanya Deny
"Silahkan. Nia sudah bisa membalas obrolanku tadi walau masih lemas."
"Terimakasih." Deny dengan cepat masuk ke ruang rawat Nia.
"Nia," panggil Deny saat baru masuk
Spontan Nia menoleh.
"Mas,"
"Syukurlah kau tidak kenapa-napa. Aku sangat khawatir."
"Lila bagaimana, Mas?"
Senyum Deny perlahan memudar.
"Jangan tanyakan hal itu dulu, hal yang utama adalah kesembuhanmu. Mamamu nanti akan segera kesini bersama Mama."
"Mama? Apa yang harus ku katakan nantinya?"
"Aku mengatakan kau kecelakaan,"
Nia mengangguk.
"Dinda? Mana Dinda?"
"Dia masih tidur di ruang rawatnya, ia habis menangis."
"Hhuffttt syukurlah Dinda baik-baik saja." Ucap Nia
Raut wajah Nia berubah, ia merasakan mules bercampur sakit di perutnya.
"Ada apa?"
"Perutku, Mas. Anakku?!"
Nia kesakitan.
"Aku akan memanggil David. Bertahanlah."
Nia dibuat panik karena merasa ada yang mengalir dari daerah kewanitaannya.
"Kumohon, bertahanlah!" Pinta Nia sambil menahan sakit yang teramat.
****
Nia memiringkan tubuh memunggungi Deny dengan isak tangisnya. Deny membuang nafas berat sambil mengelus puncak kepala Nia.
"Anakku," lirih Nia.
Rino masuk ke dalam ruang rawat Nia.
"Apa yang terjadi?!" Tanya Rino panik.
"Kandungan Nia, tidak bisa di selamatkan." Jawab Deny menahan air mata yang memaksa keluar.
"Keguguran maksudmu?!" Rino tidak percaya.
Deny mengangguk.
"Maafkan aku, Nia. Aku gagal." Ucap Rino sedih.
Nia semakin menangis sambil terus memegangi perutnya.
****
__ADS_1
3 hari berlalu. Nia sudah bisa kembali ke rumah namun dengan masih mengonsumsi obat resep David. Ia sesekali menangis mengingat anaknya yang harus mati sebelum ia lahir.
Malam ini Deny datang ke rumah Nia sambil membawa makanan manis di temani Mamanya.
Mama Deny dan Mama Nia saling menguatkan karena kehilangan cucu mereka.
'Tok tok tok' Deny mengetuk pintu kamar Nia.
Nia menyeka air matanya, ia beranjak dari ranjang dan membuka pintu. Saat membuka pintu ia disambut senyum hangat Deny, Nia kembali mewek dan Deny langsing memeluk Nia erat. Nia menangis dalam pelukan Deny.
"Maafkan aku, aku gagal." Ucap Deny.
"Aku juga gagal menjaganya, hiks"
Buliran bening air mata mengalir di pipi Deny, ia mencium puncak kepala Nia.
"Tapi aku bersyukur kau selamat," ucap Deny
Deny melepas pelukan Nia.
"Aku membawa makanan kesukaanmu. Kue manis." Menyodorkan bingkisan kecil pada Nia.
Nia menyeka air matanya dan menerimanya.
"Terimakasih, tapi aku tidak lagi merasakan keinginan yang begitu kuat untuk memakannya." Ucap Nia pelan.
"Kita bisa membuat adik untuknya." Celetuk Deny.
"Eh?" Nia mengerjapkan matanya berkali-kali.
"Aku mencabut talak yang telah ku jatuhkan padamu."
Manik mata Nia membulat. Deny tersenyum.
"Malam ini juga aku mencabut talak 1 yang telah ku jatuhkan padamu. Aku merujukmu."
Jantung Nia berdetak dengan cepat. Deny mengulurkan tangannya dan diterima oleh Nia, ia mengeluarkan cincin baru dan menyematkannya di jari manis tangan kanan Nia.
"Aku memintamu kembali, tolong terimalah aku." Ucap Deny sambil menitikkan air matanya lagi.
"Aku menerimanya, hikss. Aku kembali!!"
"Terimakasih," Deny membalas pelukan Nia dengan erat.
Mendengar isak tangis Nia, Mama Nia dan Mama Deny mengira Nia kenapa-napa dan segera menuju kamar Nia. Mereka terkesiap melihat kedua anak mereka berpelukan di selingi isak tangis Nia.
"Aku mencintaimu, Mas!"
"Aku juga mencintaimu. Maaf atas semua salahku." Ucap Deny lagi saambil menciumi pipi Nia yang basah akan air mata.
Deny menempelkan bibirnya dengan bibir Nia dan tidak menyadari kehadiran Mama mereka.
🍀🍀🍀
Di kediaman Nia, Deny dan Nia mengadakan syukuran dalam rangka Rujuknya mereka.
Dengan dekorasi minimalis, Nia dan Deny kembali mengambil foto bersama. Rino tersenyum melihat pasangan yang sedang di foto itu.
"Huuwaaaa akhirnya Nia kembali pada Deny," ucap Dinda di samping Rino sambil menyeka air mata.
Rino terkekeh pelan,.
"Sebentar lagi kita juga akan menyusul mereka," ucap calon suami Dinda dan merangkul bahu Dinda.
"Akhirnya, aku melihat senyum Nia yang benar-benar senyum bahagia," batin Rino.
"Rino, kau kapan?" Tany Dinda
"Kapan apanya?"
"Nyusul loh."
"Aku tidak akan menikah. Mungkin" jawab Rino sambil tersenyum
"Kenapa?"
"Istriku telah meninggal,"
__ADS_1
Dinda meminta maaf karena telah asal mengajukan pertanyaan seperti itu.
"Ehem, jangan menyinggung pernikahan ya, aku juga belum menikah." Ucap David disamping Rino
"Istriku meninggal, kemudian Nia telah kembali pada pasangannya, aku tidak punya keinginan untk menikah." Batin Rino.
"Rino! Dinda! David!" Panggil Nia
"Ayo foto bersama!" Lanjutnya.
****
Rino mengusap kepala Nia dan Deny menatapnya tajam,
"Jangan menatapku seperti itu," ucap Rino terkekeh.
"Aku akan mendekam di penjara besok. Aku pamit pada kalian semua."
Nia, Deny, Dinda, calon suami Dinda dan kedua Mama besan itu terkejut.
"Maksudnya?" Nia terkejut.
"Tidak perlu panik, mungkin hanya satu tahun." Ucap David
"Memangnya apa yang terjadi?"
"Kau tidak perlu tau." Ucap Rino sambil tersenyum.
"Mas, apa yang terjadi setelah aku tidak sadarkan diri?!" Tanya Nia pada Deny.
"Akan ku beri tahu suatu hari nanti ya."
🍀🍀🍀
3 tahun berlalu.
Rino telah bebas dari penjara dan bekerja di Butik pusat milik Mama Nia sebagai Asisten Mama Nia.
Nia dan Deny di karuniai seorang Putri cantik bersama Alisyana yang baru berusia 1 tahun.
"Mas, jadi hari ini?" Tanya Ni pada Deny yang baru selesai mandi.
"Jadi."
***
Deny dan Nia melangkah masuk ke TPU dan menuju makam Lila, Nia menaburkan bunga di atas makamnya dan membaca doa bersama Deny.
"Semoga kau tenang disana." Ucap Nia
"Aku heran padamu, kenapa masih mau baik padanya."
"Dia adalah wanita sama sepertiku, aku yakin yang ia lakukan karena cemburu dan bukan murni dia jahat." Nia tersenyum
'Ddrrrtt ddrrtt'
Nia menerima telfon, mereka melangkah pergi dari TPU.
"Kenapa, Rino?" Tanya Nia
"Alisya ku bawa ke Butik ya,"
"Eh, memangnya Mamaku kemana? Bukannya tadi Mamaku ada dirumahku untuk menjaga Alisya?"
"Dia ikut bersamaku juga kok, hehe."
"Heemmmm kalian. Baiklah."
Nia menutup telfon.
"Mau jalan-jalan?" Tanya Deny
"Boleh."
Deny tersenyum, ia menggenggam tangan Nia dan mencium kening Nia,
__ADS_1