
1 bulan sejak dijatuhkannya talak pada Nia pun berlalu...
Nia yang baru bangun tidur iseng melihat kalender, nafasnya terasa terhenti saat melihat tanggal hari ini. Ia bergegas ke kamar mandi dan melihat CD nya, Nia agak panik karena saat ini dirinya belum menstruasi bahkan sebelum ditalak oleh Deny.
"Nak, belum bangun?" terdengar suara Mama Nia diluar kamarnya.
Nia keluar dari kamar mandi.
"Sudah, Ma. Setelah ini aku turun."
"Baiklah, kita sarapan bersama ya. Mama habis ini mau ke toko bangunan,"
"Iya, Ma."
Setelah itu Nia langsung kembali ke kamar mandi untuk cuci muka dan sikat gigi.
"Mungkin ini efek obat-obatan yang telah masuk dalam tubuhnya yang dilakukan oleh Dokter David," gumamnya.
Nia mengatur nafas dan optimis ia tidak menstruasi karena efek obat saja. Nia pergi ke ruang makan, saat melihat makanan yang tersaji di meja makan seperti menjijikkan.
"Nak, ada apa?" sambil menyentuh tangan Nia yang tak kunjung duduk
Nia menggeleng tersenyum lalu duduk dan mulai mengambil makanan ke piringnya. Nia merasa aneh saat makanan itu dimasukkan dalam mulutnya. Nia tetap memaksa dan menelannya, namun baru saja ditelan makanan itu kembali naik. Nia memuntahkan makanannya di hadapan Mamanya.
"Nia?!" panik.
"Maaf, Ma."
Art membersihkan muntahan Nia. Nia mencoba memakannya lagi, namun ia tetap saja memuntahkannya.
"Kita coba ganti menu, ya"
Nia mengangguk. Beberapa masakan tidak bisa Nia makan, saat memasak mie instan air liur Nia sampai menetes. Alhasil seharian Nia hanya makan mie instan.
Pagi berikutnya Nia tetap tidak bisa makan seperti biasanya, saat baru bangun tidur pun ia langsung muntah-muntah.
1 minggu Nia mengalami hal yang sama. Mama Nia yang khawatir karena Nia hanya mengonsumsi mie instan mengajak Nia ke Dokter namun Nia menolak.
"Kita ke Rumah Sakit, ya. Mama khawatir."
"Tidak mau, di Rumah Sakit bau obat-obatan."
"Kalau begitu Mama panggilkan Dokter saja."
"Tidak, Dokter itu pasti bau obat. Aku baik-baik saja, Ma. Tenang,"
"Tapi tidak baik mengkonsumsi mie instan terus,"
"Nanti aku coba makan masakan lain, ya. Mama jangan cemas."
***
Keesokan paginya, sudah jam 7 Nia belum turun dari kamarnya. Mama Nia masuk ke dalam dan mendapati Nia terbaring lemas.
"Nia?!"
__ADS_1
Nia tersenyum, ia kembali mual.
"Ma, tolong antar aku ke kamar mandi,"
Mama Nia mengangguk dan membantu Nia ke kamar mandi, ia juga memijit leher Nia saat muntah.
"Mama tidak mau tau, kamu harus di periksa!"
Akhirnya Nia mau, mereka menuju Rumah Sakit terdekat.
Mama Nia harap-harap cemas saat Dokter selesai memeriksa Nia, Dokter itu tersenyum.
"Ibu Nia baik-baik saja, Bu."
"Tapi dia selama satu minggu ini hanya makan mie instan campur telur. Pencernaannya baik-baik saja?"
Dokter itu mengangguk dan tersenyum.
"Selamat, Bu. Anak ibu sedang mengandung dengan usia 4 minggu,"
Nia dan Mamanya diam mematung.
"Bu," Dokter menyentuh tangan Mama Nia yang mematung.
"E-Ee Dokter tidak salah ucap kan? Atau saya yang salah dengar?"
"Tidak. Ibu Nia sedang mengandung dengan usia kandungan 4 minggu. Nanti saya tuliskan resep untuk memperkuat kandungannya,"
****
"Kamu coba dulu tespacknya, Mama sudah beli tadi."
Dengan lemas Nia menuju kamar mandi dan mengeceknya menggunakan tes pack, Nia menggigiti jarinya sambil menunggu garisnya muncul.
"Ku mohon jangan hamil," ucapnya pelan.
Nia menutup mulutnya menggunakan tangan, air matanya mengalir membasahi pipi saat melihat 2 garis tergambar jelas di tespacknya.
"Bagaimana bisa?Hiksss,"
Mama Nia terkejut mendengar isak tangis dari kamar mandi.
"Sayang, kenapa?"
Nia keluar dengan berurai air mata, ia menyodorkan tespacknya pada Mamanya.
"Ba-Bagaimana bisa?" Nia dan Mamanya tidak bisa percaya karena mengingat Nia sudah mengalami kecelakaan serta dimasukkan obat-obatan yang membuat imunnya lemah.
"Ma, bagaimana ini?" Nia berjongkok sambil menangis tersedu-sedu.
***
"Nak, kamu disana tidak kenapa-napa kan? Kamu baik-baik saja?" mengelua perutnya yang masih rata.
Nia takut anaknya terlahir tidak sempurna, ia juga merasa miris karena ia hamil disituasi seperti ini.
__ADS_1
"Apa aku gugurkan saja?" terlintas ide buruk.
Nia menggeleng, Nia mengurungkan niatnya karena anaknya pantas hidup.
"Kamu pasti anak kuat, kamu bisa bertahan dari kamu masih dalam perut Mama. Kamu anak kuat, Hiksss.. Anak kuat," Nia tersenyum sambil menyeka air matanya.
Nia kembali bersemangat untuk merebut Deny dari Lila demi anaknya.
"Sekali lagi Mama akan berusaha merebut kembali Papa kamu, demi kamu anakku,"
☘☘☘
Keesokan paginya, Nia terkekeh melihat para karyawannya merengek agar Nia kembali datang ke butik.
"*Bu Nia kapan ih kesininya? Kangeeenn!"
"Iya, nih. Kapan Bu*?"
Nia tersenyum lalu membalas pesan di grup.
"Ini saya mau otw kesana,"
Setelah siap, Nia berpamitan pada Mamanya.
"Jangan lupa susunya diminum ya," sambil menyodorkan sebotol susu untuk ibu hamil.
"Siap!"
Setelah mencium punggung tangan Mamanya, Nia melangkah keluar rumah. Ia terkejut saat membuka pintu sudah ada Deny di depan rumahnya. Deny yang akan mengetuk pintu juga terkejut saat pintu tiba-tiba terbuka.
"Mas,"
"Pagi, Nia."
"Pagi, juga. Ayo masuk dulu," sambil tersenyum ramah.
"Kau mau keluar?" tanya Deny.
"Iya, mau ke butik. Mas Deny ada perlu apa? aku tidak buru-buru, jadi ayo masuk dulu."
"Terima kasih, eeeemm mau ku antar?"
Nia terkesiap.
"E-Eh?"
"Aku kesini mau meminta maaf atas perilaku tempo hari,"
"Oh, aku juga minta maaf karena telah menampar Mas Deny,"
Setelah obrolan singkat akhirnya Nia mau diantar ke butiknya.
"*Ayo Nia semangat! kesempatan ada di depan mata!" batin Nia.
"Aku akan menggunakan cara apapun*!"
__ADS_1