Mekarnya Bunga Layu

Mekarnya Bunga Layu
Berbaikan


__ADS_3

Setelah Deny pergi, Nia meletakkan bantal di atas wajahnya dan menangis.


🍀🍀🍀


2 hari berlalu.


Nia kembali bekerja seperti biasanya. Nia pergi ke gudang untuk mengecek apakah semua kain yang ia pesan sudah lengkap atau tidak.


"Nia," panggil Rino.


"Iya, Mas." Nia lekas menoleh.


"Mas?"


"O-Oh, maaf. Ada apa Rino?"


"Ada customer mau komplen barang, tuh. Dia mau ketemu ownernya langsung."


"Oh, oke. Antar ke ruanganku saja, ya. Sebentar lagi aku kesana."


"Oke,"


Setelah mengatasi customernya, Nia pergi ke dapur untuk mencuci tangan.


"Kenapa tadi?" tanya Rino yang ikut ke dapur membuat susu untuk Nia.


"Ada lubang sedikit, jahitannya tidak rapi."


"Yang mana ya? Kurasa aku sudah mengeceknya dengan benar sebelum di pajang."


"Tidak perlu khawatir, hanya sedikit."


"Aku minta maaf,"


"Tidak apa-apa, namanya juga manusia, kan?"


Rino tersenyum lalu menyodorkan susu untuk Nia.


"Terimakasih," ucap Nia lalu membawa susunya keluar dari dapur menuju ruangannya.


Nia mengaktifkan laptopnya, sambil menunggu laptopnya yang sedang loading, Nia tiba-tiba teringat kecupan Deny di keningnya.


Nia menggeleng. Nia meneguk susunya dan tiba-tiba teringat lagi pada Deny.


"Astagaa!" Nia meremas rambutnya.


"Fokus!" imbuhnya.


Nia menarik nafas dan membuangnya perlahan.


"Oke, fokus!" ucapnya.


'Tok tok tok'


"Masuk," sahut Nia.


"Waktunya makan," ucap Rino sambil membawa sepiring makanan.


"Aku ingin mie," ujar Nia.


"Tidak, kau berlebihan mengkonsumsi Mie Instan dalam bulan ini," tolak Rino sambil meletakkan makanan untuk Nia.


Nia menghela nafas dan menatap Rino dengan tatapan malas.


****


Lila menelan ludahnya sambil memegang obat penggugur kandungan yang sama seperti yang diberikan untuk menggugurkan kandungan Nia saat itu.


Lila mengurungkannya karena efeknya bahaya.


"Tidak, tidak. Aku belum tentu hamil," ucapnya sambil memasukkan kembali obat itu ke box nya.

__ADS_1


Lila menggigiti kuku jari tangannya.


"Nak, keluarlah. Kau belum makan dari kemarin," panggil Ibunya.


"Tidak, aku tidak lapar."


"Nanti kau sakit,"


"Sudah ku katakan aku tidak lapar. Aku mau Deny, hanya itu!"


Lila membaringkan tubuhnya di ranjang dan memeluk gulingnya.


***


Deny datang ke Butik Nia.


"Ada perlu apa?" tanya Rino saat Deny baru masuk.


"Aku ingin bertemu Nia."


"Dia sedang sibuk,"


"Bukannya ini jam istirahat? Jangan membodohiku." Deny memaksa masuk.


"Kau tidak punya etika, kah? Sudah ku katakan Nia sibuk."


"Kau juga tidak punya etika, memanggil atasanmu hanya menggunakan nama saja."


Nia di ruangannya mendengar suara Deny,


"Itu seperti suaranya Mas Deny," gumamnya sambil mengunyah makanannya.


"Tidak, pasti aku salah dengar" lanjutnya.


"Kembalilah setelah Nia tidak sibuk," ucap Rino


"Kau mengusirku?"


"Tidak juga, jika mau tunggulah disini. Tapi jangan masuk ke ruangannya, kau akan menganggu Nia yang sedang makan."


"Itu mas Deny dan Rino!" Nia melangkah dengan cepat dan membuka pintu.


"Kalian,"


Deny dan Rino bersamaan menoleh ke arah Nia.


"Nia," panggil Deny.


Deny melangkah melewati Rino dan menuju Nia.


"Selamat siang," sapa Deny.


"Selamat siang juga, Mas. Ada apa ini ribut-ribut?"


"Ada sedikit masalah dengan bawahanmu itu,"


Nia ber -oh- ria.


"Mas Deny ada perlu?"


"Ada, denganmu."


"Oh, oke. Masuklah ke ruanganku. Rino, tolong buatkan minum, ya."


"Hm, oke."


***


"Kau sedang makan?" tanya Deny sambil duduk di sofa.


"Iya." Nia menutup laptopnya dan meminggirkan piringnya.

__ADS_1


"Dilanjut dulu, aku akan menunggunya sampai selesai."


"Tidak perlu, Mas. Mas Deny ada perlu apa sampai harus kemari?" tanya Nia lalu meneguk susunya.


"Susu apa yang kau konsumsi?" tanya balik Deny.


"Ini susu untuk ibu hamil. Mas Deny kesini hanya untuk bertanya seperti itu?" Nia mengernyitkan dahi.


"Tidak. Aku kesini untuk meminta maaf padamu,"


"Oh. Aku juga minta maaf karena telah berbicara keras pada Mas Deny tempo hari."


Deny tersenyum lemas.


"Dia minta maaf untuk yang tidak seharusnya." batin Deny


Nia tersenyum lalu kembali meneguk susunya.


"Yah, habis." gumamnya pelan.


"Susu ibu hamil merk apa yang kau konsumsi?" tanya Deny.


"Kenapa memangnya?"


"Aku hanya ingin tau."


Nia menjawabnya dengan senyuman.


Tidak lama kemudian Rino datang membawa minum untuk Deny. Mata mereka saling melirik tajam.


"Tolong jangan lama-lama, Nia sibuk." ucap Rino sambil menutup pintu.


Nia terkekeh.


"Maafkan dia, ya. Dia sangat over masalah kesehatanku. Terlebih aku habis sakit, jadi dia semakin seperti ini."


"Iya. Kalian sangat dekat, ya."


Nia hanya tersenyum.


"Dia telah dua kali menyelamatkan nyawaku," ucap Nia di selingi senyum.


Deny yang mendengarnya merasa hatinya di remas-remas.


"Oh, begitu. Baguslah. Maaf, selama ini aku tidak bisa sepertinya."


"Aku juga minta maaf karena tidak bisa menjadi pasangan sebaik Lila." Nia tersenyum kecut.


Mereka berdua sama-sama terdiam,


"Eee silahkan diminum,"


"Terimakasih." sambil menyeruput kopi hangat.


"Jadi, apa aku di maafkan?" tanya Deny.


Nia menghela nafas pelan.


"Kurasa aku maish bisa memaafkan Mas Deny, kita masih bisa jadi teman." sambil tersenyum .


Deny tersenyum .


"Terimakasih," ucap Deny.


"Sama-sama," Nia tersenyum lebar, Deny merasa senyuman Nia sangat berbeda.


"Manis," ucap Deny pelan.


"Apanya? Apa kopinya terlalau manis?"


"Ee tidak, maksudku manisnya pas."

__ADS_1


10 menit berlalu, Deny pamit karena jam istirahatnya sudah habis dan harus kembali ke kantor.


"Sampai jumpa," ucap Deny, Nia hanya mengangguk. Setelah Deny pergi, Nia kembali ke ruangannya dan melanjutkan pekerjaannya.


__ADS_2