
Keesokan paginya Lila datang ke butik Nia,
"Apalagi?" Nia menghela nafas kasar.
"Aku kesini untuk meminta maaf atas perlakuan kasarku semalam."
"Pergilah dari sini," usir Nia.
"Aku sungguh minta maaf padamu," Lila menggenggam tangan Nia dan langsung dihempas oleh Nia.
"Aku melakukan ini untuk membantu Ayahku," ujar Lila sambil berurai mata.
Nia menoleh sekilas.
"Ayahku sakit, kami kekurangan biaya. Usaha Ayahku sedang ada kendala, Ayahku sakit parah. Aku butuh uang lebih, mangkanya aku mempertahankan Deny."
Nia terdiam, hatinya terenyuh mendengar kata 'Ayah'.
"Jika pacarku mengetahui apa yang ku lakukan, aku akan dihabisi tentunya." imbuh Lila, ia duduk di sofa sambil terus menangis.
"Ku mohon, bantulah aku,"
'Tok tok tok'
"Bu, minumnya!"
"Masuk,"
Karyawan Nia masuk sambil membawa 2 gelas minuman panas. Saat akan menuju meja Nia, Lila menyenggol kaki karyawannya sehingga minumannya tumpah mengenai kaki Nia
"Awww!" pekik Nia karena panas.
"Maafkan saya, Bu!"
"Kau tidak apa-apa?" Lila berdiri dan melihat kaki Nia.
"Tidak apa-apa, bawakan minum yang baru"
"Baik, Bu. Sekali lagi maaf,"
Nia mengangguk.
"Aku ke kamar mandi dulu," Nia lupa membawa Hp nya.
"Iya, apa perlu ku bantu?"
Nia menggeleng. Setelah Nia pergi ke kamar mandi, Lila melancarkan aksinya. Dia tersenyum karena Hp Nia belum terkunci lagi, ia langsung masuk ke galeri dan menghapus foto bukti.
"Apa sakit?" tanya Lila saat Nia kembali dari kamar mandi.
"Lumayan." Nia duduk di meja kerjanya lagi,
"Aku akan melakukan apapun agar kau bisa memaafkanku," ucap Lila.
Nia diam sejenak.
"Tinggalkan Mas Deny,"
"Apa maksudmu?"
"Jika kau tidak ingin di permalukan, lepaskan Mas Deny. Aku akan membantu keuanganmu walau sedikit."
__ADS_1
Lila terdiam.
"Ya kalau kau tidak mau sih, jangan salahkan aku jika foto kemarin ku serahkan pada Mas Deny,"
"Oke oke! Aku mengaku kalah," menghela nafas kasar
"Bagus!" Nia merasa lega
"Tolong, nanti malam datanglah ke rumah Deny untuk makan malam. Di depanmu, aku akan meninggalkan Deny,"
"Apa kau akan menepatinya?" Nia curiga.
"Iya, akan ku tepati. Datanglah nanti jam 8 malam, huuffttt kau juga akan menepati apa yang kau katakan tadi kan?"
Nia mengangguk,
"100 jt," ucap Nia.
"Wah! Benatkah?"
Nia mengangguk lagi.
"Baiklah, kalau begitu sampai berjumpa lagi di rumah Deny nanti. Dandan yang cantik ya,"
Nia tersenyum tipis.
"Aku pamit, aku ada janji dengan David."
"Baiklah, sampai jumpa."
☘☘☘
"Kenapa hanya sendirian?" tanya Lila.
"Temanku sedang ada urusan,"
"Ooooh, baiklah. Mamanya Deny dan Deny sudah menunggumu."
Nia mengangguk dan tersenyum.
"Nia!" Mama Deny terlihat senang, ia berdiri dan mengahampiri Nia.
"Ma,"
"Kenapa tidak bilang sama Mama kalau kamu akan kesini?"
"Kejutan, hihi" Mama Deny langsung memeluk dan mencium pipi Nia.
Lila menghela nafas berat melihatnya.
Makan malam berjalan dengan lancar, Nia memberi kode pada Lila untuk mengatakan apa yang telah mereka sepakati tadi pagi.
"Ehem, sebelumnya aku ucapkan terimakasih karena Nia telah mau datang ke acara makan malam kita malam ini,"
Nia tersenyum, jantungnya berdegup kencang. Ia tidak sabar mendengat ucapan Lila yang akan melepaskan Deny.
"Aku mengundang Nia malam ini dalam rangka akan menyampaikan pengumuman secara langsung, bahwa.... Aku dan Deny... Akan melangsungkan pertunangan dalam waktu dekat."
Senyum Nia memudar, wajahnya pucat pasi. Mama Deny yang kesal tidak berkata apa-apa dan meninggalkan ruang makan.
"Ma.." panggil Deny, namun tidak dihiraukan olehnya.
__ADS_1
"Lila, apa yang kau katakan?"
"Apa kurang jelas?" Lila balik bertanya.
"Nia, kami akan melangsungkan pertunangan dalam waktu dekat." ucap Deny lembut.
"Mas, bisa-bisanya."
"Semoga kau bisa hadir ya," timpal Lila sambil tersenyum.
Nia mengepalkan tangannya, ia berdiri.
"Mas, Lila itu punya pacar! Namanya David!" mata Nia berkaca-kaca
"Kau sudah di bohongi oleh wanita ini, Ma!"
Deny menatap Lila.
"Lila, apa maksudnya ini?"
Lila ikut berdiri.
"Tidak! Diaa berbohong, Mas. David? Siapa itu David? Aku tidak tau."
Nia emosi. Ia mengambil Hp dan membuka galeri, dicarinya foto David dan Lila. Nia terkejut karena foto itu sudah tidak ada di Hp nya.
"Nia," panggil Deny
"Mas, aku tidak berbohong. Lila sudah punya pacar lain, Mas!"
"Apa maksud dari semua perkataanmu? Apa kau masih sakit hati atas kenyataan bahwa aku mencintai Lila?"
Nia menggeleng sambil menyeka air matanya.
"Mas Deny, tolong percayalah padaku, Mas. Aku tidak berbohong. Aku ada buktinya, tapi sekarang bukti itu hilang!,"
"Nia, setega itukah dirimu?" dengan nada lemah
"Diam! Kau pasti telah menghapusnya saat aku ke kamar mandi tadi kan?!"
"Mas, dia semakin melantur," Lila menggandeng tangan Deny
"Nia, aku fikir kau perempuan yang baik, aku selalu merasa bersalah telah menjatuhkan talak padamu, tapi? Kau ternyata seperti ini,"
"Mas! Aku tidak berbohong!"
"Munafik!! Aku sangat kecewa padamu, aku tidak menyesal telah melepas perempuan seperti dirimu! Jangan halangi hubungan kami!"
"Mas Deny! Buka matamu!"
"Pergi dari sini! Aku merasa jijik telah pernah menikahimu!"
Nia terdiam, ia mengangguk pelan sambil meraih tas nya.
"Baik, Aku pergi. Terimakasih makan malam dan sakitnya," Nia menghapus air matanya dan melangkah pergi dari rumah Deny.
"Sayang, dia kenapa seperti itu?"
"Tidak apa-apa, tenanglah."
"Huufttt untungnya aku menyuruh Ibu-ibu itu untuk bergosip di butiknya, haha. Mau di cari si sosmedku maupun di sosmed Deny juga tidak akan ketemu, Semuanya berjalan lancar." batin Lila.
__ADS_1