Mekarnya Bunga Layu

Mekarnya Bunga Layu
Penggugur Kandungan


__ADS_3

Keesokan paginya, pukul 06:00.


Lila pergi ke rumah Rino. Rino yang baru selesai mandi melihat siapa yang sedang mengetuk pintu rumahnya di pagi hari seperti ini.


Rino membuka pintu dan mendapati Lila yang datang, ia masuk ke dalam rumah Rino lalu duduk.


"Ada apa?" tanya Rino.


"Ada tugas baru untukmu," jawab Lila dengan wajah datar.


"Tugas baru?"


"Iya."


Lila mengeluarkan sebuah clip plastik kecil berisikan pil kapsul. Rino sedikit bingung.


"Obat?" tanyanya.


"Iya. Ini tugas baru untukmu. Kau harus membuat Nia meminumnya."


"Apa dia tau aku bekerja di Butik Nia?" batin Rino


"Pintar-pintarlah menyamar menjadi customer atau apapun, yang penting Nia mengkonsumsi ini." lanjut Lila.


"Obat apa ini?" Rino mengambil pil kapsul itu dari tangan Lila.


"Hanya penguat kandungan agar bayinya selamat sampai di peristirahatan terakhir." sambil menyunggingkan bibirnya.


"Maksudnya? Penggugur kandungan?"


Lila terkekeh.


"Pelankan suaramu itu, kenapa kau terkejut, ha? Membunuh orang pun kau biasa saja, kenapa harus terkejut saat ada tugas semudah ini?" Lila menahan tawa.


"Apa mentalmu sudah down?" lanjutnya.


Rino hanya diam tidak menjawab.


"Ini," Lila meletakkan uang cash di meja.


"30 juta, untuk tugas semudah ini bukankah ini bayaran yang sangat menguntungkan dirimu? Ambil ini,"


Rino menelan ludah melihat uang sebanyak itu.


"Oke hanya itu saja tugasmu saat ini. Jika kau berhasil membuat Nia mampus juga, akan ada tambahan. Aku pergi dulu, selamat bekerja." ucap Lila yang berlalu pergi dari rumah Rino.


Rino mulai dilema.


****


"Bu Nia kami pulang dulu,"


"Iya hati-hati." Nia tersenyum pada tiga karyawan perempuannya.


Nia mendapat telfon.


"Hari ini?:

__ADS_1


"Iya kak, kainnya sudah dikirim tadi pagi. Estimasi sampai nanti malam,"


"Ohhh baiklah, aku akan menunggunya."


"Baik, kak. Terimakasih."


Setelah mengakhiri telfon, Nia menuju dapur untuk mengambil minum.


"Ini hanya akan membunuh bayinya kan? Bukan keduany, kan?" gumam Rino.


"Belum pulang?" tanya Nia pada Rino yang sedang menuangkan air.


Rino sedikit terkejut dan mencoba tetap tenang.


"Aku akan mengantarmu pulang nanti," ucap Rino.


"Wah kebetulan sekali hehe. Kainnya akan datang malam ini, nanti tolong bantu aku mengangkatnya ke gudang ya."


"Oke."


Nia melangkah untuk mengambil gelas, Rino buru-buru memasukkan pil nya ke dalam saku kemejanya.


"Mau buat susu?"


Nia menggeleng.


"Aku bosan. Mau minum air putih saja."


Nia berjongkong dan neneguk air di gelasnya.


"Wah banyak, ya." ucap Nia saat melihat kain pesanannya sampai setinggi dirinya.


Rino membantu mengangkat kain pesanan Nia dengan kurirnya.


"Tolong dibawa ke gudang ya, Pak."


"Siap mbak!".


Saat paket kain Nia yang terakhir, Nia meminta agar kurirnya cukup disini membantunya.


"Kenapa?" tanya Rino.


"Aku penasaran dengan beratnya." Nia mencoba mengangkatnya namun ternyata agak berat.


Rino mengangkatnya juga. Saat akan sampai di gudang, pinggang Nia sakit lagi. Ia refleks menjatuhkan paket kainnya.


"Maaf," ucap Nia sambil memegangi pinggangnya.


"Biar aku saja," ucap Rino.


"Ssshh" desis Rino pelan saat pinggangnya mengenai gagang pintu gudang.


Nia yang melihat langsung menghampiri Rino.


"Kemejamu robek," ucap Nia.


"Tidak apa-apa," Rino meletakkan paket kainnya.

__ADS_1


"Lepas kemejamu, biar aku jahit."


"Tidak perlu repot-repot. Ini bukan masalah besar,"


"Jangan menolak. Sini,"


Rino membuka kemejanya dan kaos tipisnya tidak ikut robek.


"Apa pinggangmu baik-baik saja?" tanya Nia.


Rino mengangguk padahal terasa ngilu di bagian yang terkena gagang pintu tadi.


"Jangan berbohong, raut wajahmu mengatakan kau tidak baik-baik saja?"


"Balik badan," Rino memunggungi Nia.


"Coba angkat kaosnya sedikit,"


Rino menurutinya.


"Ya ampun, terbenturnya sangat keras, ya? Sampai timbul warna keunguan."


"Tidak apa-apa, ini tidak sakit."


"Nanti beli salep ya," ucap Nia.


"Tidak perlu, ini akan hilang dengan sendirinya."


Nia menghela nafas.


"Jangan menolak. Aku akan menjahit kemejamu dulu." Nia menuju ruang produksi di sebelah gudang. Ia menyalakan lampu dan mulai menjahit bagian robek kemeja Rino.


Setelah selesai menjahitnya, Nia akan mengibaskan kemeja Rino namun disaat bersamaan kapsul dari Lila jatuh dari saku Kemejanya.


"Eh? Kapsul? Dia sakit apa?" gumam Nia lalu mengambil kapsul yang jatuh ke lantai itu.


"Jadi tidak bersih lagi deh kapsulnya." Nia merasa bersalah.


"Ya sudah nanti aku ganti saja," lanjutnya dan mematikan lampu lalu keluar dari ruangan.


"Ini," menyodorkan kemeja Rino.


"Terimakasih," ucap Rino.


"Maaf, tadi pil kapsulmu tidak sengaja jatuh ke lantai. Karena tidak ada bungkusnya, pasti itu tidak bersih lagi. Aku ganti saja ya," ucap Nia.


Rino terkejut, ia mengecek apakah kapsulnya masih ada.


"Itu masih ku letakkan di tempat semula," ucap Nia.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Rino sedikit cemas.


"Tentu," sambil tersenyum.


"Nanti mampir ke Apotek dulu untuk membeli pil mu itu dan juga salepnya."


Nia pergi mengunci pintu gudang. Melihat kebaikan Nia, sekali lagi Rino merasa bersalah karena sudah tergiur pada uang yang diberikan oleh Lila.

__ADS_1


__ADS_2