
☘☘☘
23:00
Deny tidak bisa tidur lagi, ia pergi ke kamar mandi lalu mencuci muka. Setelah kembali dari kamar mandi ia kembali mengecek nomer Nia, nomernya masih di blokir oleh Nia.
Deny merasa hatinya seperti di gelitik. Ia dikejutkan Lila yang menelfonnya.
"Sayang, belum tidur?"
"Belum. Kamu kenapa online? Sibuk?"
"Aku tidak bisa tidur."
"Kenapa? Ada masalah?"
"Aku juga tidak tau kenapa."
"Sayang, bisakah kau mengabulkan permintaanku kali ini saja,"
"Apa itu?"
"Kita menikah siri besok lusa."
Deny terkekeh.
"Mana bisa seperti itu. Aku juga sudah bilang kita menikahnya setelah masa iddah Nia selesai."
"Untuk apa menunggu masa iddahnya selesai? Kau mau kembali padanya, hah?"
Deny tidak menjawab.
"Sayang! Jawab."
"Aku tidak tau, aku mau tidur. Selamat malam, kau tidurlah juga." Deny langsung mengakhiri telfonnya dan menonakkan HP nya.
Deny memejamkan matanya, saat ia membuka mata terlintas ingatan Nia yang tersenyum padanya saat bangun tidur. Deny mengelus bantal yang biasa digunakan Nia, air matanya menetes tanpa ia sadari.
"Nia," lirihnya.
***
Disisi lain Nia sedang memandangi pantulan dirinya di cermin, matanya berkaca-kaca.
"Ayo, Nia! Move on!"
__ADS_1
***
Lila melempar Hp nya ke ranjang karena kesal pada respon Deny, terlebih melihat akun Isntagram David yang tak kunjung aktif.
"Aaarghh! David akan kembali dalam waktu 4 hari!"
"Aku harus menyingkirkan Nia segera sebelum Deny kembali berubah pikiran,"
***
Keesokan paginya Nia pergi ke Butik dan seperti biasa disambut hangat oleh para karyawannya.
"Aku jadi ingin merenovasi ruangan ini, deh." gumamnya karena mengingat di ruangan inilah Nia dan Lila bertemu untuk pertama kaliya.
Nafasnya terasa berat saat mengingat Lila yang menampar dirinya di ruangan ini, terlebih ia mengetahui dirinya adalah orang ketiga. Nia yang merasa sesak langsung keluar dari ruangannya dan melihat baju-baju yang ada di butiknya.
Nia melihat ada baju yang tidak tersurun rapi, Nia yang mendorongnya agar lebih rapi, bersamaan dengan itu ada tangan besar yang menarik baju tersebut. Mereka spontan saling menoleh dan tersenyuk kikuk.
"Eh, maaf!" ucap Nia.
"Ah iya maaf juga,"
"Silahkan,"
"Ee ambil mbaknya saja kalau suka sama yang ini,"
"Saya yang punya," ucapnya santai
"Oh, maaf kak!" laki-laki itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Iya tidak apa-apa, silahkan diambil. Untuk motif lainnya ada di lantai atas,"
"Oke terimakasih kak,"
Nia sekilas menoleh ke arah luar, ia terkejut melihat Deny yang sedang menatapnya. Nia mengalikan pandangannya dan menganggap seakan-akan ia tidak melihat Deny barusan.
"Saya duluan," pamit Nia.
"Baik kak,"
***
Malam harinya.
"Halo, bagaimana?"
__ADS_1
"Lancar, Bu. Sesuai rencana."
"Ada tunanganku kan disana?"
"Ada, Bu. Tunangan Bu Lila melihat semuanya."
"Oke, bagaimana rekasi Nia?"
"Dia tidak menyadarinya, Bu."
"Bagus. Secepatnya langsung ke inti. Dalam waktu 3 hari!"
"Baik, Bu."
Lila mengakhiri telfon, ia duduk di sofa sambil menikmati susu hangatnya.
"Maaf, Nia. Aku tidak akan membiarkanmu menghalangi rencanaku."
"Aku melakukan ini karena kau masuk terlalu jauh dalam permainan ini,"
***
Dirumah Deny, di ruang makan.
"Sayang, kenapa tidak dimakan?" tanya Mama Deny.
Deny hanya tersenyum malas, ia menyendok makanan ke mulutnya. Rasanya hambar bagi Deny.
"Apa makanannya tidak enak?" tanya Mama Deny lagi.
"Enak, kok. Seperti biasanya."
"Baguslah. Oh iya, tempo hari kenapa bertanya Nia pada Mama?"
"Ooo itu,"
"Iya. Memangnya ada urusan?"
"Eee tidak ada sih."
"Benar juga, untuk apa aku mencarinya?" batin Deny
"Apa kau berubah pikiran dan ingin kembali padanya?"
"Uhuukkk!" Deny tersedak.
__ADS_1
"Mama ini bicara apa? Deny kan sudah mau menikah dengan Lila."
"Oh," sekarang berganti Mama Deny yang tidak menikmati makanannya.