
Dengan berurai air mata Deny bergegas menuju rumah Nia setelah David mengatakan semua. Selama di perjalanan ia terus menyalahkan dirinya sendiri.
Deny menekan bel pintu rumah Nia kemudian tidak lama keluarlah Mama Nia.
"Ada apa, Deny? Kenapa menangis?" tanya Mama Nia.
"Ayo masuk dulu,"
Deny menyeka air matanya, Mama Nia datang membawa segelas air putih.
"Tenang dulu," ucap Mama Nia
"Ini, diminum dulu." Deny mengangguk. Ia meneguk gelas berisi air tersebut dengan air mata yang masih mengalir.
Mama Nia beranjak dari sofa dan kembali membawa tisu lalu menyodorkannya pada Deny.
"Tenang dulu, habiskan airnya."
Deny meneguk habis gelas berisi air tersebut. Setelah beberapa saat Deny sudah tenang namun matanya masih basah dan merah.
"Sudah tenang?" tanya Mama Nia, Deny mengangguk.
"Mau minum lagi?" tawar Mama Nia, Deny menggeleng.
"Ada apa? Kenapa menangis sampai seperti ini?"
Deny menyeka air matanya lagi.
"Aku ingin bertemu Nia, apa ada?" dengan suara bergetar dan menahan tangis.
"Ada. Nia sedang sakit."
"Aku ingin menemuinya,"
"Tapi dia sedang tidur,"
"Aku akan menunggunya!"
Mama Nia kebingungan.
"Apa Nia membuat kesalahan lagi?" Mama Nia agak cemas, takut Nia melakukan kesalahan lagi yang membuat Deny seperti ini.
Deny menggeleng.
"Aku ingin bertemu dengannya dan berbicara padanya,"
"Ooh, tunggu sebentar. Tante lihat dulu ke kamarnya,"
Deny mengangguk.
'Ceklek'
Nia tersenyum saat Mamanya membuka pintu.
"Mama kira belum bangun."
__ADS_1
"Sudah, Ma. Aku merasa agak baikan,"
"Syukurlah,"
Mama Nia kembali menemui Deny.
"Nia sudah bangun." ucap Mama Nia.
Deny dengan tenang melangkah menuju kamar Nia di ikuti Mama Nia. Deny melirik tajam Rino yang sedang berada di dekat pintu kamar Nia.
Rino merentangkan tangan kanannya di pintu kamar Nia menahan Deny yang akan masuk ke dalam.
"Mau apa?" tanya Rino.
"Bukan urusanmu,"
"Rino, biarkan dia masuk. Dia mantan suaminya Nia," ucap Mama Nia.
Rino mengangguk dan membarkan Deny membuka pintu kamar Nia, Mama Nia tidak ikut masuk untuk memberikan ruang privasi pada keduanya.
'Ceklek'
"Ma," panggil Nia saat melihat pintu kamarnya terbuka.
"Nia!" panggil Deny.
Nia terkejut bukan main saat yang masuk adalah Deny. Dengan langkah cepat Deny mendekat pada Nia yang terbaring di ranjang.
"Mas," dengan suara pelan
Deny berlutut di samping ranjang Nia dan langsung mencium kening Nia yang terasa sangat panas. Nia sontak terkejut dan mendorong tubuh Deny dengan sisa kekuatannya yang tidak seberapa.
Deny menghiraukannya, ia menahan kedua tangan Nia dan langsung memeluk Nia yang masih terbaring. Mata Nia berkaca-kaca, ia berontak.
"Aku sedang sakit, apa yang kau lakukan?!"
"Aku minta maaf," ucap Deny lalu melepas pelukannya. Deny kembali mencium kening Nia.
"Apa maksudmu?" Nia menyeka air mata.
"Tidak sopan main peluk" lanjutnya.
"Maaf,"
Nia menyeka air mata, ia memposisikan dirinya duduk dan bersandar pada bantal.
"Aku kesini untuk menemuimu, aku minta maaf atas semua yang terjadi." ucap Deny dengan matanya yang kembali mengeluarkan air mata.
"Apa maksudmu? Maaf untuk apa? Aku tidak mengerti?"
"David sudah mengatakan semua padaku?"
"David? Dokter David?"
"Iya," Deny menyeka air matanya.
__ADS_1
Jantung Nia berdebar.
"Apa yang dia katakan? Aku tidak mengerti." Nia menghela nafas berat.
"Nia, aku minta maaf atas apa yang telah ku lakukan semua. Dia mengatakan semuanya termasuk kehamilanmu."
"..." Nia tidak menjawab, ia membuang muka.
"Kenapa kau tidak mengatakan padaku, Nia?"
"Anggap saja yang dikatakan Dokter David hanya kebohongan, Mas. Tidak ada yang penting. Mas Deny pulanglah." Nia menyeka air matanya.
"Nia," Deny menarik wajah Nia agar mengahadap padanya. Nia langsung menepis tangan Deny.
"Mas, kamu sangat tidak sopan. Pulanglah."
Deny menghela nafas,
"Aku ingin menyentuh bayi kita yang masih ada di kandunganmu."
"Tidak ada, pergilah."
"Nia, aku tau aku salah. Tapi ku mohon beri aku satu kesempatan lagi."
"Pergilah Mas!"
"Nia?"
"Pergi!"
"Nia, apa kau tidak memaafkanku?"
"Rino!" panggil Nia.
Rino masuk ke kamar setelah dipanggil Nia.
"Tolong antar mas Deny keluar,"
"Oke."
Rino melangkah dan berdiri di hadapan Deny.
"Ayp keluar,"
Deny menyeka air matanya,
"Baiklah, sesuai keinginanmu. Aku pergi, kuharap pintu maafmu masih bisa terbuka untukmu." Deny berdiri dan keluar dari kamar Nia.
"Deny," panggil Mama Nia.
Deny menoleh dan tersenyum.
"Aku pamit pulang, terimakasih telah mengizinkan aku bertemu dengan Nia."
Mama Nia tersenyum.
__ADS_1
"Maaf jika Nia kasar."
Deny berpamitan pulang pada Mama Nia,