
🍀🍀🍀
Lila mulai panik saat melihat tanggal di kalender Hp nya.
"Duh, kenapa masih belum datang bulan, ya?" Lila menggigiti kuku jari tangannya.
"Harusnya aku sudah datang bulan dari 3 hari yang lalu," lanjutnya.
Lila merasa tidak tenang, ia takut dirinya hamil
"Apa ada penyakit dalam tubuhku? Atau aku hamil?"
"Bagaimana kalau aku hamil?"
Lila bersiap-siap dan bergegas pergi membeli tespack.
"Tespack yang bagus yang mana?" tanya Lila pada kasirnya.
"Yang ini, kak. Hasilnya pasti akurat."
"Oke, ambil satu."
Lila segera menyelesaikan pembayaran dan pulang. Sesampainya di rumah ia langsung menuju kamar mandi dan mencoba tespacknya.
Dengan hati berdebar Lila menunggu hasilnya keluar, perlahan keluar warna 1 garis di tespacknya.
"Kumohon, negatif lah. Negatif, negatif." Lila memejamkan mata saat warna itu semakin jelas.
Lila membuka matanya perlahan, ia dibuat lemas dengan melihat dua garis di tespack yang ia pegang.
"Posfitif," lirihnya.
Lila menjatuhkan tespacknya, ia memegangi dahinya, buliran bening air mata mengalir di pipi Lia.
"David, kau harus bertanggung jawab."
Lila menyeka air matanya. Ia keluar dari kamar mandi pergi menuju Rumah Sakit tempat David bekerja.
Selama di perjalanan air mata Lila terus mengalir. Sesampainya di Rumah Sakit ia langsung memarkirkan mobil dan masuk ke dalam.
'Tok tok tok'
__ADS_1
'Tok tok tok'
Ketukan pintu itu semakin kencang
"Masuk," sahut David yang sedang merapikan rambutnya.
'Ceklek'
"David!" panggil Lila dengan nafas yang tidak beraturan.
"Lila," David mengernyitkan dahi.
"Kau tidak punya janji denganku sebelumnya," lanjut David.
"Persetan dengan itu. Kau harus bertanggung jawab."
"Duduklah dulu, kenapa harus marah-marah di sore hari seperti ini?"
Lila mengepalkan tangan, ia melangkah mendekat ke meja kerja David.
"Kau harus bertanggung jawab!"
"Brak!" Lila menggebrak meja kerja David dan membuat air minum David tumpah.
"Diam! Jangan mengalihkan pembicaraan."
"Oh," dengan santai.
"David, kau harus bertanggung jawab atas anak dalam kandunganku!"
"Oh? Kau hamil?!" David terkekeh.
Lila semakin jengkel pada David.
"David! Ini tidak lucu!"
"Oh ya? Dulu dirimu main dengan pria lain pakai kon*dom ya? Beda dengan yang baru ini."
"Kau keterlaluan David!"
Tawa David memudar, raut wajahnya berubah menjadi datar dan dingin. David berdiri dan memegang dagu Lila.
__ADS_1
"Disini siapa yang lebih keterlaluan?" tanya David dengan penuh penekanan di setiap katanya.
Lila berusaha menepis tangan David namun tidak bisa.
"Jawab. Siapa yang lebih keterlaluan?!"
"Kau iblis, David."
"Lalu kau siapa? Ratunya?" David melepas dagu Lila dengan keras.
"Pergilah, aku sibuk." ucap David sambil duduk di kursinya.
"Tidak bisa! Kau harus bertanggung jawab atas anak ini."
"Aku tidak mau, itu bukan anakku." balas David dengan santai.
Lila geram.
"Kau yang menyuruh preman sialan itu untuk memperko*saku! Kau harus bertanggung jawab jika kau laki-laki."
"Kau juga menikmatinya, kan? Yang jelas aku tidak mau."
"Oh! Aku punya saran, ku jodohkan saja kau dengan Preman itu. Dia masih punya istri sih, tapi kau bisa jadi istri keduanya."
"Kau tidak punya otak, ya?! Aku tidak mau!"
"Ya sudah, carilah laki-laki lain yang mau menjadi Ayah dari anakmu itu. Kau kan punya banyak uang, kau mampu membayar pembunuh bayaran, apa iya kau tidak mampu membayar laki-laki untuk menjadi Suamimu?"
"Aku tidak main-main!"
"Apa saranku terlihat main-main?" tanya David.
Lila menitikkan air mata namun David tidak merasa kasihan sama sekali.
"Harusnya kau memikirkan resiko atas apa yang kau lakukan itu, Lila. Kalau sudah begini mau bagaimana lagi?" David bersandar di kursinya.
"Kenapa kau seolah-olah tidak bersalah? Jika kau tidak melakukan itu, aku tidak mungkin hamil anak haram ini."
"Bagaimana ya? Aku hanya memberimu sedikit hukuman," sambil terkekeh.
"Aku membencimu," ucap Lila dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Aku tidak peduli lagi, mau dirimu membenciku atau lainnya, aku tidak peduli." ucap David
Akhirnya Lila pulang dengan kekecewaan. Ia menangis tersedu-sedu hingga menjadi pusat perhatian pengunjung lainnya di Rumah Sakit itu.