
🍀🍀🍀
Malam berikutnya Deny pergi ke Butik Nia dan mendapati Nia baru akan pulang juga, mereka bertegur sapa lalu pulang masing-masing. Hal itu berlanjut sampai 3 hari berturut-turut.
Hari ke-4, Deny datang lagi saat matahari baru terbenam.
"Mau pulang bersama?" tawar Deny.
"Terimakasih, tapi aku sudah bawa mobil sendiri kok. Aku juga mau ke Butik pusat untuk melihat-lihat."
"Oooh, begitu."
Hari ke-5.
Deny yang baru pulang bekerja pergi ke butik Nia lagi.
"Kali ini mau pulang bersama?" tawarnya lagi.
"Tidak!" Rino membukakan pintu mobil Nia.
"Aku tidak menawarimu."
"Nia harus pulang denganku, kau tidak bisa melindunginya."
"Rino," Nia menegur Rino pelan.
"Masuklah ke mobil,"
Nia masuk ke mobilnya.
"Aku tidak mau Nia kenapa-napa lagi," ucap Rino saat lewat di depan Deny.
"Aku duluan, Mas." ucap Nia sambil tersenyum, Deny tersenyum juga.
***
Keesokan harinya, Nia yang akan berangkat dikejutkan dengan kehadiran Deny di ruang tamu bersama Mamanya.
"Mas," sapa Nia
"Pagi,"
Nia tersenyum.
"Ini Deny bawa kue manis kesukaanmu," Mama Nia menyodorkan sekotak kue pada Nia.
"Terimakasih, aku bisa gemuk dalam sekejap kalau makan manis terus," Nia terkekeh
"Aku membawakan itu untukmu dan juga anak kita,"
Nia tertegun mendengarnya.
"Aku berangkat dulu, ya."
Nia mencium punggung tangan Mamanya dan melambaikan tangan pada Mamanya dan juga Deny.
"Mungkin sedang buru-buru," ucap Mama Nia.
"Bisa jadi."
Sepulangnya dari rumah Nia, Deny masih terus mengingat perkataan Rino.
"Nia harus pulang denganku, kau tidak bisa melindunginya."
Deny menghela nafas.
"Dia benar, aku memang tidak bisa melindunginya selama ini. Tapi aku ingin bisa memperbaiki semua."
Disisi Lain Nia sengaja menghindari Deny walaupun ia memaafkan Deny, ia melakukan hal itu agar Lila tidak melukainya lagi.
***
"Halo, Nia!"
"Iya, Din. Kenapa?" Nia menutup laptopnya.
"Kapan libur kerja?"
"Besok lusa. Kenapa?"
"Ke pantai, yuk!"
__ADS_1
"Berdua atau bagaimana?"
"Berdua saja. Sudah lama tidak keluar bersama."
"Masa? Bukannya baru beberapa minggu lalu kita keluar bersama ya?"
"Dih kan! Pokoknya mau, ya? Please."
"Hihi. Oke, jam berapa?"
"Jam 8 pagi, biar kita bisa agak lama."
"Baiklah. Besok lusa ya?"
"Iya, pakai mobilku saja."
"Oke."
Bersamaan dengan obrolan Nia dan Dina berakhir, Rino masuk ke ruangan Nia.
"Kenapa?" tanya Rino saat melihat Nia senyum-senyum.
"Itu Dinda, dia bilang kami tidak keluar bersama sudah lama, padahal baru beberapa minggu."
"Oh, begitu. Lalu?"
"Kami akan ke pantai besok lusa."
"Berdua saja?" Rino meletakkan susu untuk Nia.
"Iya berdua."
"Aku ikut,"
"Eh?"
"Aku akan ikut," Rino melangkah keluar ruangan.
***
Dinda berkacak pinggang menatap Nia dan Rino yang sedang menunggu di depan rumah Nia.
"Apa ini?" tanya Dinda
"Ini, si Rino kenapa disini?"
"Dia ikut, boleh?"
Dinda menepuk jidatnya pelan.
"Oke lah, nanti tolong bawakan bekal kita."
"Oke," sahut Rino
"Bekal?"
"Iya, aku takut dirimu hanya makan mie lagi nanti disana."
****
"Waaaah, anginnya kencang sekali pagi ini," ucap Dinda yang baru turun dari mobil.
"Iya."
"Rino, tolong ya bawakan bekal kita di bagasi." ucap Dinda.
"Oke,"
"Ayo kesana," Dinda menarik tangan Nia menuju pasir di bibir pantai.
Seperti anak kecil, Dina mengeruk pasir basah dan menyusunnya, Rino datang menyusul.
"Mana gelas plastiknya!" pinta Dinda pada Rino
Rino menyerahkan gelas plastik dan baskom pada Dinda.
"Mau apa?" tanya Nia.
"Main dong!" Dinda mengeruk pasir basah dan memasukkannya pada baskom, setelah di tekan, ia menumpahkannya di atas pasir. Ia melakukan berulang kali sebagai pondasinya.
Nia tertawa lepas melihat tingkah Dinda, Rino yang melihat tawa lepas Nia merasa terhipnotis.
__ADS_1
"Cantik," batin Rino
"Mantan suamimu sangat bodoh, ya." lanjutanya.
"Ooyy Rino!" panggil Dinda.
"Aku?"
"Bukan, kucing tuh. Mana sendoknya," pinta Dinda.
Rino menyerahkan sendoknya pada Dinda.
"Nia, ukir yang sana ya. Aku yang bagian sini." sambil menyodorkan satu sendok untuk Nia.
Nia sambil terus tersenyum menuruti permintaan Dinda, ia berjongkok sambil mengukir tumpukan pasir yang menurut Dinda itu adalah istana.
"Aku lupa tidak bawa corong," ucap Dinda.
"Untuk?"
"Itu kan kalau istana ada atap segitiganya. Aku lupa bawa,"
Rino mendekat pada mereka berdua.
"Pakai tangan saja," ucap Rino.
"Tidak rapi nanti bentuknya."
"Bisa,"
Rino mengeruk sedikit pasir basah dan menumpuknya diatas, ia menekannya perlahan kemudian mengikisnya menggunakan sendok.
"Jadi kan?"
"Tapi penyok," ledek Nia sambil tertawa pelan.
"Setidaknya ini sudah segitiga." bela Rino.
"Iya-iya."
"Aku akan coba," Dinda melakukan hal yang sama di bagian atap lainnya namun bentuknya lebih jelek daripada milik Rino. Melihat hasil kerja Dinda membuat Nia tertawa lagi, ia sampai memegangi perutnya dan menitikkan air mata dari sudut matanya.
"Jangan mengejek ya, pasti punyamu nanti jelek juga." ucap Dinda sambil menjulurkan lidah.
Nia perlahan berhenti tertawa.
"Oke, akan ku buktikan punyaku akan jadi yang lebih bagus." ucap Nia dengan penuh percaya diri.
Dinda menahan tawa karena pasir yang ditekan Nia tidak kunjung padat dan terus longsor.
"Ini adalah proses menuju puncak, wajar." bela Nia.
Nia mengulanginya lagi, merasa pasirnya kurang ia mengeruk pasir basah lagi dan tanpa sengaja sikunya menyikut bagian gedung yang dibangun Nia tadi.
"Bhahahhahaha! Hancur gak tuh?!" Tawa Dinda meledak melihat Nia menyenggol bagian gedungnya.
"Atapnya tidak jadi, malah ambruk,"
Rino tertawa pelan.
"Sangat tidak adil," ucap Nia sambil menggembungkan pipi.
Dinda semakin tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi kesal Nia.
***
Mereka bertiga duduk sambil menikmati makanan yang dibawa Dinda setelah menyelesaikan istana pasir yang tidak berdiri tegak.
Rino merasakan jantungnya berdetak dua kali lipat saat melihat Nia menyantap kue yang dibawa Dinda.
"Makanlah," ucap Dinda
Rino sedikit terkejut, ia juga mengambil potongan kue yang dibawa Dinda.
"Enak?" tanya Dinda.
"Kurang manis," kata Nia sambil menyantapnya.
"Enak, terlalu menis."
"Yang benar yang mana ya?" Dinda melahapnya juga.
__ADS_1
"Ini manisnya pas, lidah kalian berdua yang tidak normal." ucap Dinda sambil menjulurkan lidah mengejek Nia dan Rino