
Hari pertunangan Deny dan Lila telah tiba, Nia merias wajahnya secantik mungkin, ia menggunakan dress dengan bagian bahu terbuka. Nia membuang nafas perlahan dan mengatur nafasnya, setelah dirasa siap ia pun segera menuju kediaman Deny.
"Sayang, ayo semangatin Mama!" sambil mengelus perutnya.
Nia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 10:00 pagi, Nia sedikit gugup. Setelah sampai, Mama Deny sudah menunggu Nia di depan pintu gerbang.
"Eh, Mama kok disini?" sambil turun dari mobil.
"Mama menunggu kamu,"
"Astaga, nanti dijadikan bahan omongan loh."
"Mama tidak peduli. Ayo, Mama ada menu baru yang di cafe itu, khusus buat kamu."
Nia menelan ludahnya.
"Apa aku tidak akan memuntahkannya?" batin Nia.
"Iya, Ma. Terimakasih banyak."
Mama Deny menggandeng Nia masuk.
"Pertunangannya ada di taman belakang rumah, kalau kamu tidak mau hadir tidak apa-apa. Atau mau jalan-jalan sama Mama?"
"Eheheh aku akan hadir, Ma. Oh iya, bagaimana penampilan Nia?" Nia membuka cardigannya dan memperlihatkan dressnya sambil berpose dan tersenyum
"Sangat cantik, ini dress pilihan kamu sendiri?"
"Iya, Ma. Bagus tidak?"
"Bagus! Apa kamu berencana melampaui Lila?" tebak Mama Deny.
"Betul!" Nia dan Mama Deny tertawa pelan.
Saat Mc mengumumkan Deny dan Lila akan bertukar cincin, Nia dan Mama Deny segera menuju taman belakang rumah.
"Sayang, kita tukar cincinnya menunggu Nia datang dulu, kalau datang sih." pinta Lila, Deny mengiyakan.
Lila tersenyum sombong saat melihat Nia datang dengan pakaian yang Norak menurut Lila.
"Astaga, apa-apaan itu pakai cardigan dan dress seperti itu. Sangat norak dan tidak nyambung," ucap Lila pelan, Deny yang mendengarnya langsung menegurnya.
__ADS_1
"Baiklah, sekarang mari kita saksikan pasangan serasi ini untuk saling bertukar cincin."
Nia menahan rasa sakit di dadanya saat melihat cincin tunangan telah tersemat dijari manis Lila. Lila tersenyum penuh kemenangan sambil mengangkat tangan dan menunjukkanya ke arah Nia.
Fotografer mengarahkan Lila dan Deny untuk berpose, Nia dipanggil oleh Lila untuk diajak foro bersama.
"Nia! Sini dong, foto bersama."
Nia mengangguk, ia melangkah dengan dengan tenang dan tegak, di pertangahan jalan ia membuka cardigannya dan meletakkannya di salah satu kursi kosong.
Seketika Nia jadi pusat perhatian dan mendapatkan banyak pujian.
"Wow! Warna dan model dress nya elegan sekali,"
"Iya, aku jadi ingin memilikinya juga."
"Cantik hihi," bisik para tamu.
Lila menggerutu dan Deny hampir tidak berkedip. Nia berdiri di tengah Lila dan Deny, ia merangkul keduanya.
"Selamat, ya!" ucap Nia sambil tersenyum lebar.
"Jangan sok baik," bisik Lila.
"Oke! Hadap ke kamera!"
Ketiganya langsung menghadap kamera dan tersenyum.
"Satu,,, Dua,,,"
Nia melepas rangkulan di pundak Lila, ia menghadap Deny dan menarik dagu Deny.
'cup!' Bibir Nia dan Deny menyatu,
"Tiga!"
'Cekrek'
Semua tamu mematung melihat apa yang dilakukan Nia, Deny pun juga mematung karena terkejut, anehnya tubuhnya tidak menolak.
"Bagaimana? Apa Mas Deny tidak merindukan rasa bibirku?" dengan suara pelan.
__ADS_1
Lila mengepalkan tangannya, ia melempar buket bunga yang ia pegang lalu menarik tubuh Nia dari Deny.
"Apa yang kau lakukan?!" teriak Lila.
"Aku hanya melakukan apa yang harus ku lakukan dari awal," bisik Nia.
Nia terkekeh melihat ekspresi marah Lila, dengan santai Nia meninggalkan altar pertunangan Deny dan Lila. Mama Deny juga sama terkejutnya, ia seperti tidak percaya Nia bisa melakukan hal tersebut.
"Maaf ya, Ma. Nia tidak sopan,"
"Kamu sangat berani!" puji Mama Deny,
Lila semakin mendidih saat melihat Mama Deny menggandeng Nia dan meninggalkan acaran pertunangan mereka.
"Sayang! Mama kamu kok seperti itu, hah?! Aku ini di anggap atau tidak?!"
"Lila, tenanglah! Ada tamu disini,"
"Persetan dengan itu! Nia! Dasar lon*te!" teriak Lila.
Pada akhirnya Lila dan Deny terlibat dalam percekcokan karena Lila tidak bisa mengontrol emosinya.
ββββ
Sore harinya.
"Hahaha! Yang benar saja?!" Dinda tertawa terbahak-bahak bahkan hampir jatuh dari sofa di ruang kerja Nia.
"Tentu. Aku sangat gugup awalnya dan sempat ragu untuk melakukan hal tersebut"
"Hahaah, haduh, haduh perutku sampai sakit. Sayang sekali aku tidak bisa menyaksikan langsung ekspresi Lila yang seperti itu. Dia pasti seperti singa mengamuk, Haaauuuummm gituππ"
"Hihi, saat Lila mengoceh dan marah-marah, Mamanya Mas Deny mengajakku makan di dapur, untung saja aku tidak memuntahkannya."
"Lah, memangnya ada apa?" perlahan tawa Dinda memudar.
"Eee aaku kan sudah makan di rumah, kalau kekenyangan kan pasti muntah,"
"Oh begitu. Kau tau? Kau sangat agresif!" Dinda berdiri dan berdiri di samping Nia sambil menyandarkan tangan kirinya di kursi Nia.
"Aku merasa sungkan, tapi aku juga merasa puas?"
__ADS_1
"Hahah, tidak apa-apa. Jika tidak bisa pakai cara baik-baik, caramu yang tadi juga oke! Sekali-kali Lila harus dikasih cobaan, Hahah!"