Mekarnya Bunga Layu

Mekarnya Bunga Layu
Lapor Polisi saja


__ADS_3

Disisi lain Lila dibuat kesal dengan tidak adanya Rino di rumahnya. Lila mencoba menelfon Rino lagi namun nomernya tidak bisa dihubungi.


***


"Niaaa! Dimana??"


"Di Butik, Din. Ada apa?"


"Kau membohongiku ya tempo hari?!"


"Hah?"


"Struk belanjaanmu jatuh di mobilku loh. Bisa-bisanya memborong pop mie pedas!"


"Waduh, aku tidak menyadarinya."


"Mana ada tidak sadar?! Perutmu tidak kenapa-napa kan? Tidak keluar darah pas BAB kan?"


Nia terkekeh.


"Aman kok."


"Jangan di ulangi lagi ya?! Nanti anakmu kenapa-napa!"


"Iya, iya."


"Aku mau kesana! Kangen!"


"Tidak sedang bersama calon suamimu?"


"Kerja. Cari cuan buat aku,"


"Iya deh iya. Titip pop mie dong, lapar nih."


"Tidak! Sekali-kali makanlah sayur atau daging."


"Yaahh, sayang sekali. Aku sampai ngiler nih,"


"Alesan. Pokoknya tidak boleh. Aku akan membelikanmu makanan lainnya. Tunggu aku,"


Nia tersenyum, ia lebih cerewet dari Mamanya.


***


Rino yang sedang makan siang terlihat tidak menikmati makanannya.


"Apa ada masalah? Apa ada customer yang menjengkelkan?" tanya salah satu karyawan Nia.


Rino tersenyum lalu menggeleng.


"Lalu kenapa? Apa tidak suka makanannya? Kata Bu Nia boleh request makanan sendiri, jadi tidak perlu harus sama seperti karyawan lainnya. Soalnya kau selalu minta di samakan seperti makanan kami."


"Aku suka yang disarankan Bu Nia maupun kalian, makanannya sehat."


"Syukurlah. Tapi Bu Nia tidak ikut makan seperti ini."


"Eh?"

__ADS_1


"Iya, akhir-akhir ini Bu Nia sering makan pop mie atau makanan yang sangat manis. Sering bawa susu juga . Katanya susu penguat badan."


Rino tidak menjawab. Tidak terlalu banyak customer hari ini jadi para karyawan Nia agak senggang dan bisa bersantai. Rino masuk ke dalam ruangan Nia membawa makanan 4 sehat 5 sempurna dan segelas air putih.


"Ada apa?" tanya Nia.


"Waktunya makan siang."


"Aku sudah tadi. Makanlah,"


Rino meletakkan makanan tersebut di meja Nia.


"Ku dengar kau sering mengkonsumsi mie instant daripada makanan seperti ini."


Nia tersenyum lebar.


"Tidak kok. Aku juga makan nasi dan lauk lainnya di rumah."


"Makanlah. Ini baru ku pesan."


Nia menelan ludah melihat makanan yang baginya tidak menarik, namun karena melihat wajah serius Rino akhirnya Nia mengiyakan. Karena jauh dalam lubuk hatinya ia masih agak takut pada Rino.


"Oke, terimakasih."


'Tok tok tok'


Rino dan Nia menoleh.


"Masuk," sahut Nia.


"Niaaaa! Aku datang,"


"Niaaaa!" Dinda melangkah cepat lalu mencium pipi Nia dan mengelus perut Nia.


"Kangen!"


"Baru juga tempo hari ketemu," Nia terkekeh.


Tawa Dinda memudar saat melihat Rino.


"Heh?! Kau kan?"


"Ada apa?" tanya Nia karena melihat ekspresi kaget dari Dinda pada Rino.


"Kau kenapa ada disini? Mau mencelakai Nia, ya?!" Dinda melotot pada Rino.


Rino tidak menjawab karena ia tidak tau pada Dinda.


"Dinda, jangan seperti itu."


Dinda kembali melotot melihat sepiring makanan di meja Nia.


"Ini dari dia? Jangan dimakan!" Dinda menggeser piring tersebut.


"Jawab! Mau apa kau disini?! Jangan macam-macam ya!"


"Din, dia karyawanku."

__ADS_1


Rino tersenyum ramah.


"Hah?!"


Nia mengangguk.


"Nia, jangan mau ditipu. Dia orang yang ku ceritakan saat kau masih di Rumah Sakit, dia suruhan Lila!"


"Kau mengenaliku?" tanya Rino.


"Iya lah aku masih mengenali wajah pelaku yang menabrak Nia. Kau orang suruhan Lila, kan?! Ngaku!"


"Dia yang bersama Lila saat itu, Nia. Kau baik-baik saja kan? Duuhh!"


Nia menghela nafas berat.


"Dia karyawanku sekarang."


"Jangan mau di tipu, Nia. Dia bisa membunuhmu kapan saja, hiks," mata Dinda berkaca-kaca.


"Dia sudah melindungiku semalam,"


"Melindungi apanya? Dia hampir membunuhmu dan bayimu loh!"


Nia tersenyum dan menggenggam tangan Dinda.


"Tenang saja,"


Nia menyuruh Dinda duduk, ia menceritakan apa yang terjadi. Setelah mendengar cerita Nia, Dinda mengomeli Rino sampai memukul lengan Rino. Rino berkali-kali mengucapkan kata maaf namun Dinda masih lanjut mengomelinya.


"Jangan apa-apakan sahabatku! Dia tidak jahat." Dinda berlinang air mata.


"Jangan sakiti dia."


Nia terkekeh melihat Dinda menangis, Rino nyengir memamerkan gigi putih rapihnya.


"Cup cup!"


Nia merentangkan kedua tangannya, Dinda menyambutnya. Nia mengelus kepala Dinda.


"Jangan khawatir."


"Bagaimana tidak khawatir. Kau selalu saja hampir mati."


"Tapi sekarang masih hidup kan?"


"Tau! Kau selalu saja tidak hati-hati!"


Rino melihat Nia dan Dinda seperti seorang Ibu yang sedang menenangkan anaknya.


"Kita laporkan saja Lila pada polisi! Kan sudah ada Rino pelaku dan saksinya."


"Tapi aku akan terljbat juga karena pada saat penembakan itu terjadi aku berada dalam mobil yang sama dengan Rino."


Dinda mengerucutkan bibir.


"Terus bagaimana? Mau diam saja sampai Lila berbuat hal buruk lagi?"

__ADS_1


Nia hanya tersenyum.


"Kau benar, aku tidak boleh diam saja. Aku harus berbicara pada mereka."


__ADS_2