
Hari mulai malam, Deny segera menuju Butik Nia untuk menjemputnya. Ia mengirim pesan yang menyatakan ia sedang di perjalanan.
Sesampainya di Butik Nia, karyawan Nia satu persatu pulang dan mneyapa Deny.
"Maaf, Nia sedang sibuk." ucap Rino saat melihat Deny sudah datang.
"Sibuk bagaimana? Kami sudah ada janji."
"Tidak bisa malam ini. Nia menitipkan pesan untukmu, dia mengatakan membatalkan acara malam ini denganmu."
Deny tidak percaya. Dia melangkah mendekati ruangan Nia. Saat akan membuka pintu, Rino menahan tangan Deny.
"Sudah ku katakan, Nia membatalkan acaranya malam ini denganmu." ucap Rino.
Deny menghempas tangan Rino.
"Kau ini punya otak tidak?!" Rino mencengkram kerah kemeja Deny, Deny tidak mau kalah dan menepis tangan Rino dengan kasar.
"Apa maksudmu dengan selalu ada di antara kami?!"
"Aku bertugaa melindungi Nia dari laki-laki brengsek sepertimu, ini."
Deny mengernyitkan dahi.
"Kenapa kau kemari hah? Harusnya kau temani saja Lilamu itu."
"Pergi dari sini dan jangan pernah dekati Nia lagi!" usir Rino.
"Kau tidak ada hak mengusirku!"
"Keluar!"
"Aaku menolak!"
"Kau ini memang tidak tau malu, Deny!"
"Kau ini siapa hah?!"
Kedua bola mata Deny dan Rino beradu. Rino yang sudah gemas pada Deny langsung melayangkan pukulan di wajah Deny, Deny tidak mau kalah dan balik memukul Rino dan mendorongnya hingga Rino terjatuh ke lantai.
"Kau ini siapa, hah? Baru datang dan sok menjadi pelindung Nia." Deny merapikan kemejanya dan membuka pintu ruangan Nia.
'"Terkunci." ucap Deny.
"Nia," gumam Rino saat mendengar Dney mengatakan pintunya terkunci dari dalam.
"Nia, ini aku, Deny. Aku sudah datang."
"...." tidak ada sahutan
__ADS_1
"Nia," panggil Rino
"..." tidak ada sahutan juga.
"Nia, kau tidur?" panggil Rino lagi.
"..." masih tidak ada sahutan apapun.
Deny mulai panik, ia mendobrak pintu ruangan Nia.
"Kau akan merusak pintunya!" tegur Rino.
Deny mengabaikannya dan mencoba mendobrak pintunya lagi.
3 kali percobaan akhirnya berhasil.
"Nia," panggil Deny agak cemas.
"Lampunya mati." Rino menekan sakelar lampu
"Nia!" Deny mendekat pada Nia yang duduk meringkuk di sudut ruangan.
"Nia!" panggilnya lagi.
Deny menyentuh pundah Nia dan mengangkat wajah Nia yang sudah basah akan air mata dan mata Nia yang merah.
Nia memicingkan mata lalu dengan keras melayangkan tamparan pada Deny.
Deny kebingungan.
"Nia, apa yang terjadi?"
"Mas, aku kecewa padamu, hiks" Nia menyeka air matanya namun dengan cepat buliran bening air mata Nia kembali mengalir.
"Aku ada salah? Katakan."
"Aku membencimu!" Nia berdiri dan hampir kehilangan keseimbangan, Deny mencoba menolong namun Nia menepis tangan Deny.
"Nia, ada apa?" tanya Deny yang masih bingung. Rino menghela nafas melihat keduanya.
"Mas Deny itu punya tujuan apa sebenarnya?! Kenapa mempermainkan wanita selain aku?!"
"Aku tidak mengerti."
"Kenapa kau kembali hadir dalam hidupku jika kau memang tidak bisa menjadi bagian hidupku? Sebegitu menyenangkan mempermainkan perasanku? Kau membuatku terus merasakan apa itu ketidakpastian!" Nia menyeka air matanya.
Deny semakin bingung.
"Jika kau ingin pergi dariku, pergilah dan jangan kembali." lanjut Nia.
__ADS_1
"Kenapa Mas Deny tidak mengizinkanku hidup tenang? Apa aku ada salah lagi padamu? Ketika aku mencoba mendekat, Mas Deny menjauh. Ketika aku menjauh, Mas Deny hadir dan membuatku merasakan kembali hati yang berdebar, lalu luka kembali masuk dalam hati yang berdebar itu."
"Nia, aku sungguh tidak mengerti."
"Kenapa kau datang padaku saat Lila hamil, Mas?!"
Deny terdiam.
"Lila hamil tidak ada kaitannya denganku, Nia."
"Dia hamil anakmu! Dia tadi kesini dan mengatakan hal itu. Aku yang salah karena tidak bisa membatasi diri."
"Itu tidak benar. Aku tidak pernah menidurinya, satu kali pun tidak pernah. Dia tidak hamil anakku, Nia."
Nia menggeleng dan tidak percaya lagi pada Deny.
"Pergilah, Mas. Sudah cukup. Aku lelah seperti ini. Jika memang Lila yang menjadi cinta pertamamu dan cinta terakhirmu, pertahankan dia. Tolong jangan permainkan aku lagi."
"Nia, aku berkata jujur. Aku tidak pernah tidur dengannya, jadi bagaimana caranya dia hamil anakku? Anakku ada dalam rahimmu."
Nia duduk di kursinya dan kembali menangis.
"Sudah cukup, aku lelah. Mas Deny tidak cukup dengan satu wanita kah?" Nia tersenyum mengejek.
"Nia, aku benar-benar tidak pernah melakukan hubungan intim dengan Lila."
Nia yang emosi langsung mengusir Deny dan memintanya tidak kembali lagi padanya.
"Pergilah, aku tidak mau bertemu denganmu lagi. Aku dan Anakku bisa bertahan tanpamu!" Nia menutup pintu Butiknya.
"Nia, percayalah padaku!" teriak Deny dari luar namun Nia tidak menghiraukannya.
Deny tidak percaya akan semua ini. Ia segera menelfon David, Deny masuk dalam mobilnya.
"Halo, selamat malam."
"Malam. David, kau menghamili Lila?"
...."Eh? Lila? Tentu saja tidak. Ada apa memangnya?"...
"Lila hamil!"
"Oh. Lalu apa urusannya denganku?"
"Apa urusannya? Kau adalah pacar Lila di belakangku!"
"Kau juga kekasih Lila di dibelakangku."
"Aarrrghh! David, jangan menutupi sesuatu padaku. Kau yang tidur dengan Lila?"
__ADS_1
"Kau gila, ya? Aku masih punya otak untuk melakukan hal tersebut."
Deny terus memaksa David mengetakan kebenarannya namun David terus mengatakan tidak.