Mekarnya Bunga Layu

Mekarnya Bunga Layu
Pop Mie


__ADS_3

☘☘☘


Keesokan paginya, Deny dengan mata panda bergegas ke rumah Nia.


"Ada apa, Nak?" Mama Nia membuka pintu.


"Ayo masuk dulu,"


"Nia ada?" Deny mengatur nafas.


"Nia menginap di rumah Dinda. Ayo masuk dulu,"


"Aku minta alamat Dinda, Ma."


"M-Ma?"


"Tante maksudnya. Aku minta alamat Dinda."


"O-Oh. Oke,"


Setelah meminta alamat Dinda, Deny segera menuju alamat yang diberikan oleh Mama Nia dengan perasaan yang menggebu-gebu. Ia berhenti di tengah jalan.


"Apa yang ku lakukan? Untuk apa aku melakukan ini?" Deny putar balik arah dan pergi ke kantor untuk bekerja.


Saat baru masuk ke dalam Deny melihat karyawan lainnya mirip seperti Nia dari belakang. Deny melangkah dengan cepat lalu memegang pundaknya


"Nia!" panggilnya.


Karyawati itu terkejut dan spontan menoleh


"Pak?"


"O-Oh, maaf. Saya salah orang."


Deny langsung menuju ruangannya, ia mengusap kasar wajahnya.


Disisi lain Nia sedang sarapan bersama Dinda, mereka membahasa pernikahan Dinda.


"Jadi nikahnya di percepat?"


Dinda mengangguk dengan wajah merah padam.


"Aku harus apa ya nantinya?"


"Maksudnya?"


"Malam pertama harus apa aku?"


Nia memangku wajah sambil mencoba mengingat sesuatu.


"Harus apa ya? Harus siap saja sih."

__ADS_1


"Dduhhh!" Dinda menutupi wajahnya yang memanas. Mama Dinda terkekeh melihat keduanya.


***


"Nia, sekarang kau ingin makan apa? Mau apa?"


Dinda menekan-nekan pelan perut Nia.


"Mau apa ya? Aku pilih-pilih makanan sih saat ini."


"Jangan bikin Mamanya mual terus ya," ujar Dinda


"Ayo mau makan apa, Nia. Aku sudah di tf nih hihi,"


"Makan Pop Mie yuk," dengan mata berbinar.


Dinda menatap malas Nia.


"Tadi sarapan sudah mie instan," ucapnya datar.


"Mie instant itu enak tau, dia nomer 1 dalam list makanan favoritku,"


"Dih, gitu." Dinda menyipitkan mata.


"Nah, tadi kan sudah menawariku. Ayo beli," Nia berdiri dan merapikan rambutnya.


"Hah? Yakin ini?" Dinda seperti tidak percaya.


"Kriting ususmu makan mie terus,"


"Memangnya ususmu lurus?"


"Eh iya, ya. Usus itu lurus tidak sih?"


Nia terkekeh.


Sesampainya di supermarket Nia langsung menuju rak khusus mie. Matanya berbinar melihat sederet merk mie instant terjajar rapi.


"Aku mau ini!" mengambil pop mie pedas.


"Aduh jangan dong!" Dinda merebutnya dari tangan Nia dan meletakkannya kembali ke rak.


"Kenapa? Tadi nawarin!"


"Jangan yang pedas seperti ini. Nanti bayimu kepedasan juga,"


Nia menggembungkan pipi.


"Yang ini saja, ya? Rasa ayam bawang. Atau yang soto saja."


Nia menggeleng.

__ADS_1


"Yang mie goreng saja,"


Nia menggeleng.


"Ya sudah ini saja, bisa di atur pedasnya."


Nia tetap menggeleng.


"Mau yang ini," Nia mengambil kembali pop mie pedas tadi.


"Ini ngidam apa Mamanya yang doyan?"


Nia tersenyum lebar.


"Ya sudah satu saja. Sisanya beli yang tidak pedas."


Nia mengangguk, setelah selesai memilih mereka menuju kasir.


"Eh ada yang lupa ku beli. Aku ambil kopi dulu, tunggu disini," ucap Dinda.


Nia mengangguk. Tiba giliran Nia, ia maju dan meletakkan semua belanjaannya.


"Sebentar ya kak, ada lagi." Nia dengan langkah cepat mengambil pop mie pedas beberapa pcs.


"Pop mie pedasnya dibayar terpisah, ya."


Setelah selesai, Nia membayar pop mienya sendiri. Tidak lama kemudian Dinda kembali dan melakukan pembayaran.


"Itu apa?" tanya Dinda saat melihat Nia menenteng kantong plastik warna hitam.


"Pop mie,"


"Kenapa di pisah? Nanti aku ganti uangnya."


"Aaiisssshh kau ini, aku punya uang juga. Aku kan sudah dibelikan banyak mie olehmu, ini khusus aku pribadi."


"Hmmmm iya deh! Cari makan yuk,"


"Cari yang bisa minta air panas ya untuk menyeduh pop mie ku,"


Dinda menatap malas Nia.


"Boleh, ya?" berekspresi imut.


"Hadeh, oke oke. Jangan sering-sering makan Mie instant, tubuhmu butuh nutrisi lainnya. Ingat, saat ini kau berbadan dua."


"Siaaap!!" tersenyum lebar.


"Siap, siap, ujung-ujungnya makan mie lagi,".


Nia terkekeh lalu menggandeng lengan Dinda menuju parkir mobil.

__ADS_1


__ADS_2