
Deny terus mendesak David untuk mengatakan semuanya, awalnya David menolak namun pada akhirnya David mengakui semua.
"Aku tidak pernah menyentuh Lila,"
"David, katakan yang sebenarnya!"
"Huufttt Oke. Aku menyuruh preman untuk memperko*sa Lila sebagai bentuk hukuman untuknya karena telah melakukan hal keji itu."
"Kau tau? Akibat ulahmu ini Lila mengadu pada Nia bahwa dia hamil anakku. Ini memperburuk hubunganku dengan Nia lagi, David."
"Eh?"
"Sekarang Nia membenciku lagi karena apa yang dikatakan Lila."
***
Deny segera menuju ke rumah Lila. Lila yang sedang duduk di teras rumah beranjak dari tempat duduknya, ia merasa senang saat mobil Deny masuk ke halaman rumahnya.
"Deny," lirih Lila.
Deny turun dari mobil dengan raut wajah yang sedang marah, senyum Lila memudar melihatnya.
"Deny," panggil Lila.
"Kau sangat licik. Entah kenapa aku bisa pernah mencintai wanita sepertimu." dengan penuh penekanan.
"A-Apa maksudmu?"
"Ikut aku sekarang. Kau harus mengatakan kebenarannya pada Nia."
Deny menarik tangan Lila namun Lila berontak tidak mau.
"Tidak mau! Lepas!"
"Apa-apaan ini Deny. Aku tidak tau apa maksudmu!" Lila menghempas tangan Deny.
"Kau tidak usah berbohong lagi, Lila. Kau mengatakan pada Nia bahwa kau sedang mengandung anakku? Kau memperburuk hubungan kami!"
"Kenapa memangnya?! Yang di kandung Nia juga belum tentu anakmu, bisa jadi dia anak Rino, laki-laki yang selalu ada di dekat Nia."
Deny memicingkan mata dan mencekal pergelangan tangan Lila hingga Lila meringis kesakitan.
"Cukup! Mulutmu terlalu beracun, Lila."
"Aawww! Sakit."
"Aku sungguh sangat menyesal telah mencintai wanita sepertimu."
"Kau jahat!"
Lila menghempaskan tangan Deny dengan kuat hingga berhasil lepas.
"Sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan kalian hidup bahagia di atas penderitaanku!" Lila dengan langkah cepat masuk ke dalam rumah namun Deny berhasil menangkapnya.
Orang tua Lila yang baru pulang bingung melihat Lila dengan Deny.
"Kalian kenapa ribut?" tanya Ibu Lila.
"Apakah orang tuamu sudah tau?" tanya Deny pada Lila.
Lila menelan ludah dan diam tidak bergeming.
"Ada apa?" ulang Ibu Lila.
"Ikut denganku atau aku akan mengatakannya di depan orang tuamu."
"Deny!" Lila menunjukkan raut wajah memelas untuk dikasihani.
"Hanya itu pilihannya."
"Nak, sebaiknya kita bicara di dalam." ucap Ibu Lila namun Deny menggeleng .
"Ikut denganku!" Deny menarik tangan Lila dengan kasar dan Lila tetap menolak.
__ADS_1
"Lepas!"
Deny geram.
"Kau sungguh tidak tau malu, Lila. Sangat licik!"
Kedua orang tua Lila saling menatap.
"Kau harus bertanggung jawab, katakan kebenarannya pada Nia!"
"Tidak mau! Hanya aku yang boleh memilikimu!"
"Kau bahkan lebih buruk daripada pela*cur."
"Deny!" bentak Ibu Lila tidak terima.
"Mulutmu itu tidak pernah di didik oleh orang tuamu ya?!"
"Jangan bilang karena Papamu meninggal, jadi mulutmu tidak terdidik!" lanjutnya.
Deny semakin emosi karena mengaitkannya dengan mendiang Papanya.
"Kalian yang masih hidup sangat kalah dengan Papaku yang sudah meninggal. Aku tidak pernah menghamili perempuan manapun selain istriku, tapi Anakmu ini sudah hamil di luar nikah. Jadi siapa yang lebih pandai mendidik?" Deny menyunggingkan bibirnya
Kedua orang tua Lila terkejut,
"Lila?" panggil Ibu Lila
Lila menggigit bibir bawahnya dan menundukkan kepala.
"Memalukan!"
"Plak!!" tamparan keras mendarat sempurnah di pipi Lila.
Lila merasakan perih dan panas di bekas tamparannya.
"Hamil dengan siapa?!" tanya Ayahnya
Lila tidak berani menjawab, jika ia menjawabnya pasti orang tuanya akan tau atas semua apa yang telah ia lakukan.
"Aku di perkos*a" jawab Lila.
"Siapa yang melakukannya?!"
"Aku tidak tau, saat aku bangun aku sudah berada di kamar hotel."
Mata Ibu Lila berkaca-kaca, ia begitu kecewa dan kasihan pada anaknya itu.
"Baik, sekarang ikut denganku dan jelaskan semua pada Nia. Gara-gara ulahmu, dia salah paham padaku."
Lila menggeleng.
Ayah Lila yang marah langsung menarik kasar Lila ke dalam rumah.
"Maaf, Nak. Kembalilah kesini besok," ucap Ibu Lila yang ikut masuk ke dalam rumah karena khawatir Lila akan di pukuli.
"Ha???" Deny mengerjapkan matanya.
***
"Maafkan aku, Ayah!" Lila memeluk kaki Ayahnya.
"Memalukan!!"
"Yah, tolong maafkan Lila." Ibu Lila ikut memohon.
"Bu, kalau kolega kita dengar kabar ini bagaimana?" mata Ayah Lila memerah.
"Misi menikahi Deny gagal, dan sekarang kau justru hamil dengan orang lain! Tidak berguna!!" melepas kakinya yang dipeluk Lila dengan keras
"Yah!" Ibu Lila membantu Lila bangun.
"Maafkan aku, maaf!" Lila bersujud di depan Ayahnya namun Ayahnya membuang muka.
__ADS_1
Ayah Lila pergi ke kamarnya dan meninggalkan Lila yang menangis dalam pelukan Ibunya.
🍀🍀🍀
Disisi lain David merasa kasihan pada Nia. Ia bergegas menuju rumah Nia.
Pukul 21:00.
David menekan bel rumah Nia. Mama Nia membuka pintu dan mempersilahkan David masuk.
"Mau minum apa?" tanya Mama Nia.
"Tidak perlu. Aku kesini untuk bertemu dengan Nia."
"Oh, Nia ya? Kebetulan dia baru pulang. Mungkin masih mandi."
David mengangguk.
"Sebentar, Tante lihat dulu."
"Baik,"
'Tok tok tok'
"Nia," panggil Mamanya.
"Iya, Ma. Nia masih ganti baju."
"Ada Dokter David, dia ingin bertemu denganmu."
"Ooh, iya Ma. Sebentar lagi aku turun."
***
"Selamat malam, Dokter." sapa Nia sambil duduk di sofa.
"Selamat malam, Nia."
"Mama ada telfon, kalian mengobrollah."
"Iya, Ma."
Mama Nia melangkah pergi dari ruang tamu.
"Eh tidak ada minuman atau kudapan? Aku akan mengambilnya dulu."
"Tidak perlu. Aku punya hal penting untuk disampaikan padamu."
"Ooohh, Baiklah. Ada hal penting?"
"Iya. Ini tentang kehamilan Lila."
Senyum Nia memudar.
"Aku sudah tau," ucap Nia lemas.
"Tidak, kau tidak tau."
Nia mengerutkan dahi.
"Lila itu bukan hamil anak Deny."
Jantung Nia berdegup kencang.
"Dia hamil anak dari preman suruhanku sebagai bentuk hukuman untuknya karena telah melakukan hal keji padamu dan telah berhianat di belakangku."
Nafas Nia serasa berhenti.
"Kau tidak salah dengar. Itu bukan anak Deny. Deny tadi menelfonku dan mengatakan bahwa Lila telah mengadu kalau dia hamil anak Deny. Tapi memang kenyataannya itu bukan anak Deny."
Nia menghela nafas berat.
"Apa yang telah ku lakukan padanya tadi," gumam Nia menyesal, ia menahan sesak di dadanya.
__ADS_1