
Malam harinya Nia menyibukkan dirinya dengan mendesain model baju yang baru, awalnya berjalan lancar. Namun kabar tersebut ternyata dapat menggoyahkan benteng pertahanan Nia. Pada akhirnya ia tidak bisa mengabaikan begitu saja tentang hubungan Lila dan Deny.
Nia pergi ke kamar mandi dan mencuci muka, saat melihat pantulan wajahnya di cermin ia merasa dirinya sangatlah lemah.
"Apa yang harus ku lakukan?" gumamnya.
Nia memukul pelan dadanya berharap perasaan kacaunya segera hilang.
"Sadar Nia, sadar! Dia bukan milikmu!"
Nia membasuh wajahnya lagi.
"Kau tidak mencintainya, kau tidak mencintainya, kau tidak mencintainya,"
"Ya, Aku tidak mencintai Deny." Nia mengatakannya dengan rasa percaya diri, namun seketika ia terduduk lemas.
"Ternyata aku mencintainya," lirih.
Nia bangkit dan segera menelfon Dinda, namun Dinda yang sedang sibuk berkencan tidak mengangkat telfon dari Nia. Nia menghela nafas kasar, ia duduk di lantai dan bersandar di jendela sepanjang malam karena tidak bisa tidur.
☘☘☘
Keesokan paginya Nia pergi kerumah Dinda.
"Duh, maaf ya semalam tidak mengangkat telfonmu. Saat pulang aku keburu ngantuk dan lupa mengecek hp."
Nia mengikuti langkah Dinda menuju kamarnya.
"Iya tidak apa-apa,"
"Nia, kau belum tidur atau bagaimana? Matamu sampai bengkak begini."
"Aku menangis semalaman," dengan suara pelan dan sedikit serak.
"Apa?Ya ampun maafkan aku!" Dinda memeluk erat Nia.
"Dinda, aku tidak bisa berpisah," air mata kembali membasahi pipi Nia.
"Apa maksudmu?" Dinda kebingungan.
"Aku mencintai Deny, aku tidak bisa menerima perpisahan ini."
Dinda menyeka air mata Nia.
"Dia telah menyakitimu," ucap Dinda.
"Tapi aku mencintainya, kufikir aku akan baik-baik saja saat aku mendengar kabar ia akan bertunangan dengan Lila, tapi ternyata aku tidak sanggup."
__ADS_1
"Nia, sadar dong! Dia tidak mencintaimu, apa yang kau harapkan dari pria sepertinya, hah?!"
"Kau sendiri juga yang meminta talak padanya?" imbuh Dinda.
"Aku, aku sadar aku salah karena telah meminta talak padanya. Aku ingin rumah tanggaku kembali, Din!"
"Kau hanya akan tersaikiti, Nia."
"Aku mencintainya, hiksss aku mencintainya."
Dinda membuang nafas kasar, ia mengelus kepala Nia.
"Aku akan mendukungmu," ucap Dinda,
Nia mengangkat kepala dan memandangi Dinda.
"Aku akan mendukungmu, aku juga akan membantumu. Kau tidak sendirian." Dinda tersenyum.
Setelah Nia selesai dengan tangisannya, Dinda dan Nia mulai rapat bagaimana cara agar Nia kembali bersama Deny.
"Kita harus cari kesalahan si Lila dulu," ucap Dinda.
"Iya, menurut keterangan dari mertuaku, Lila dan keluarganya ini hanya menginginkan harta keluarga mas Deny."
"Waduh! Wajib di musnahkan ini si Lila,"
"Nah, gob*lok juga si Deny ini." timpal Dinda
"Ya terus kita harus apa sekarang?"
"Nah, itu dia masalahnya hehe,"
Nia menatap datar Dinda, .
Setelah lama berfikir, akhirnya Nia menemukan ide.
"Aha! Langkah pertama kita akan mencari kesalahan Lila dulu," ucap Nia.
"Tidak usah melawak kau, ya. Itu memang ide kita dari awal tadi." Dinda menatap datar Nia.
'tek tek tek' Waktu terus berjalan.
"Aaaarrghhh! Pusing!" Dinda memegangi kepalanya.
Nia menghela nafas,
"Kau butuh healing,"
__ADS_1
"Yuk ke mall, yuk." ajak Dinda.
"Mau apa? Healingnya kesana?"
Dinda mengangguk.
"Lagipula aku lihat tas mu sudah sangat buluk."
"Iya sih, sudah bertahun-tahun."
"Ayuk lah kita ke mall, sekali-kali. Sejak kau menikah, kita tidak keluar bersama loh," dengan wajah memelas.
"Hais! Ya sudah ayo,"
"Yeay!! Aku ganti baju dulu!" Dinda dengan gercep mengambil pakaian dan masuk ke kamar mandi.
☘☘☘
Setelah membeli tas baru, Nia dan Dinda keluar dari mall. Saat berjalan menuju parkiran, Dinda melihat Arga yang sedang memarkir mobilnya.
"Hei, ada ayangmu tuh," sambil menunjuk ke arah Deny.
Nia dan Dinda segera bersembunyi di balik mobil orang lain, mereka melihat Deny dengan Lila yang menggandeng mesra Deny. Nia merasa kesal dan cemburu tentunya.
"Kita pulang atau tidak?" tanya Dinda.
"Kita akan membuntuti mereka, aku belum tau rumah Lila dimana."
"Oke," Nia dan Dinda masuk ke dalam mobil dan menunggu target.
Setelah sekian jam menanti, target sudah keluar dari mall dan masuk ke dalam mobil Deny. Dinda dan Nia mengikuti mereka dari jarak jauh.
"Eh, bukannya ini jalan ke rumah suamimu ya?" tanya Dinda, Nia mengangguk.
"Apa mereka sudah tinggal satu atap?" gumam Dinda.
"Hiss! Kau ini! Jangan lah begitu," Nia memukul pelan lengan Dinda.
"Aku hanya menebak loh,"
Benar saja, mobil Deny masuk ke rumah Deny.
"Yang benar saja, kita menunggu disini?" tanya Dinda sambil meminggirkan mobilnya tidak terlalu jauh dari kediaman Deny.
Nia mengangguk.
Siang berganti sore, setelah lama menunggu, akhirnya Lila dengan mobilnya sendiri keluar dari kediaman Deny, Dinda dan Nia pun mengikutinya dari belakang dengan jarak agak jauh.
__ADS_1