
☘☘☘
"Akhirnya!" Dinda memeluk Nia erat. Mama Nia tersenyum melihat Dinda dan Nia.
Setelah di tangani oleh dokter lain, Nia sembuh dalam hitungan hari saja. Hari ini Nia sudah di perbolehkan pulang.
"Nia, aku ada sesuatu untukmu," ujar Dinda.
"Apa itu?"
"Sebuah fakta!" Dinda mencari rekaman suara yang ia ambil saat membuntuti Lila. Wajah Dinda terlihat panik, ia terus menscrol layar Hp nya dan tidak menemukan yang ia cari.
"Mana?" tanya Nia.
"3 hari lalu ada, kok. David bersekongkol dengan Lila juga orang yang mencelakaimu,"
"Eh?!"
"Aku tidak berbohong." Dinda menceritakan bahwa dirinya mencari tau siapa pelaku yang menabrak Nia dan akhirnya menemukan fakta tentang David yang sengaja membuat Nia semakin tidak berdaya.
Nia mengepalkan tangan saat mendengar semuanya.
"Lila pasti sudah menghapus bukti itu lagi, Din."
Dinda mengangguk.
"Ada apa sih ini?" tanya Mama Nia yang melihat keduanya berbicara dengan nada pelan.
"Tidak ada apa-apa, Ma."
"Ya sudah, Mama mau menebus obat kamu dulu."
"Iya, Ma."
***
"Nia, kau masih ingin berjuang?"
"Tentu, aku akan memperjuangkan perasanku."
***
Nia melihat pantulan dirinya di cermin, ia mengenakan dress sepanjang lutut dan memperlihatkan kaki mulusnya.
Hari pertama!
Nia datang ke kantor tempat Deny bekerja, namun ditolak karena mereka tidak membuat janji sebelumnya..
Hari kedua!
Nia datang lagi ke tempat Deny bekerja, lagi-lagi ia ditolak dengan alasan Deny sedang rapat.
Hari Ketiga!
Nia akhirnya bisa bertemu Deny.
"Permisi,"
"Masuk,"
"Terimakasih," ucap Nia pada karyawan yang mengantar Nia ke ruangan Deny.
"Mas,"
"Ada apa?" dengan ketus dan tetap fokus ke laptop.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Nia.
"Duduklah,"
"Terimakasih,"
"Sebelumbya aku mengucapkan terimakasih karena Mas Deny telah meluangkan waktu untuk bertemu denganku. Selanjutnya tujuanku kemari adalah untuk meminta maaf atas ketidaksopananku saat makan malam itu,"
Mendengar perkataan Nia, Deny mengangkat padangangannya dan melihat Nia yang diperban dibagian kepalanya dan ada bekas luka di pelipisnya. Nia tersenyum saat Deny mau menatapnya.
"Aku kesini untuk meminta maaf pada Mas Deny," ucap Nia lagi.
"Aku juga minta maaf atas perkataan kasarku,"
Nia tersenyum lagi.
"Mas, bisakah kita berteman?"
Deny mengerutkan dahi.
"Walau kita tidak bisa kembali bersatu dalam ikatan pernikahan, aku harap kita masih bisa berteman." jelas Nia.
"Aku akan bertunangan,"
"Iya aku tau itu, aku hanya ingin berteman kok,"
"Tidak salah kan mencintai orang walau kita tidak bisa memilikinya?" batin Nia
"Baiklah,"
Nia sangat senang dengan jawaban Deny, ia merasa telah maju 1 langkah untuk kembali mempertahankan hubungan mereka berdua.
☘☘☘
"Nyonya, Nona Nia ada di depan," ucap art Mama Deny.
Mama Deny yang sedang bersantai di taman belakang rumah langsung sumringah,.
__ADS_1
"Suruh dia kemari!" aura bahagia terpancara dari wajah Mama Deny.
"Baik,"
Setelah beberapa menit menunggu, Nia berdiri di belakang Mama Deny.
"Ma," panggil Nia pelan.
Mama Deny menoleh dan langsung memeluk Nia.
"Nia, Mama sangat rindu,"
"Nia juga. Maaf Nia tidak mengabari siapapun saat akan datang kemari."
Mama Deny mengangguk lalu melepas pelukanny.
"Sayang, kenapa kepalamu? Kenapa ada perban? Kenapa ada bekas luka seperti ini, tanganmu juga,"
Nia tersenyum.
"Nia habis kecelakaan, Ma."
Mama Deny terkejut, ia menitikkan air mata.
"Kenapa tidak ada yang mengabariku,"
Nia tersenyum lagi.
"Tapi Nia baik-baik saja kok."
***
"Ma, Nia bawa makanan. Mama mau?"
"Tentu saja, ayo ke ruang makan," sambil menggandeng Nia dan menenteng rantang makanan yang dibawa Nia.
Senyum Nia memudar saat melihat Lila keluar dari dapur sambil membawa sepiring masakan.
"Eh ada tamu," ujar Lila sambil tersenyum.
"Ma?"
"Jangan dipedulikan. Ayo, Mama mau makan masakan kamu."
"Tapi Mama sudah di masakin sama calon menantu Mama tuh,"
Mama Deny membuka rantang yang dibawa Nia,
"Bi, ambil piring 2!"
"Baik, Nyonya."
"Ayo duduk. Mana lagi bagian yang sakit?"
Nia duduk disamping Mama Deny.
"Ini, Nyonya." Art datang membawa piring .
Lila menghentakka kaki dan kembali ke dapur saat Mama Deny lebih memilih masakan Nia. Tidak lama kemudian Deny datang dan menyapa Nia.
"Ma, Lila dimana?" tanya Deny.
Mama Deny menghendikkan bahu dan meminta Deny mencicipi masakan Nia.
"Enak," puji Deny setelah makan sesuap.
"Terima kasih," ucap Nia sambil tersenyum.
Lila kembali dari dapur sambil membawa masakan lainnya.
"Sayang, ini masakanku. Cicipi dong!" sambil duduk di kursi disamping Deny.
"Enak," puji Deny.
"Oh iya, aku ada sesuatu untukmu," Deny mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
"Wow!" mata Lila berbinar melihat kalung di tangan Deny.
"Sudah, ayo lanjut makan. Mama mau nambah dong," Mama Deny mengalihkan perhatian Nia.
"Iya, Ma. Makan yang banyak ya, agar Mama tetap sehat."
"Oke! Kau harus lebih keras berjuang!" batin Nia.
Selesai makan, Nia mengajak Lila mengobrol berdua saja di dapur.
"Kenapa? Panas ya?" sambil memainkan kalung di lehernya.
"Jangan sombong dulu, Lila. Hanya karena kau menghapus semua bukti kejahatanmu, kau fikir bisa menang dengan mudah?" Nia melipat tangan di depan dada.
"Nyatanya, aku memang sudah ada di depanmu, Nia. Siap-siap sajalah kau menyambut masa akhir Iddahmu dengan menyaksikan pernikahanku dengan Deny."
Nia melangkah mendekatkan tubuh mereka berdua.
"Aku belum mengerahkan semua kekuatanku, loh." bisik Nia, ia tersenyum lalu meninggalkan Lila sendiri di dapur.
☘☘☘
"Nia, kamu naik apa kesini?" tanya Mama Deny saat Nia berpamitan pulang karena sudah malam.
"Di antar temanku Ma, tapi sekarang dia sedang sibuk. Mobilku sendiri pun sepertinya bermasalah?" Nia menyelendang tas nya.
"Deny, antarkan Nia."
__ADS_1
"Ma, kami sudah bercerai, loh."
"Terus? Mau bilang dosa? Itu kamu jalan berdua sama Lila juga berdosa kali. Mama tidak mau tau, antar Nia pulang. Dia kecelakaan kan sepulangnya dari sini, Mama khawatir."
Deny menghela nafas,
"Baiklah."
"Sayang, aku juga di antar pulang kan?" Lila bergelanyut manja di lengan Deny, Deny mengangguk.
Jadilah Deny mengantar keduanya, Nia yang duduk di kursi belakang menyibukkan dirinya dengan Hp dan membalas pesan karyawannya di grup.
"Sayang, besok kamu bisa libur?" Lila menyentuh tangan Deny.
"Kenapa?"
"Bosan di rumah, kita liburan yuk!"
Nia yang mendengar obrolan mereka hanya diam sambil menghela nafas kasar.
"Ooh, lihat situasi besok dulu."
"Oke sayang!"
***
Lila turun dari mobil dan melambaikan tangan pada Deny.
"Jangan nakal ya!"
Deny tersenyum dan melanjukan mobilnya untuk mengantar Nia. Suasana menjadi canggung, Nia mematikan Hp dan memandangi jalanan di depannya.
"Mas," panggil Nia.
"Hem?" masih fokus menyetir.
"Terimakasih sudah mengantarku," ucap Nia, ia agak maju sedikit hingga hembusan nafasnya terasa di bahu Deny.
"Sama-sama,"
"Aku boleh duduk di depan?" tanya Nia.
Deny diam sejenak lalu mengiyakan, setelah itu Nia pindah dikursi depan.
"Mas, boleh minta tolong?" tanya Nia lagi.
"Silahkan,"
"Tolong antar ke Mall sebentar, ada sesuatu yang ingin ku beli."
Deny melirik Nia sekilas, Nia tetap melihat ke arah depan dan tidak menyadari Deny yang meliriknya tadi.
"Oke,"
"Terimakasih,"
****
"Kesana, Mas!" Nia refleks menarik tangan Deny menuju pajangan jam tangan mewah.
"Astaga! Romantis gak sih?"
"Dunia milik berdua, lainnya ngontrak! hihi." bisik para pengunjung yang melihat Nia yang menggandeng Deny.
"Mas, bagus yang mana?" Nia membandingkan dua jam tangan.
"Yang kanan,"
"Oke, bungkus."
"Yang ini ya kak,"
***
Nia mengajak Deny ke restoran yang ada di mall. Mereka menghabiskan waktu hampir 2 jam, Deny merogoh sakunya dan menyadari Hp nya tertinggal di mobil. Saat akan membuka suara, ia melihat Nia yang sedang melahap es krim dengan senangnya, Deny mengurungkan niatnya dan ikut menyantap pesanannya.
Setelah selesai, Deny membayar apa yang dipesan oleh Nia, walau sungkan akhirnya Nia tetap menerimanya. Mereka pun segera keluar dari mall.
"Terimakasih, Mas." ucap Nia sambil tersenyum bahagia.
"Sama-sama,"
Selama di perjalanan Deny terus melirik jam tangan yang dibeli oleh Nia, muncul rasa penasaran dalam hatinya.
"Mas," panggil Nia lagi.
"Hem?"
"Apa yang harus ku lakukan agar Mas Deny mau menarik talak yang telah dijatuhkan padaku?"
Deny terdiam, ia tidak menjawab dan tetap fokus mengemudi, Nia menghela nafas dan tetap tersenyum
Mobil berhenti di depan gerbang rumah Nia, saat Nia melepas sabuk pengaman, Deny memberanikan diri untuk bertanya masalah jam tangan tadi.
"Eee, kalaau boleh tau itu jam tangan untuk siapa?" tanya Deny,
Rasa penasaran Deny adalah kenapa Nia membeli jam tangan pria, sedangkan ia anak tunggal dan sudah tidak memiliki Ayah.
Nia tersenyum sambil membuka pintu mobil.
"Ini untuk laki-laki spesialku, dia yang akan jadi raja di hatiku," Nia keluar dari mobil dan menutup kembali pintu mobil.
'Deg!' Hati Deny seperti di senggol.
__ADS_1
"Terima kasih, ya! Lain kali aku akan balik mentraktir Mas Deny,"
Deny tersenyum lalu melanjukan mobilnya pergi dari rumah Nia.