
Keesokan paginya, karena sedang libur bekerja Deny pergi ke Butik Nia sambil membawakan makanan untuk Nia.
Rino menghela nafas kasar saat melihat Deny baru turun dari mobil.
"Ada apa?" tanya Rino
"Aku ada perlu dengan Nia."
"Kau semakin banyak alasan untuk menemui Nia," ucap Rino pelan agar tidak terdengar customer.
"Kau juga selalu ada dan hadir disaat aku sedang ada perlu dengan Nia," balas Deny sambil memicingkan mata.
"Mas, yang motif ini ada yang model bahubya berkerut tidak?" customer nenghampiri Rino.
"Oh, ada. Mari ikut dengan saya." Rino menatap tajam Deny sebelum ia menuntun customernya
'Tok tok tok'
"Masuk," sahut Nia yang masih fokus mendesain.
"Nia," panggila Deny
"Eh, Mas Deny." Nia menoleh dengan cepat.
"Iya. Maaf aku dadakan." sambil meletakkan kotak bekal di meja Nia.
"Eh, apa ini?" Nia meraihnya dan membuka paper bag nya.
"Mama memasak itu pagi ini."
"Untukku?" tanya Nia.
"Iya. Kau harus banyak makan sayur dan daging."
"Haiiissshh kau sama saja seperti Dinda dan Rino yang terus menyuruhku makan sayur dan daging,"
"Rino lagi." batin Deny.
"Oh. Kau kan memang butuh itu semua."
Nia memanyunkan bibirnya, ia menelan lidah saat melihat masakan yang tidak menarik baginya.
"Setelah makan mau jalan-jalan?"
"Kemana?"
"Kemana saja yang kau mau,"
Nia memangku wajahnya dan berfikir.
'Tok tok tok'
"Masuk," sahut Nia.
"Waktunya makan siang," ucap Rino sambil membawa sepiring makanan dan segelas susu bumil.
Nia mengerjapkan mata.
"Sayur juga?" tanya Nia pada Rino.
"Iya. Jangan berharap aku akan membawakanmu mie instant" Rino meletakkan piring makanan Nia di meja.
__ADS_1
"Susunya juga, di habiskan." lanjut Rino.
"Hmmmm sayur semua," Nia menggaruk pelipisnya.
"Oh iya, tolong buatkan kopi dingin untuk Mas Deny, ya."
"Hm." Rino melangkah keluar dari ruangan Nia.
"Hmmm, dia sedikit lebih dingin daripada sebelumnya. Aku tidak tau kenapa, nada bicaranya tidak ramah seperti biasanya." ujar Nia.
Deny merasa cemburu karena Nia begitu peka pada Rino dan tidak padanya.
Nia menoleh ke arah Deny dan mendapati Deny menekuk wajahnya, ia makin kebingungan.
"Mas Deny juga memasang raut wajah seperti Rino. Apa semua laki-laki suka begitu?"
Deny menghela nafas dan tersenyum.
"Cepat makan lah," ucap Deny.
"Tapi aku bingung, mana yang harus ku makan." gumam Nia sambil memandangi dua porsi makanan di hadapannya.
Tidak lama kemudian Rino datang dan meletakkan kopi dingin Deny dengan agak kasar di meja.
"Rino, kau tidak sedang dalam masalah kan?" Nia heran melihat sikap Rino yang tidak seperti biasanya.
"Aku baik-baik saja," jawab Rino dengan cepat lalu melangkah.
"Makan saja yang ku bawa," ucap Deny.
Langkah Rino terhenti saat mendengar perkataan Deny.
"Aku sudah tidak lagi bersama Lila, itu juga masakan Mamaku. Aku baik-baik saja setelah memakannya." bela Deny.
Mata Deny dan Rino beradu.
"Hmmm hentikan kalian berdua. Astaga."
Pada akhirnya Nia mengambil piring kosong dan mengambil setengah porsi dari makanan yang dibawa Deny dan juga Rino.
"Nah, adil kan?!"
Deny menepuk jidatnya pelan begitupun dengan Rino yang tertawa garing.
"Ini sisanya kalian makan sendiri." ucap Nia sambil nyengir
"Lagipula aku tidak suka dua-duanya" gumam Nia pelan.
Setelah selesai makan Nia mengobrol santai dengan Deny dan menanyakan bagaimana pekerjaan Deny.
"Jadi, bagaimana dengan jalan-jalannya?" tanya Deny.
"Duh, maaf ya Mas. Untuk saat ini tidak bisa, aku harus segera mendesain motif baru, dan akan ku setor pada Mama. Kapan-kapan saja ya?" Nia tersenyum.
Deny sedikit sedih dan kecewa.
"Sangat sibuk, ya? Aku bisa membantumu."
"No!" tolak Nia.
"Ini pekerjaanku dan ini tanggung jawabku."
__ADS_1
"Aku tidak keberatan."
"Aku juga sangat sanggup, hehe."
Akhirnya Deny mengalah.
"Nia, aku bisa meminta sesuatu padamu?"
"Minta apa, Mas? Mas Deny lebih kaya dariku. Jika Mas Deny meminta kebahagiaan, hidup Mas Deny jauh lebih bahagia dariku."
"Bukan seperti itu. Aku meminta agar nomerku tidak di blokir."
Nia tertegun.
"Eeee"
"Aku kesulitan menghubungimu dan alhasil aku selalu datang di saat yang tidak tepat."
Nia terdiam.
"Oke, akan ku buka blokirnya."
Deny berterima kasih dan tidak lama kemudian ia pamit pulang.
****
Malam harinya.
Nia mengucek matanya yang mulai mengantuk. Ia melihat jam di layar laptopnya yang menujukkan pukul 21:00 malam.
'Ddrrtt drrttt'
Nia menoleh dan mendapati Deny menelfon dirinya. Dengan ragu Nia mengangkat telfonnya.
"Belum pulang?" tanya Deny di sebrang telfon
"Belum, Mas. Tinggal sedikit lagi."
"Kau pulang sendiri? Aku akan menjemputmu."
"Tidak usah, Mas. Sudah ada Rino, dia juga supirku, hihi."
"Hmmm, kalian terlalu dekat."
"Masa? Ku rasa wajar-wajar saja. Mas Deny tidak cemburu kan? Hhahah, aku hanya bercanda, Mas."
"Yah, kurasa aku cemburu."
"Eh!" Nia terdiam, tawanya memudar. Jantungnya berdegup kencang.
"Halo? Nia?"
"E-Eh iya, Mas."
"Kenapa diam saja?"
"O-Oh, tidak apa-apa. Mas Deny kenapa menelfonku malam-malam begini?"
"Aku baru saja menyelesaikan pekerjaanku, aku lihat WhatsAppmu tadi aktif , tanganku bergerak sendiri."
Nia terkekeh mendengarnya. Nia mengerjakan tugasnya sambil di temani Deny di telfon.
__ADS_1