
Malam harinya Deny kembali lagi ke rumah Nia, ia datang bersamaan dengan Mama Nia.
"Deny, sudah lama?" tanya Mama Nia turun dari mobil.
"Baru saja."
"Ayo masuk dulu, tadi Mama, maksudnya Tante lihat kamu di depan Butik Pusat Tante, kenapa hanya ada di pinggir jalan?"
Deny tersenyum, ia mengikuti langkah Mama Nia masuk ke dalam rumah.
"Duduklah dulu. Mau minum apa?"
"Tidak, terima kasih." Deny merasa gugup,
"Huufft! Kenapa aku bisa ada disini?" batin Deny
"Tidak perlu sungkan."
Deny tetap menolaknya.
"A-Anu, Nia ada?" Deny to the point.
"Nia, ya? Bukannya ke butik ya?" Mama Nia mengerutkan dahi.
Disisi lain,
Nia sedang duduk di taman kota sendirian, sambil menyantap ice cream di malam hari. Setiap lidahnya menoel ice creamnya, air matanya juga ikut menetes.
Demi menghindari Deny, ia berbohong. Pada nyatanya ia ada di Butiknya saat Deny datang tadi.
"Ternyata memblokirnya saja masih tidak menbuatku lega," batin Nia.
"Astagaaa Nia! Malam-malam kok makan ice cream," Dinda datang dan langsung duduk di samping Nia.
Nia tersenyum bahkan menyodorkan ice creamnya pada Dinda.
"Mau? Atau mau beli? Mumpung abang ice creamnya belum pergi dari sini." tersenyum menujukkan gigi rapihnya.
"Senyummu hambar," celetuk Dinda.
"Janganlah begitu, kau hanya tidak mau mengakui betapa manisnya aku, kan?" Nia terkekeh.
"Aku melihat senyummu tetapi aku tidak merasa senang." ujar Dinda sambil menghela nafas.
"Matamu bengkak seperti itu, dan setiap ku tanya jawabannya pasti habis menangis gara-gara habis menonton film. Alasan macam apa itu?" Dinda melipat wajahnya.
"Oh ayolah, jangan seperti itu." Nia menyenggol lengan Dinda pelan.
****
Kembali ke rumah Nia. Setelah mengobrol agak lama dengan Mama Nia, Deny berpamitan pulang.
"Sekali lagi maaf," ucap Deny.
"Iya tidak apa-apa. Yang penting kalian tidak bermusuhan. Maafkan Tante juga karena telah menyiksa perasaan kamu,"
Mama Nia lega karena Deny dan Nia tidak saling membenci apalagi saling menyebarkan aib satu sama lain.
Sepulangnya dari rumah Nia, Deny mendapat telfon dari Lila dan memintanya untuk datang kerumahnya malam ini juga.
__ADS_1
"Sayang!" panggil Lila lalu memeluk Deny
"Lama sekali," dengan manja.
"Iya tadi macet."
"Ya sudah, ayo masuk. Orang tuaku sudah menunggu dari tadi. Ibuku masak enak loh,"
Setelah bertegur sapa, Deny bergabung dengan keluarga Lila di meja makan.
"Ayo di cicipi,"
"Iya,"
Di tengah kesibukan menyantap makan malam, Lila meminta sesuatu.
"Sayang,"
"Hem??"
"Aku ingin meminta sesuatu," ucap Lila.
"Apa?"
"Kita percepat saja ya pernikahan ini, kita menikah minggu depan, ya."
Deny meletakkan sendoknya di piring, ia menarik nafas.
"Iya loh, tidak baik lama-lama berdua tanpa hubungan yang halal," imbuh Ibu Lila.
"Kalau Ayah setuju apapun keputusan kalian berdua, hanya saja Ayah berharap segera punya cucu."
"Nah, kan. Bagaimana? Mau ya?" memperlihatkan raut wajah memelas.
"Eeemmm saran ini tidak buruk, tapi aku mohon pengertian dari kalian semua agar bisa menunggu sampai masa iddah mantan istriku selesai," Deny bernafas lega.
Semua terdiam,
"Kenapa begitu?!" Lila mulai emosi.
"Lila tenang," ucap Ayahnya.
"Nak, katakan alasannya." pinta Ibu Lila.
"Maaf sebelumnya, hanya saja aku rasa tidak baik menikah disaat mantan istriku masih dalam masa iddah, kami juga belum mengurus peceraian kami di Pengadilan Agama."
"Kamu sudah tidak mencintaiku lagi?" mata Lila berkaca-kaca. Deny mengelus kepala Lila.
"Bukan seperti itu. Lagipula memangnya kau tidak ingin pesta pernikahan yang mewah? Kalau minggu depan sepertinya tidak bisa."
"Tidak apa-apa resepsinya menyusul, kita menikah siri dulu!"
Deny menolaknya lagi karena ia belum mantap untuk menikahi Lila. Ia tidak mau membuat kesalahan lagi dengan menikahi Lila namun masih memikirkan Nia. Setelah makan malam, Deny pamit pulang karena masih ada pekerjaan yang harus disetor besok pagi.
Sesampainya di rumah, Deny langsung merenung memikirkan apa yang terjadi padanya.
****
"Aku harus membuat Deny menikahiku sebelum David pulang. Jika dia pulang terlebih dahulu, maka dia akan merusak semuanya." Lila menghela nafas kasar.
__ADS_1
"Kenapa Deny seperti ini? Dia sangat mencintaiku dan ingin menikahiku, ketika ku ajak menikah malah menolak dengan alasan receh itu."
"Padahal setelah pernikahan, aku sudah berencana untuk mengatasnamakan aku untuk semua aset keluarga Deny. Heh, dikiranya enak dipermalukan di depan umum dan mengatakan keluargaku haus harta, lihat saja akan ku kabulkan itu semua."
****
Dinda yang merasa senyum Nia aneh terus mendesak Nia untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Nia, jujur deh. Kau ini kenapa? Senyummu sungguh membuatku kesal. Dan lihat, kau menghabiskan 5 ice cream. Apa yang terjadi padamu?"
Senyum Nia memudar, ia membuang nafas dengan berat lalu melahap sisa ice creamnya.
"Tuh kan! Pasti ada apa-apa."
Air mata Nia kembali menetes, melihat hal itu Dinda spontan memeluk Nia erat dan membiarkan Nia menangis dalam pelukannya.
"Maaf ya, apa aku terlalu kasar?"
Nia menggeleng dan masih dengan isak tangisnya. Dinda mengelus punggung Nia.
Di sela-sela tangisnya Nia mengatakan apa yang terjadi.
"Maaf karena aku telah mendukungmu saat itu," ucap Dinda.
Nia menarik tubuhnya dari pelukan Dinda.
"Terimakasih karna telah ada disampingku,"
"Nih, ingusmu meleber kemana-mana." Dinda terkekeh namun air matanya ikut menetes. Ia mengambil tisu dan mengelap ingus Nia.
"Dasar," Dinda tersenyum.
"Pasti bisa move on! Bisa, bisa" ucap Dinda
"Tapi aku hamil,"
"UHUUUKK!!" Dinda tersedak ludahnya sendiri.
Nia terkekeh.
"Hamil apa?!!"
"Hamil bayi dong ah,"
"Hah?! Kok bisa?!"
"Bisa dong!"
"Tapi Deny sudah tau?"
Nia menggeleng.
"Jika aku memberitahunya, kemungkinan Lila akan memcelakai bayiku."
"Tapi Deny harus tau, Nia. Dan Lila harus kita beri pelajaran,"
"Tidak, aku tidak mau kau dicelakai Lila. Kita juga tidak punya bukti lagi kan, hihi."
"Anakku pasti kuat," lanjutnya.
__ADS_1
Dinda menatap nanar Nia yang tersenyum sambil mengelus perutnya yang masih rata.