
🍀🍀🍀
Lila memegang lagi obat penggugur kandungan.
"Jika aku meminum obat ini, aku tidak yakin aku masih bisa hidup." Lila meletakkan obatnya di ranjang.
"Jika aborsi, itu ilegal." Lila menjambak rambutnya sendiri.
"Apa yang harus ku lakukan?!"
"David sialan!"
Lila memukuli perutnya sendiri berharap ia keguguran, ia menangis tersedu-sedu.
"Aku tidak mau hamil! Tidak mau."
"Apa yang harus ku lakukan?!"
🍀🍀🍀
Deny yang sedang istirahat menelfon Nia.
"Iya, Mas?"
"Eeee nanti malam ada waktu?"
"Sepertinya. Mungkin aku pulang sore nanti."
"Begitu, ya. Mau makan malam denganku nanti?"
"Eh? Dimana?"
"Dimanapun yang kau mau."
"Apa tidak apa-apa? Mas Deny tidak kerja?"
"Aku pulang lebih awal nanti."
"Oh, boleh Mas. Ke cafe Mamanya Mas Deny saja bagaimana? Aku sedang ingin makan yang manis-manis lagi."
Deny tersenyum lebar.
"Baiklah. Nanti aku jemput."
"Tidak perlu, Mas. Aku bawa mobil sendiri."
"Tidak apa-apa. Aku akan menjemputmu."
"Kalau begitu, jemput di Butikku saja ya."
"Baiklah."
Setelah menutup telfon, Deny malanjutkan pekerjannya dengan penuh semangat. Hari mulai sore, Deny segera pulang untuk mandi dan lain sebagainya.
Ia dibuat malas saat pulang sudah ada Lila di teras rumahnya.
"Ada apa?" tanya Deny sambil turun dari mobil.
"Sayang, aku ingin bicara padamu."
"Berhenti memanggilku seperti itu, Lila."
"Aku mencintaimu, kumohon beri aku satu kesempatan lagi. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahanku." meraih tangan Deny.
"Tidak bisa."
"Kenapa? Kau benar-benar mencintai Nia? Bagaimana denganku?"
"Dengar Lila, kita sudah selesai."
"Kau dan Nia juga sudah selesai, tapi kenapa kau mau padanya lagi? Kenapa tidak denganku?"
"Dia tidak pernah menghianatiku,"
"Kau tertipu! Dia itu bukan wanita baik-baik. Jika dia wanita baik, dia tidak akan mau masuk dalam hubungan orang lain!"
__ADS_1
"Berhenti menyalahkannya terus. Lebih baik kita saling koreksi diri masing-masing."
Deny mendengus sebal, ia membuka pintu. Langkahnya terhenti oleh perkataan Lila.
"Aku hamil." ucap Lila.
Deny tekekeh pelan, ia menoleh pada Lila.
"Kau hamil? Kenapa lapor padaku? Aku bahkan tidak berani merenggut kesucianmu." Deny tersenyum mengejek.
"Aku di perko*sa, Deny! Ku mohon, jadilah ayah dari anakku.!" Lila memeluk kaki Deny.
"Apa maksudmu? Kau masih waras?!"
"Kumohon! Akan ku berikan apapun asal kau mau!"
"Sayangnya aku tidak mau." Deny melepaskan kakinya dari Lila.
"Pergilah. Kau bahkan bisa menyewa pembunuh bayaran, masa tidak bisa menyewa ayah untuk anakmu."
Lila terkejut mendengarnya,
"Sama seperti jawaban David. Apa dia tau semuanya?" batin Lila
"Kenapa diam?" tanya Deny.
"Pergilah."
"Apa maksudmu mengatakan hal itu, Deny." Lila berdiri dan menyeka air matanya.
"Menyewa orang? Sudah ku katakan jangan kau fikir aku tidak tau apa yang kau lakukan."
Lila terdiam. Deny masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.
Lila mengepalkan tangannya, ia bergegas menuju Butik Nia.
Sesampainya di Butik Nia.
"Lila?" gumam Rino saat melihat Lila turun dari mobil.
"Rino?"
"Mau apa kau kesini?" tanya balik Rino.
"Oh! Kau bekerja disini?" Lila seperti tidak percaya.
"Ku tanya sekali lagi, mau apa kau kesini?"
"Cih! Penghianat!. Aku kesini untuk bertemu Nia."
"Tidak bisa, Nia sibuk."
"Hoho, rupanya kau sudah besar kepala ya sekarang? Gajimu disini tidak sebesar gaji yang ku berikan dalam 1 kali misi. Bodoh."
"Aku tidak peduli. Pergilah dari sini," Rino menatap tajam Lila.
"Aku tidak mau."
"Nia! Keluar!!!" teriak Lila.
"Kau ini tidak punya sopan santun, ya?!" Rino menarik Lila.
"Kenapa? Kau takut Nia tau kalau kau pernah berusaha membunuhnya?" Lila tertawa mengejek.
"Dia sudah tau,"
Lila semakin merasa panas.
"Sialan! Biarkan aku menemuinya."
"Tidak. Kau pasti ada rencana mencelakai Nia."
Nia yang mendengar orang memanggilnya langsung keluar dari Butik dan mendapati Rino mencengkram lengan Lila di luar Butik
"Rino," panggil Nia.
__ADS_1
Rino dan Lila menoleh ke asal suara
"Akhirnya pelakornya keluar." Lila menyunggingkan bibirnya.
"Kenapa kau membuat keributan disini?" Nia menatap tajam Lila.
Lila melepas lengannya dari cengkaraman Rino.
"Apa? Tidak terima?"
"Rino, masuklah ke dalam. Jangan sampai pelanggan kita terusik."
"Baiklah. Aku akan tetap mengawasi kalian." ucap Rino lalu masuk ke dalam Butik.
"Apa maumu Lila? Tidak lelah kah dirimu terus membuat onar?"
"Jangan sok benar, ya! Aku begini karena dirimu yang masuk dalam hubunganku dan Deny."
Nia menghela nafas dan memutar mata bosan.
"Itu terus yang kau ucapkan, aku sampai bosan mendengarnya."
"Pelakor tidak tau diri!"
"Kau kesini hanya untuk mengataiku saja? Lebih baik kau belajar karate sana. Jangan hanya pandai menyewa pembunuh untuk menghabisiku." Nia melipat kedua tangannya di dadanya.
"Kau berani berkata seperti itu padaku? Kau tidak malu sedikitpun?!"
Nia mengangguk dan tersenyum.
"Jika aku memang pelakor, tapi aku tidak sekeji dirimu sampai-sampai mau menghabisi nyawa orang."
"Diam! Kau tidak pantas membela diri seakan-akan tidak bersalah."
"Hmmm, ya sudahlah. Aku juga malas ribut di luar ruangan seperti ini." Nia membalik badan dan melangkah, Lila menarik tangan Nia dan siap melayangkan tamparan.
Nia menangkisnya dengan keras hingga Lila terjatuh.
"Kau?!"
"Ups, maaf." Nia menjulurkan tangannya pada Lila, Lila menepisnya.
"Ya sudah, mau di tolong tidak mau." ucap Nia santai dan berbalik badan.
"Aku hamil!"
Nia menghentikan langkahnya, Rino yang mendengarnya juga ikut terkejut.
"Aku hamil anak Deny, dia tidak mau bertanggung jawab karena dia mencintaimu. Kau sangat jahat, Nia!"
Hati Nia hancur berkeping-keping mendengar hal tersebut, ia membisu dibuatnya.
"Aku tidak tau harus apa sekarang karena Deny tidak mau bertanggung jawab dan malah memutuskan hubungan kami. Kenapa kau harus masuk dalam kehidupanku dengan Deny? Sekali lagi kau merusak kebahagiaanku!"
"Kau pasti bohong, itu pasti bukan anak Deny," dengan suara bergetar dan masih membelakangi Lila.
"Ini anak Deny. Kau fikir aku sering ke rumah Deny dan sering keluar bersamanya dan tidak melakukan apapun?"
'Deg'
Nia membuang nafas berat.
"Kenapa kau harus sedih, Nia? Kalian hanya berteman." batin Nia.
"Oh. Selamat." ucap Nia dan meninggalkan Lila.
"Nia," panggil Rino saat Nia baru masuk.
"Tolong ya, aku ingin minum jus buah. Antarkan ke ruanganku nanti. Kalau ada Mas Deny, katakan aku membatalkan acara dengannya. Aku lupa, belum mengecek laporan penjualan bulan ini." Nia tersenyum lebar dan melangkah masuk ke ruangannya.
"Oke," jawab Rino pelan.
"Dia masih bisa tersenyum." batin Rino.
Nia mengunci pintu dari dalam, ia menyeka air mata yang mengalir deras. Nia merasa dadanya sangat sesak hingga ia sedikit kesulitan bernafas saat menahan tangisnya.
__ADS_1