Mekarnya Bunga Layu

Mekarnya Bunga Layu
Nia, Tanggung Jawab


__ADS_3

"Mas, apa yang membuat Mas Deny kemari? Apa aku ada salah lagi?"


"Aku tidak disuruh masuk?"


Nia menghela nafas.


"Maaf, silahkan masuk dulu." Nia masuk ke dalam di ikuti Deny.


"Tolong buatkan minum,"


"Baik, Bu."


Nia masuk ke ruangannya dan diikuti Deny.


"Baiklah, silahkan duduk."


"Dia suami barumu?" tanya Deny lagi.


"Bukan," jawab Nia sambil mengaktifkan laptop.


'Tok tok tok'


"Masuk," sahut Nia.


"Ini minumnya, Bu."


"Baik, terima kasih."


Rino keluar ruangan.


"Silahkan diminum," ucap Nia.


"Sekali lagi ku tanya, Mas Deny ada perlu apa?"


"Aku... Aku hanya ingin melihatmu,"


"Uhuk!" Nia tersedak ludahnya sendiri.


Deny gercep menyodorkan minum pada Nia. Nia menggeleng.


"Brak!' Rino membuka pintu dengan keras.


"Nia!" panggilnya.


Deny memicingkan mata.


"Apa dia melakukan sesuatu?!" Rino mendekat dan mengambil gelas berisi air minum di tangan Nia.


"Tidak apa-apa. Aku hanya tersedak," Nia tersenyum kikuk.


"Aku akan mengambil air minum yang baru."

__ADS_1


"Sangat romantis," sindir Deny saat Rino sudah keluar dari ruangan Nia.


"Mas Deny sebaiknya pergi dari sini jika tidak ada hal penting. Aku tidak mau tunangan Mas Deny salah faham,"


"Terlebih lagi saat ini aku sedang hamil, aku bertanggung jawab atas nyawanya." batin Nia.


"Kau membenciku?"


Nua menghela nafas.


"Aku tidak membenci siapapun," tersenyum lebar.


Mereka sama-sama terdiam.


"Kau tidak pernah ke cafe Mama lagi?"


"Tidak."


"Ada menu baru lagi,"


"Iya kah? Selamat." Nia tersenyum.


"Kau tidak tertarik?"


"Tidak,"


"Aku tertarik dan penasaran, tapi aku tidak ingin terlibat dalam hubungan kalian semua." batin Nia.


"Oh, seperti itu." Nia membuka dokumen di laptopnya.


Deny mengepalkan tangan karena Nia terlihat acuh tidak acuh. Ia berdiri dan menarik dagu Nia ke arahnya. Mata mereka bertemu.


"Lihat aku saat bicara denganku."


"Kau tidak ada hak lagi untuk itu," Nia menepis tangan Deny.


"Kau harus bertanggung jawab, Nia!" Deny menutup laptop Nia.


"Apa? Apa lagi?" Nia mengerutkan dahi, tubuhnya agak bergetar.


"Kalian memintaku menjauh?! Sudah aku lakukan. Kalian tidak ingin aku ada di antara kalian? Sudah aku lakukan! Apalagi sekarang?! Aku sudah menghindar dari kalian, aku tidak ada niatan untuk berada di antara kalian lagi."


Nia membuka laptopnya lagi namun Deny langsung menutupnya lagi. Ia menarik dagu Nia dan langsung menyatukan bibir mereka. Nia membulatkan mata.


"Kau harus bertanggung jawab," ucap Denya, ia langsung melu*mat bibir Nia. Dengan mata berkaca-kaca mendorong tubuh Deny.


'Ceklek'


"Ini minu-" Rino terkejut. Ia langsung menutup pintu kembali


Nia mendorong tubuh Deny dengan sekuat tenaga.

__ADS_1


'Plak!' Nia melayangkan tamparan di pipi Deny.


"Mas!"


Deny mengusap kasar wajahnya.


"Apa yang kau lakukan?!" air mata Nia mengalir.


Dengan tubuh bergetar Nia duduk sambil menutupi wajahnya.


"Keluar!" usir Nia.


"Maaf,"


"Keluar, hiks. Keluar!"


Deny merasa bersalah lalu menarik tubuh Nia sampai berdiri, ia memeluk erat Nia.


"Maaf,"


Nia melepaskan diri.


"Keluar, Mas."


Nia menarik lengan Deny menuju keluar dari ruangannya.


"Jangan datang lagi"


Nia menutup pintu kembali sambil menyeka air mata.


"Nia, buka pintunya."


"Pergi!"


"Maaf, Pak. Sepertinya Bu Nia sedang tidak bisa di ganggu. Silahkan," ucap Rino ramah sambil menunjuk pintu keluar.


"Diam!"


Rino mengepalkan tangan dan menarik kerah Deny.


"Pergi dari sini,"


Deny tidak terima dan langsung menghempas tangan Rino.


"Aiihhh jangan bertengkar disini, ada pelanggan!" sela karyawan lainnya .


Rino langsung menenangkan dirinya, Deny menghela nafas.


"Nia, tolong buka blokirmu,"


Nia tidak menjawab. Deny kemudian pergi dari Butik Nia.

__ADS_1


__ADS_2