Mekarnya Bunga Layu

Mekarnya Bunga Layu
Lila di Perkaos


__ADS_3

Lila menarik tangan David saat David akan masuk ke mobilnya.


"Oke aku mengaku salah, tolong jangan laporkan aku."


"Kau sudah kelewat batas, Lila."


"Ini semua ku lakukan karena ulah Nia,"


"Aku kurang apa padamu, Lila?"


"Apa kau tidak memikirkan perasaanku?!"


Lila menitikkan air mata.


David menghela nafas.


"Oke, aku tidak akan melaporkanmu asal kau mau melakukan sesuatu untukku."


"Oke, aku terima." jawab Lila dengan cepat.


"Masuklah ke mobil,"


"Mau apa?" Lila menyak air matanya.


"Masuk atau ku laporkan."


Lila mendengus sebal, ia menuruti David dan masuk ke dalam mobil David.


"Mau apa?" tanya Lila lagi.


"Kau harus tidur denganku," David menyeringai.


"Kau gila?!"


"Ya sudah kalau tidak mau sih ku laporkan saja." sambil memasang sabuk pengaman dengan santai.


"Aku akan menikah, David."


"Dengan siapa? Dengan laki-laki tadi? Dia memutuskan hubungan kalian tadi, loh."


"Kau benar-benar brengsek!"


David hanya tersenyum.


"Jadi pilih mana?"


"Sial! Aku harus bagaiamana?"


"Dalam 1 menit kau tidak menjawab, ku anggap jawabanmu memilih mendekam di penjara."


Lila memejamkan mata.


"Oke! Aku tidur denganmu. Aku sangat membencimu"


"Bagus!"

__ADS_1


"Kita mau kemana? Ini bukan arah rumahku,"


"Chek-in." jawab David singkat.


Selama di perjalanan Lila merasakan tubuhnya panas dingin.


"Sial sial sial! Kenapa jadi begini,"


Sesampainya di hotel David memesan kamar.


"Kau takut?" tanya David.


Lila tidak menjawab.


"Jangan takut, ini kan akibat dari ulahmu sendiri."


"Aku membencimu," Lila menatap sinis David. Ia mengenepis tangan David yang mau menggandeng tangannya.


"Jangan menyentuhku!"


"Nanti juga ku jebol," David terkekeh.


David membuka pintu kamar dan masuk di ikuti Lila. Lila meletakkan tasnya dan duduk di ranjang, ia merasa marah bercampur gugup. David menarik tangan Lila dan membawanya kw kamar mandi.


"Mandilah, aroma tubuhmu bercampur dengan mantanmu yang satu," David menutu pintu kamar mandi dan menguncinya dari luar.


"Aku tidak akan memaafkanmu!" teriak Lila dari dalam kamar mandi.


David menyeringai, ia mengambil Hp nya dan menghubungi seseorang.


"Siap!"


David duduk di ranjang sambil melepas kancing kemeja kedua dari atas. 15 menit berlalu, Lila keluar dari kamar mandi dan terlihat ia sedang marah.


David menepuk kasur disampingnya sebagai kode agar Lila duduk disana.


"Aku sungguh tidak akan memaafkanmu," ucap Lila lalu merangkak dan duduk di samping David.


David menyeringai.


"Tutup matamu,"


Lila memejamkan mata namun sambil terus mengumpat. David mengeluarkan suntikan yang sudah di isi obat bius dan menyuntikkanya pada tubuh Lila. Lila membuka mata, ia melotot.


"Apa yang kau lakukan?!" Lila merasa mulai lemas. Tidak butuh waktu lama Lila tidak sadarkan diri.


David menyuruh orang yang dipanggilnya itu masuk ke kamar.


"Ini, Pak" sambil menyerahkan tripod yang diminta David.


Orang yang dipanggil oleh David merupakan seorang preman yang pernah menjadi pasiennya, ia merasa berhutang jasa pada David karena telah menolongnya dari amuk massa dan merawat lukanya sampai sembuh.


"Terimakasih,"


David menyiapkan Hp dan tripodnya, ia membuka kameran dan siap mengambil video.

__ADS_1


"Luruskan kakinya,"


"Baik,"


"Tiduri dia,"


"Pak David yakin?"


"Iya. Dia masih gadis, kau juga pasti tertarik kan? Gratis, tidak usah bayar uang satu rupiah pun. Anggap saja tidak ada aku disini , aku akan merekamnya, jadi mainlah sesukamu. Mau berapa ronde, bebas."


Preman tersebut tentunya tidak menolak.


"Mulai!"


Preman itu membuka celana pendek yant melekat pada tubuh Lila, sebelum main ia membuka kaki Lila dan memastikan apakah ia gadis atau bukan.


"Pak, dia sudah tidak gadis." ucapnya.


David terkejut.


"Sudah lebar," lanjutnya. David mengepalkan tangannya.


"Bisa-bisanya selama ini aku di bodohi olehnya," ucapnya pelan.


"Ya sudah, lanjutkan."


"Oke!"


David sesekali menyamankan posisi pengambilan videonya, preman itu begitu menikmati tubuh indah Lila.


David pergi ke kamar mandi karena merasa sedikit mules.


Lila mulai sadar, ia merasa ada barang yang keluar masuk di kema*luannya, dadanya juga terasa ada yang merabamya, perlahan ia membuka mata. Lila membulatkan mata saat preman itu tersenyum dan terus mengaduk bagian bawahnya.


"Kyaaaa!!! Lepaaass!!!" Lila berusaha mendorong preman itu namun kedua tangannya di tahan oleh preman itu, kedua tangan Lila ditekan ke bantal diatasnya.


"Kyaaaa! Daviiiiiidddd toloonggg!!!"


"Dia tidak akan menolongmu, hosh hosh, karena dia yang menyuruhku,"


"Anj*ing! Kurang ajar! David, aku membencimu!!"


Mendengar keributan, David keluar dari kamar mandi.


"Jangan berisik, nikmati saja." ucap David, ia mengelus kepala Lila.


Mata Lila terpejam dan terbuka kembali karena ia tidak bisa berbohong akan rasa nikmat yang dirasanya.


"Tubuhmu mengatakan kau menikmatinya, jadi buka mulutmu untuk mende*sah saja." David tertawa pelan. Ia kembali menjadi tukang syuting🙂


"David! Aku membencimu! Sangat! Ahh"


"Bagus, seperti itu." ucap David


Lila menitikkan air mata, tubuhnya panas namun ia tidak bisa menolah setiap goyangan preman itu.

__ADS_1


"Hiksss tolong aku!"


__ADS_2