Mekarnya Bunga Layu

Mekarnya Bunga Layu
Perhatian Rino


__ADS_3

Satu jam berlalu,


"Mau berangkat bersama?"


Lila menggeleng.


"Tidak jadi kata temanku,"


David ber-oh-ria.


"Bagaimana kalau hari kita jalan-jalan?" ajak David.


"Tidak lelah kah?"


"Bertemu denganmu sudah menjadi sumber energi bagiku."


Lila terkekeh.


"Ya sudah, mau kemana?"


"Ke pantai saja, bagaimana?"


"Boleh,"


***


Setelah memarkirkan mobilnya, David dan Lila membeli minuman dingin dan beberapa cemilan.


"Panas, ya?"


"Kita duduk disana saja, ada pohonnya." David menunjuk ke arah pohon kelapa yang tidak ada buahnya.


Ia menggandeng tangan Lila.


"Heeemm! Bagaimana cara ngomongnya?" batin Lila.


"Ck! Aku jadi gagal kencan dengan Deny, kenapa mesti datang dadakan coba." lanjutnya.


Mereka duduk di bawah naungan pohon kelapa itu sambil memandangi laut biru yang terbentang luas, angin yang tidak terlalu kencang menerbangkan rambut Lila saat Lila akan minum, David tersenyum lalu merapihkan rambut Lila.


"Bagaimana dua minggu ini tanpa kabar dariku?" tanya David.


"Ehem!" Lila berdehem.


"Kenapa masih bertanya, aku menunggumu loh. Lalu semua akunmu sosmedmu bagaimana?"


"Sempat ku buka kemarin, ternyata ada pesan darimu di Instagram. Saat aku akan membuka pesannya Hp ku malah drop dan sudah mau naik taxi menuju ke bandara. Dan kemudian Hp ku hilang dan aku memutuskan untuk menetap disana sampai Hp ku ketemu"

__ADS_1


"Emmm seperti itu. Bagaimana saudaramu?"


"Dia sudah pulih,"


"Ingin makan sesuatu?" tanya David.


Lila menggeleng.


"Mau diet,"


"Jangan ah, sudah cukup badanmu seperti ini." David tersenyum lalu mencubit pipi Lila.


"Apa ada masalah saat aku tidak disini?"


"Tidak ada kok, aku hanya khawatir karena dirimu tidak ada kabar sama sekali."


"Aku baik-baik saja, kok." sambil mengelus kepala Lila.


🍀🍀🍀


'Tok tok tok'


"Masuk," sahut Nia yang masih sibuk bergelut dengan pekerjaannya.


"Nia," panggil Rino.


"Eh, iya. Ada apa?"


"Makan siang," ucap Rino.


"Astaga, tidak perlu repot-repot. Kalian semua sudah makan juga?"


Rino meletakkan piring berisi makanan di meja Nia.


"Sudah. Mereka bertiga sedang istirahat."


"Baguslah. Tapi kenapa makananku di samakan dengan kalian?"


"Ini banyak sayurnya tau," batin Nia.


"Kau menyarankan makanan seperti ini karena makanan ini sehat, kan?"


Nia mengangguk.


"Jadi kau makanlah. Kau juga butuh nutrisinya."


Nia menatap datar Rino.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Rino.


"Kenapa kau melakukan ini?" Nia balik bertanya


"Memangnya salah karyawan memperhatikan kesehatan atasannya yang sedang hamil?"


Nia menggaruk tengkuknya.


"Ya tidak salah sih."


"Maka dari itu, makanlah. Aku akan membuatkan susu untukmu."


"Aku bisa sendiri!" cegah Nia.


Rino mengabaikan perkataan Nia dan pergi membuat susu untuk Nia.


"Itu kan susunya Bu Nia, mau di apakan?" tanya dalah satu karyawan Nia yang melihat Rino menakar susu.


"Untuk Bu Nia,"


"Wuwuwuwu" timpal karyawan Nia lainnya.


"Ku perhatikan semenjak masuk disisni kau begitu peduli pada Bu Nia,"


"Hu'um,"


"Kupikir hanya aku yang berfikir seperti itu,"


"Dia atasan kita, apa salah?"


"Ya tidak juga hihi,"


Setelah selesai menbuat susu Nia, Rino segera mengantarkannya pada Nia.


"Belum makan?" tanya Rino yang melihat makanan di piring masih utuh tidak tersentuh.


"Sebentar lagi,"


"Aku akan kembali lagi nanti dan makanan itu harus habis "


Nia hanya tersenyum.


****


Disisi lain di kantor.


Deny yang tengah sibuk mengerjakan tugasnya tiba-tiba terbesit dipikirannya tentang Nia.

__ADS_1


"Apa dia masih mencintaiku?" gumamnya.


Deny menghela nafas dan mengusap kasar wajahnya.


__ADS_2