Mekarnya Bunga Layu

Mekarnya Bunga Layu
Deny Sakit


__ADS_3

Dua hari kemudian, malam hari.


"Halo, sayang."


"Kenapa?!" Deny yang baru pulang bekerja dikejutkan oleh Lila yang menelfon sambil merintih.


"Aku datang bulan, huhu. Sakit sekali perutku!"


"Aku akan segera kesana,"


"Antar aku ke Rumah Sakit ya,"


"Iya,"


Setibanya di rumah Lila, Lila sudah menunggu di luar rumah sambil memegangi perutnya. Tanpa pikir panjang Deny langsung mengangkat tubuh Lila dan masuk ke mobil.


"Rumah Sakit di dekat cafe Mamamu saja, awwww!"


"Itu lebih jauh,"


"Di dekat sini pelayanannya kurang bagus, cepatlah! Aduh!"


Deny pun mengiyakan, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi berhubung jalanan tidak terlalu ramai. Sesampainya di rumah sakit ia menggendong Lila masuk ke Rumah sakit.


Saat baru masuk, mereka dikejutkan oleh Nia dan Mama Deny yang baru keluar dari pintu sebelah.


"Mama," panggil Deny, ia menurunkan Lila.


"Deny," Mama Deny dan Nia menghampiri Lila dan Deny.


"Mama sedang apa disini?" Deny mengerutkan dahi, pandangannya beralih pada Nia yang tangannya di balut perban.


"Nia terkena air panas tadi, jadi Mama lansung bawa kesini," jawab Mama Deny sambil merangkul Nia.


"Kasihan sekali Nia, perban di kepalanya baru di lepas namun harus di perban lagi di bagian tangan," ujar Mama Deny sambil mengelus kepala Nia, Lila membuang nafas kasar.


"Tadi Mama menghubungiku dan mengatakan mau aku mencicipi menu barunya di cafe, saat banyak pelanggan ternyata ada Chef yang tiba-tiba pingsan dan alhasil kekurangan tenaga kerja, jadi aku membantunya. Karena aku kurang hati-hati, telinga panci yang berisi air panas yang dibawa salah satu chef patah dan airnya tumpah ke tanganku yang berada di sampingnya." jelas Nia sambil tertawa pelan dan menahan perih.


Lila merasa Nia semakin punya banyak alasan untuk dekat dengan keluarga Deny, ia memutar matanya bosan dengan raut wajah tidak enak. Mendengar penjelasan Nia, Deny spontan meraih tangan Nia yang di perban.


"Lalu bagaimana kata Dokter? Apa parah?" tanya Deny


"Sudah di beri obat untuk meredakan nyerinya ," jawab Nia.


Lila yang kesal lansung menepis tangan Nia, mata Nia membulat saat merasakan perih di tangannya, terlebih saat ditepis Lila perihnya sangat terasa, mata Nia sedikit berkaca-kaca.


"Lila!!"


Lila melipat wajahnya saat Deny menggunakan nada keras seperti itu. Mama Deny langsung memicingkan mata, ia meraih tangan Nia dan meniupnya.


"Sakit, ya?" tanya Mama Deny. Nia tidak menjawab, ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan perih.


"Urus pacarmu itu!" ucap Mama Deny ketus pada Deny, ia membawa Nia keluar dari Rumah Sakit.


"Ma~"


"Sayang! Dia pura-pura loh!"


"Lila, jaga sikapmu!"


Lila menghentakkan kakinya lalu pergi keluar dari Rumah Sakit dan masuk ke dalam mobil. Deny mengusap kasar wajahnya.


***


"Jeng!" Mama Deny memeluk Mama Nia saat pintu baru di buka.


"Diana, lama tidak bertemu!" membalas pelukan Mama Deny.


"Iya,"


"Ayo masuk dulu, kita sudah lama tidak mengobrol loh,"


Mama Nia membulatkan mata melihat tangan Nia yang dibalut perban.


"Sayang, kenapa ini?!"


"Itu yang mau iu bicarakan," ujar Mama Deny.


Mereka berkumpul di ruang tamu,


"Ayo, diminum."

__ADS_1


"Iya, terimakasih."


Mama Deny menghela nafas pelan.


"Aku mau meminta maaf, Nia terluka saat di cafe ku tadi,"


"Benar?" tanya Mama Nia pada Nia, Nia mengangguk sambil nyengir menunjukkan gigi rapihnya.


Mama Deny menceritakan mengapa Nia terluka, ia juga meminta maaf pada Mama Nia dan Nia. Setelah lama berbincang-bincang, Mama Deny pamit pulang.


☘☘☘


3 hari berlalu...


"Sayang, aku pamit ya. Besok mau ikut Ayah ke luar kota,"


"Berapa hari?" tanya Deny yang fokus mengemudikan mobil.


"Mungkin satu minggu, nanti aku kabari."


"Baiklah, hati-hati. Uang jajan aku transfer ya,"


"Okee!!"


***


"Sudah siap?" tanya David saat Lila baru masuk ke dalam mobil.


"Siap, ayo berangkat!"


"Hotelnya sudah di booking?" tanya Lila sambil menggenggam tangan David.


"Sudah,"


Oke, Lila disini bohong ya! Pamitnya pada Deny pergi ke luar kota dengan Ayahnya, namun sebenarnya ia pergi liburan bersama David.


***


Malam harinya.


Deny baru pulang bekerja, ia merasa tubuhnya sedikit tidak fit. Ia mengabaikannya dan berfikir setelah mandi maka tubuhnya akan kembali sehat-sehat saja.


Deny mencoba diam saja, ia menarik selimut lalu memejamkan mata. 3 jam ia memejamkan matanya namun ia tetap tidak bisa tidur, nafasnya berat dan merasa kepalanya seperti akan meledak.


"Apa karena aku merindukan Lila?" gumamnya lalu bangun dan mengambil Hp berniat menelfon Lila.


"Halo, sayang."


"Iya, sayang."


"Sedang apa dan dimana?"


"Ini sedang mengambil dokumen untuk Ayah. Oh iya, katanya mau di tf? Ini sudah hari kedua loh. Kamu bercanda ya?"


Senyum Deny memudar,


"Oh iya, aku transfer sekarang ya,"


"Kyaaaa! Oke sayang!"


"Sayang, sebenarnya aku-"


"Sudah dulu ya, Ayah menungguku. Bye!"


'tut tut tut'


Deny menghela nafas lalu mentransfer uang pada Lila, ia kembali berbaring. Seiring dengan malam yang semakin larut, demam Deny semakin menjadi.


Keesokan paginya, Mama Deny heran karena Deny tidak kunjung turun untuk sarapan padahal sudah jam 8.


"Apa dia sudah berangkat?" gumamnya.


"Bi, Deny sudah berangkat?"


"Saya belum melihat Tuan Muda dari tadi, Nyonya."


"Baiklah,"


Mama Deny melangkah menuju kamar Deny.


"Apa masih tidur?" gumamnya sambil mengetuk pintu.

__ADS_1


'Tok tok tok'


"Deny, bangun sayang. Sudah siang, loh. Nanti terlambat."


'tok tok tok'


Masih tidak ada jawaban.


'Tok tok tok'


"Bangun, sayang!"


Mama Deny membuka pintu kamar Deny karena yang dipanggil tidak kunjung menyahutinya.


"Deny, astaga. Sudah siang loh," Mama Deny melangkah mendekati Deny yang terbaring.


"Ayo bangun,"


Deny tidak membuka mata dan tidak merespon apapun.


"Sayang?"


Mama Deny duduk disamping Deny dan membuka selimut Deny.


"Ayo bang-un,"


Mata Mama Deny membulat saat ua menyentuh tangan Deny terasa sangat panas. Ia kemudian menyentuh dahi Deny dan terasa sangat panas.


"Kamu demam?!" mulai khawatir.


Mama Deny meminta air hangat pada Art nya dan mulai mengompres Deny.


"Ma~" rintih Deny.


"Iya sayang, Mama disini." sambil mengganti kompres Deny.


***


"Nia sayang,"


"Iya, Ma. Halo, kenapa Ma?"


"Deny sakit, tolong kesini ya."


"Hah?!! Sakit apa, Ma? Sudah dibawa ke Dokter?"


"Demam biasa, Mama ada rapat."


"Nia segera kesana, Ma"


***


Hari mulai sore, Deny membuka mata perlahan. Ia melihat ada tas perempuan di sofa kamarnya.


"Lila pulang ya? Syukurlah! Aku sangat senang," batin Deny.


'Ceklek' suara pintu terbuka. Deny melirik ke arah pintu dan tekejut melihat Nia yang masuk ke kamarnya sambil membawa mangkuk kecil.


"Syukurlah Mas Deny sudah bangun," ucap Nia saambil meletakkan semangkuk bubur di meja sampang ranjang.


"Nia?" gumamnya pelan.


"Iya ini aku. Kenapa? Kecewa ya karena aku bukan Lila?" Nia mengambil kursi kecil dan duduk disamping Deny yang terbaring.


Deny tidak menjawab.


"Bagaimana? Masih terasa sesak nafas? Kepalanya sakit?"


Deny menggeleng pelan.


"Syukurlah kalau begitu. Aku sudah membuat bubur untuk Mas Deny, makan yuk."


Nia membantu Deny duduk bersandar pada bantal.


"Ini, minum dulu." menyodorkan segelas air hangat.


Deny sedikit kecewa karena dihadapannya saat ini bukanlah kekasihnya.


"Ayo buka mulut," menyodorkan sesendok bubur.


Melihat Deny yang hanya menatapnya saja dan tidak buka mulut, Nia tersenyum dan berkata ia tidak bermaksud buruk, ia ikhlas membantunya dan saat Mama Deny pulang, ia juga akan pulang. Dengan canggung dan gugup, akhirnya Deny mau makan dan disuapi Nia.

__ADS_1


__ADS_2