Mekarnya Bunga Layu

Mekarnya Bunga Layu
Putus


__ADS_3

🍀🍀🍀


"Saya pulang dulu, Pak. Terimakasih uangnya,"


"Iya sama-sama." David duduk di ranjang disamping Lila yang bersembunyi didalam selimut.


"Lihatlah, kau begitu agresif." David menyingkap selimutnya.


"Baj*ingan!" Lila menyelimuti dirinya lagi.


"Kau tidak mau menontonnya?" David menyodorkan video rekamannya.


"Hapus!"


"Apa?"


"Tolong hapus videonya!"


"Oh, tau caranya minta tolong ya. Sayangnya aku tidak mau menolongmu." David bangkit berdiri dan memasukkan Hp ke saku celananya.


"Kupikir dirimu benar-benar masih gadis, loh. Ternyata? Dengan siapa kau main?"


"Tidak usah kepo!"


"Kau telah membohongiku dalam banyak hal," David menarik selimutnya dan melempar ke sembarang arah. Lila langsung meringkuk dan menutupi dadanya menggunakan kedua tangannya.


"Kau sangat egois! Keji! Aku menyesal telah jatuh cinta pada orang sepertimu"


"Aku juga menyesal!"


"Baiklah, tidurlah. Kau pasti kelelahan setelah bertempur dengannya. Aku akan memesan kamar lain."


🍀🍀🍀


Keesokan harinya. Lila pulang dengan lemas dan langsung mengurung diri. Orang tuanya yang heran dengan tingkah Lila berusaha menelfon Deny karia keluar bersama Lila semalam.


'ting tong'


Baru saja Ibu Lila akan menelfon Deny, Deny dan Mamanya sudah datang ke rumah Lila.


"Tadinya mau Ibu telfon,"


Deny tersneyum tipis.


"Akan ku panggil Lila dulu "


***


"Lila sayang, Deny dan Mamanya ada disini." panggil Ibu Lila.


Lila dengan gembira langsung keluar dari kamar dan menemui Deny.

__ADS_1


"Syukurlah!" gumam Lila.


Mereka semua duduk, setelah ortu dan Lila berkumpul, Mama Deny membuka suara.


"Sebelumnya saya ucapkan terimakasih atas keramahannya menyambut kami. Kamu kesini ada perlu dengan kalian bertiga, syukurlah kita bisa berkumpul semua pada pagi ini."


"Deny, katakan" ujar Mama Deny.


"Kedatangan kami kesini tidak lain untuk membicarakan tentang hubungan dua keluarga ini. Aku sudah memikirkannya dari semalam dan keputusanku ini tidak bisa di ganggu gugat."


Lila meremas ujung pakaiannya dan berharap Deny mau memaafkannya.


"Aku kesini untuk memutus pertunanganku dengan Lila." ucap Deny.


"Eh? Sebentar, apa maksudnya ini?" Ayah Lila tidka percaya.


"Ya maksudnya Deny dan Lila sudah tidak ada hubungan asmara lagi." jawab Mama Deny.


Tanpa pikir panjang Lila lansung jatuh ke lantai, ia merangkak bahkan menyentuh kedua kaki Deny.


"Tolong maafkan aku! Kumohon, beri aku satu kesempatan lagi, hiks!"


Deny melepas tangan Lila.


"Maaf, aku tidak bisa."


Lila berurai air mata memohon agar Deny tidak memutus hubungan dengannya.


Suasana menjadi senyap dan terasa tegang. Mama Deny tersenyum, ia berdiri di ikuti Deny.


"Kami permisi pulang, terimakasih atas kebaikannya selama ini." ucap Mama Deny dengan wajah berseri-seri.


"Aku tidak terima," Ayah Lila ikut berdiri, Ibu Lila membantu Lila berdiri.


"Kenapa? Sudah cukup sampai disini saja mereka berdua."


"Diana, kau jangan mempermainkan Putriku."


"Dari tadi aku diam loh, aku tidak yakin orang tuanya tidak tau apa yang dilakukan Putrinya."


"Diana!"


"Hiksss, maafkan aku," ucap Lila yang tidak sanggup menopang tubuhnya.


"Maaf, aku tidak bisa." Deny menghela nafas.


"Aku tidak mau ditipu olehmu lagi," lanjutnya.


"Aku akan bunuh diri jika kau memutus hubungan ini!" ancam Lila.


"Semenjak tadi malam, kita sudah bukanlah pasangan lagi."

__ADS_1


"Kami permisi, ya." pamit Mama Deny sambil tersenyum ramah. Ia akhirnya merasa lega karena Deny dan Lila sudah berpisah.


"Deny! Hiksss.. Deny!" Lila mencoba mengejar Deny dan Mamanya yang sudah pergi dari rumahnya.


"Ayah," Lila terjatuh di halaman rumahnya sambil menangis.


"*Sial! Kenapa sepeerti ini?! Ini bukan rencanaku!"


🍀🍀🍀*


Disisi lain, David menuju rumah Nia untuk meminta maaf. Nia terbaring lemas di ranjang akibat syok. Rino sedang berdiri di luar kamar Nia.


"Nak, duduklah. Kakimu tidak sakit dari tadi pagi berdiri."


"Tidak masalah, aku disini akan berusaha ada saat Nia membutuhkan sesuatu,"


David menarik nafas dalam-dalam saat akan masuk ke rumah Nia. Mama Nia membuka pintu, ia menatap datar David.


"Ada perlu apa?" tanya Mama Nia.


"Selamat siang, Bu. Saya kesini ada keperluan dengan Puspa."


"Mau menyuntikkan obat berbahaya lagi?"


David menghela nafas.


"Atas kejadian itu, saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Namun kali ini, saya kesini dengan tujuan baik."


Mama Nia akhirnya mengizinkan David masuk ke dalam rumah.


"Katakan, apa yang ingin kau sampaikan pada Nia?"


"Saya ingin meminta maaf secara langsung,"


"Setelah apa yang kau lakukan dan Nia hanya diam saja, apa maafmu cukup untuk membuatnya kembali sehat? Apa bisa membuat tubuhnya tidak mudah sakit?" Mata Mama Nia berkaca-kaca


"Aku tidak tau Anakku punya salah apa padamu, sampai kau begitu tega berniat membunuhnya perlahan, kau berniat membuat anakku menyusul Papanya."


David merasa bersalah.


"Saya sangat minta maaf atas apa yang telah saya lakukan terhadap Bu Nia, itu bukanlah murni niat saya."


Mama Nia mengerutkan dahi.


"Maksudmu?"


David menceritakan bahwa dirinya melakukan hal itu atas permintaan Lila.


"Kau percaya Nia bisa melukai orang seperti itu? Dia saja sampai mengalah dalam pernikahannya, dia diam dan tidak lagi mencari bukti untuk meangkap pelakunya, apakah kau fikir Nia benar-benar melukai kekasihmu itu, hah? "


Setelah beberapa saat David mendapat omelan dari Mama Nia, akhirnya ia di maafkan dan di izinkan menemui Nia di kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2