
FLASH BACK ON
Lila emosi atas penolakan Deny, terlebih ia ketahuan hamil di depan orang tuanya dan membuat dirinya harus menahan sakit akibat pukulan Ayahnya.
Lila menyewa 2 pembunuh bayaran lagi yang ia yakini kemampuannya sepadan dengan Rino.
"Aku mau kalian habisi wanita ini, jika berhasil 50 juta akan ku tranfser langsung ketika misi ini selesai." sambil menunjukkan foto Nia
"Ini foto Butiknya,"
"Oke siap."
Sore itu kedua suruhan Lila mengawasi Butik Nia dari kejauhan, dilihatnya ada perempuan yang tidak lain adalah Dinda keluar bersama Nia.
Salah satu dari suruhan Lila menelfon Lila.
"Halo, ini ada dua orang. Mereka pergi bersama."
"Hmmm, tetap laksanakan misiku. Habisi orang yang ada di foto itu, jangan orang lain."
"Ok"
Mereka membuntuti mobil yang dinaiki Nia dan Dinda. Mereka juga ikut parkir di taman kota.
Mereka terus mengawasi Nia dan Dinda yang asik berkeliling untuk membeli jajanan.
"Aku merasa kita sedang di ikuti," bisik Nia.
"Iyakah?"
"Iya. Perasaanku tidak enak."
"Masa sih?" Dinda menoleh ke berbagai arah dan tidak mendapati keanehan karena kedua suruhan Lila itu juga sedang membeli jajanan.
"Tidak ada yang aneh loh. Kau buru-buru mau ke rumah Deny?"
Nia menyenggol lengan Dinda pelan.
"Pokoknya kita pulang saja. Aku juga lupa bawa Hp."
Dinda menghela nafas kemudian mengiyakan.
"Beli Baby Crab Crispy dulu ya. Sepertinya enak."
"Satu kali lagi saja ya,"
"Iya, setelah itu kita pulang."
***
Nia dan Dinda langsung masuk ke mobil, Nia merasa sedikit lega. Manik mata Nia membulat saat melihat dua orang suruhan Lila ikut ke parkiran mobil dan sesekali menolah pada Nia.
__ADS_1
"Din, kita pulang sekarang!"
"Iya sebentar. Mau menyicipi Bany Crab nya? Enak loh."
"Duh, ayo kita pulang sekarang."
"Nia, tenanglah."
"Aku tidak bisa tenang. Mereka menuju parkiran," ucap Nia sambil menunjuk dua bawahan Lila dengan matanya.
"Mereka?" tanya Dinda.
"Entah. Intinya kita pulang sekarang. Jika kau sibuk makan, aku yang akan mengemudi!"
"Oke-oke kita pulang. Sabar," Dinda memasang sabuk pengaman.
Di perjalanan.
"Din, tidak bisa lebih cepat? Ini sudah jam 10, jalanan mulai sepi."
"Aku merasa ban mobilnya tidak enak, aku tidak bisa terlalu cepat."
Nia mendengus sebal.
Nia mencoba mengambil makanannya yang ada di kursi penumpang tengah, ia terkejut bercampur panik saat melihat kedua suruhan Lila ada di belakangnya.
"Din! Kebut Din! Mereka membuntuti kita,"
"Duh!"
"Nia, ban nya sepertinya kempes."
Nia menggigiti bibir bawahnya. Mobil yang ditumpangi Nia dan Dina terasa semakin tidak bisa di kendalikan.
"Nia, ban nya."
"Kebut sedikit lagi, kita lewat gang dekat sini. Cepat."
"Oke,"
Nia bernafas lega saat mereka masuk ke gang dan tidak mendapati mobil suruhan Lila yang sedari tadi ada di belakangnya. Mereka berhenti di gang di bawah lampu jalan. Nia turun di ikuti di Dinda untuk melihat Ban mobilnya.
"Tadi pas berangkat ban nya baik-baik saja, loh." ucap Dinda yang melihat kedua ban depannya kempes.
"Telfon Rino sekarang,"
"Aku tidak punya nomornya," jawab Dinda enteng.
"Astaga, aku juga tidak hafal nomornya."
Nia mendengar ada suara mobil mendekat,
__ADS_1
"Din, masuk mobil Din."
Keduanya masuk ke mobil, mereka melipat kursi penumpang tengah dan beesembunyi, tidak lupa ia menguncinya dari dalam.
Nia terus berdo'a agar mereka tidak ketahuan.
"Nia, aku sedikit takut."
"Kenapa kau baru takut, hah?!" Nia tidak hanis pikir pada Dinda.
Terdengar mobil suara mobil yang telah melewati mereka. Nia mengangkat kepala dan melihat mobil Suruhan Lila memang melewati mereka.
"Aman, Din. Kita harus meminta bantuan."
"Kita jalan kaki saja, yuk. Aku takut terus-terusan disini."
"Itu namanya kau menyerahkan diri."
"Kita minta bantuan orang sekitar saja, aku takut."
Nia setuju, mereka berdua keluar dari mobil dengan niatan akan meminta bantuan dari warga sekitar.
"Astaga, aku lupa. Hp ku kan ada di Butik, telfon saja nomorku. Pasti Rino masih ada disana sampai saat ini."
"Kenapa tidak bilang dari tadi sih?!" Dinda memukul pelan Jidatnya
"Aku lupa."
Dinda mengeluarkan Hpnya,.
"Diam di tempat." ucap salah satu suruhan Lila yang ada di belakang mobil Dinda sedari tadi,
Dinda menoleh dan mendapati Nia di todong pistol.
"Nia!"
"Letakkan Hp mu atau dia ku tembak."
"Oke-oke. Tolong jangan sakiti Nia." Dinda meletakkan Hp nya di aspal.
"Bergerak sedikit, nyawa temanmu akan melayang."
Dinda menelan ludah , ia gemetar, terlebih melihat ujung pistol yang menempel di pelipis Nia.
Tidak lama kemudian suruhan Lila yang membawa mobil tadi kembali, ia menempelkan sapu tangan di hidung Dinda dan membuat Dinda tidak sadarkan diri.
"Jangan sakiti Dinda."
"Diam!"
Mereka melakukan hal yang sama pada Nia. Keduanya telah pingsan dan dibawa ke gedung tak terpakai, mereka juga menghubungi Lila saat itu juga.
__ADS_1