
Malam itu juga Lila segera menuju rumah Deny dengan kepala yang sudah mengeluarkan kepulan asap.
"Kurang ajar!!"
Bersamaan dengan Lila yang baru sampai di rumah Deny, Deny juga baru datang. Ia segera memasukkan mobilnya ke garasi dan menemui Lila.
"Kok tidak mengabariku?" tanya Deny sambil menenteng rantang dari Nia.
Lila yang emosi langsung merebut rantang makanan di tangan Deny lalu membantingnya ke lantai. Deny mengepalkan tangannya melihat kelakuan Lila.
"Lila!!"
"Apa?! Makanan itu dari mantanmu itu, hah?!"
"Apa yang kau lakukan?!" Deny mengumpulkan rantang makanan Nia yang berhamburan,
"Ooohh! Sekalian itu nasinya di pungut juga!"
Mama Deny yang baru selesai mandi heran mendengar keributan di luar rumah. Ia segera berganti pakaian dan pergi untuk melihatnya.
"Ada apa sih, malam-malam begini," ujarnya.
"Lila! Kau tidak tau susahnya mencari uang demi sesuap nasi,!"
"Aku tidak peduli! Kenapa kau membela dia? kenapa?! Kau masih mencintainya?!"
Deny menggeleng. Melihat majikannya memunguti makanan di lantai, satpam segera membantunya.
"Tolong bawa ke dapur,"
"Baik, Tuan Muda."
"Lila, masuklah dulu. Kita bicara di dalam"
Lila menghela nafas kasar. Ia menepis tangan Deny yang akan menggandeng tangannya.
"Jangan sentuh aku menggunakan tangan kotormu itu!"
Deny mengerutkan alis.
"Kau pasti sudah memegang tubuh wanita sialan itu menggunakan kedua tanganmu, kan? Oh tidak, yang benar adalah kau telah menyentuhnya menggunakan tubumu!"
"Ada apa ini? Kenapa ribut di luar?!" Mama Deny terlihat tidak suka.
"Kalian kenapa bertengkar diluar? Ingat umur!"
"Tante, anakmu ini sudah mengkhianatiku untuk yang kedua kalinya,"
"Plak!"
Tamparan kerasa mendarat dengan lancar di pipi Lila.
"Memalukan! Pergilah dari sini jika hanya ingin membuat keributan!" Mama Deny lansung menutup pintu dengan keras.
__ADS_1
Lila menganga, ia semakin murka.
"K-Kau?! Cih!"
"Lila tenanglah. Ada apa sebenarnya?"
"Jangan pura-pura tidak tau! Apa yang kau lakukan dengan Nia, hah? Kalian nge*we di mobil?! Memalukan! Aku ini tunanganmu!"
Deny semakin terkejut.
"Apa maksudmu?"
"Jangan bohongi aku, Deny! Kalian melakukan hubungan suami istri di dalam mobil, kan?! Mengaku saja! Tadi aku menelfonmu dan yang menjawabnya adalah Nia, dia sampai mende*sah keenakan!"
Deny membulatkan mata.
"Ayo, kita selesaikan sekarang juga." Deny menarik Lila masuk ke mobil dan menuju ke rumah Nia.
Disisi lain di rumah Nia, Nia sedang menikmati angin malam di balkon sambil mengelus perutnya yang masih rata. Ia tersenyum saat melihat mobil yang ia kenali sedang menuju rumahnya, Nia segera menuju ke depan untuk membukakan pintu saat mobil Deny sudah berada di halaman rumahnya.
Dengan hati bebunga-bunga Nia membuka pintu, senyumnya memudar saat melihat Lila yang turun dari mobil lalu berjalan ke arahnya.
"Mas,"
Lila masih dengan wajah merah menyala sambil melipat wajah, matanya menggambarkan kebencian.
"Masuk dulu, ayo." ajak Nia sambil tersenyum ramah.
"Aku siapkan minum dulu, ya!"
"Kami kesini untuk menyelesaikan kesalahfahaman yang ada."
"Salah faham?" Nia duduk di sofa dan menghadap kedua tamunya.
"Apa yang kau lakukan saat aku sedang memeriksa mobilmu tadi?"
"Yang ku lakukan?" Nia nampak mencoba mengingat.
"Menunggu Mas Deny?"
Lila yang mendengarnya semakin kepanasan.
"Oh Lila, kenapa senyummu tidak ikut bersamamu malam ini? Sayang loh cantik-cantik tidak senyum," goda Nia saat melihat ekspresi Lila.
"Berisik,"
"Nia, sekali lagi aku kecewa padamu," ucap Deny.
Senyum Nia perlahan memudar, hatinya seperti dicubit.
"Ada apa, Mas?" tanyanya lembut.
"Kenapa kau sekarang suka berbohong? Apa kau masih belum mengikhlaskan kami menikah? Apa tujuanmu sampai kau melakukan hal itu?"
__ADS_1
"Hihihi, sebenarnya ada apa ini?" Nia mencoba tersenyum.
"Woy! Berhentilah sok baik!" Lila berdiri
"Kenapa kau membuatku kecewa lagi, Nia? Kau mempermainkan maaf yang ku berikan? Kenapa kau berbohong dan mengatakan kita tadi sedang melakukan hubungan suami istri? Dimana harga dirimu? Kenapa sampai berani mengangkat telfon orang tanpa seizinnya bahkan mengatakan hal yang tidak-tidak dan membuat tunanganku salah faham?"
Nia tersenyum hambar.
"Jawab, Nia. Apa alasanmu melakukan hal itu? Apa kau punya dendam pada kami? Apa kau berusaha mendekatiku karena butuh uang? Akan ku berikan jika kau memang butuh Dana untuk kembali membangun Butik pusatmu itu asal tidak menggunakan cara yang kotor seperti ini."
Lagi-lagi Nia hanya tersenyum.
"Katakan apa yang kau butuhkan. Bisakah kau berjanji tidak akan melakukan hal ini lagi? Jangan mempermainkan maaf yang kuberikan padamu,"
"Bisu kau, ya? Jawab!" bentak Lila.
"Sebelumnya aku minta maaf, Mas. Aku mengaku aku salah, mengenai Dana untuk Butik pusatku, aku sama sekali tidak ada niatan ingin meminjam satu rupiah pun dari Mas Deny,"
"Lalu kenapa? Kenapa kau melakukan hal itu? Perilakumu itu membuat citra Lila rusak dihadapan Mama! Aku juga tidak mengira bahwa aku pernah menikahi perempuan seperti ini,"
Nia tersenyum, ia mencubit betisnya sendiri untuk mengalihkan rasa sakit di hatinya.
"Hihi, iya. Maafkaan aku ya, Mas. Maaf juga ya, Lila."
"Maaf, maaf! Enteng banget! Kita sama-sama perempuan, tapi kenapa kau mengotoriku dengan cara seperti ini?"
"Kau masih cinta pada tunanganku? Ngotak dong! Siapa coba yang minta cerai, ketika ia sudah memilihku kau malah berusaha merusaknya."
"Harusnya itu kau sadar diri, sadar posisi. Kau itu orang baru, orang ketiga di antara kami, kalau bukan karena Mamanya pun tunanganku tidak akan mau menikah denganmu! Sadar diri itu penting, sayang. Jangan gatel jadi perempuan. Jadi Janda bukannya berkaca dan memperbaiki diri, eh malah berusaha jadi orang ketiga untuk yang kedua kalinya." Lila tersenyum mengejek.
Nia menghela nafas dan tersenyum
"Iya, aku minta maaf. Aku tidak akan ikut campur lagi dalam hubungan kalian" dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca.
Nia memandang Deny.
"Mas, aku sungguh minta maaf atas seeemuuuaaa kesalahanku. Mulai detik ini, aku tidak akan lagi mengganggu kalian berdua. Aku do'akan semoga kalian langgeng dunia akhirat dan selalu dilimpahkan rezeki serta kesehatan dan kemuliaan. Maaf untuk semuanya, ya?" Nia tersenyum lebar.
Nia mengedipkan mata beberapa kali karena merasa air matanya sudah tak sanggup ia bendung.
"Duh, kelilipen pula." Nia mengucek matanya.
"Oh iya, kalian menikahnya kapan? Dan Lila, kau mau kado apa dariku?"
"Kado yang ku minta adalah kau lenyap dari hadapan kami. Ayo pulang!" Lila menarik tangan Deny.
"Ohbegitu, ya. Semoga aku bisa mengabulkannya,"
Nia mengantar Deny dan Lila sampai keduanya masuk ke dalam mobil.
"Semoga kalian bahagia selalu!" ucap Nia saat mobil Deny mulai pergi menjauh.
Setelah mobil Deny tak lagi terlihat, Nia dengan masih tersenyum masuk ke dalam rumah dan menutup pintu dengan lemas, senyumnya memudar dan berganti tangis.
__ADS_1
"Nak, kita bertiga saja ya. Kamu, Mama dan Nenek"