Mekarnya Bunga Layu

Mekarnya Bunga Layu
Mau Uang Berapa?


__ADS_3

Sudah 3 hari Nia merawat Deny, Nia mengatakan ini adalah bentuk pertemanan. Ia berpamitan pulang siang itu karena mendapat telfon dari Mamanya.


☘☘☘


Kabar tidak mengenakkan datang, butik pusat yang di kelola Mama Nia hangus terbakar, Nia memeluk Mamanya yang menangis tersedu-sedu melihat pemandangan Petugas Pemadam kebakaran sedang memadamkan si jago merah yang sedang melahap bangunan butiknya.


"Nia, butik kita!!"


"Mama tenang, Ma."


Sore harinya Mama Nia dibawa pulang dan beristirahat, Nia memulul jidatnya pelan karena meninggalkan tas nya di kamar Deny.


Nia bergegas menuju rumah Deny untuk mengambil tasnya.


'Ceklek' Nia mengatur nafas lalu membuka pintu, ia terkejut melihat Lila yang sedang berdiri didepan pintu dengan tatapan seperti siap memangsa Nia.


"Oh, si ja*lang datang lagi," ucap Lila sambil berkacak pinggang dan menyunggingkan bibir.


"Apa sih!" Nia memutar mata dan langsung mengambil tasnya.


"Sayang, jangan salah faham." ucap Deny


"Diam. Bisa-bisanya saat aku pergi, kalian malah memadu kasih!"


Lila meraih tas Nia dan membantingnya ke lantai. Nia memicingkan mata dan lalu mengambil tas nya kembali. Baru saja tangan Nia akan meraih tas nya, Lila langsung mengambilnya duluan.


"Ini tas pasti dari pakai uangnya Deny kan?!"


"Sembarangan!" Nia menarik tasnya namun ditahan oleh Lila.


"Mengaku saja lah! Susah amat!" Lila menarik tas Nia dan terjadilah tarik menarik,


Deny yang melihatnya berusaha bangun walau kepalanya terasa sangat pusing.


"Hentikan, Lila."


"Mas diam saja, kalian benar-benar jahat!"


"Lila, kau sakit jiwa!" Nia langsung mendapatkan tas nya kembali.


"Kau yang sakit jiwa! Berani menikahi pacar orang! Menjadi perempuan yang sok tersakiti! Dan sekarang kau berusaha menghancurkan hubunganku dengan pacarku ini?! Licik! Jahat!"


Nia mengepalkan tangan dan menarik kerah baju Lila.


"Aku bukanlah pelaku, kau saja yang kurang sadar diri," ucap Nia dengan penuh tekanan disetiap kata yang ia lontarkan.


Nia berpamitan pulang, setibanya di rumah Nia mendapat telfon dari Deny.


"*Tolong maafkan kelakuan Lila tad*i, dia tidak dapat mengendalikan emosinya,"


"Iya, Mas. Aku baik-baik saja. Apa Mas Deny sudah merasa baikan?"


"Lumayan,"


"Baiklah, kalau begitu aku tidak lagi kesana besok. Kalau masih belum sembuh total, sudah ada Lila."


"Ee Anu, tolong rawat aku lagi, aku akan memberimu upah yang pantas."


Nia tersenyum.

__ADS_1


"Tidak perlu memberi upah, kita kan berteman,"


"Heheh"


***


Di sisi lain di kamar Deny.


Lila masuk ke kamar Deny sambil membawa minum.


"Kenapa tidak memberitahuku kalau kau sakit?"


"Aku tidak mau mengganggu acaramu bersama Ayahmu,"


"Tapi kan aku cemburu!"


"Iya, maaf ya."


"Lagipula palingan dia mendekatimu karena ada maunya,"


"Maksudnya?"


"Ku dengar Butiknya kebakaran tadi siang,"


Deny terkejut, terlebih Nia tidak mengatakan apapun.


"Tapi dia tidak mengatakan apapun,"


"Ya karena dia sengaja, nanti pasti dia akan memanfaatkanmu, kan yang kebakaran pun butik Pusatnya."


"Hus! Jangan bicara seperti itu,"


"Dia akan minta bantuan pada siapa lagi coba? Kan mereka tidak punya saudara, ekonominya pasti juga nanti mrosot. Aku kasihan sih sama Mama kamu, pasti nanti di porotin dengan atas nama pertemanan."


Lila memasukkan obat ke dalam mulutnya sendiri, ia duduk di samping Deny dan mendekatkan wajah mereka, tangannya memegang dagu Deny.


"Buka mulut,"


Deny membuka mulut dan Lila langsung memasukkan obat ke mulut Deny menggunakan lidahnya, ia menyodorkan air minum pada Deny.


"Sekarang kau fikir saja, kenapa dia dengan mudah minta ditalak kalau memang dia cinta sama kamu, dan dia sekarang jadi punya alasan untuk selalu mengganggu kita."


Setelah meneguk air, Lila menyatukan bibirnya dengan bibir Deny, ia mel*umat bibir kering pucat Deny. Deny yang normal pun tidak menolaknya.


"Jujur saja, aku rindu hal ini," batin Deny


Semenjak ia berpisah dengan Nia, ia tak lagi mendapat jatah biologis, setelah lama baru ini Lila menciumnya lagi. Dengan agresifnya Lila membuka kancing baju tidur Deny dan memainkam pu*ting Deny dan hal itu membuat Deny semakin geli dibagian batang keadilan dan tidak tahan, namun ia menahan rasa itu karena yang ia tau Lila masih per*awan.


Deny menghentikan aksinya dan berbaring.


"Kenapa? Apa mantan istrimu lebih jago daripada aku?" tanya Lila sambil mengatur nafas.


Deny menggeleng, ia memiringkan tubuh memunggungi Lila.


"Ingat kataku, sayang. Dia pasti ada maksud dan tujuan dibalik dia bersikap baik padamu dan Mamamu"


Deny memejamkan mata sambil memikirkan perkataan Lila.


☘☘☘☘

__ADS_1


Keesokan paginya Nia kembali kerumah Deny karena permintaan Deny sendiri kemarin.


'Ceklek'


"Mas," panggil Nia sambil membuka pintu kamar Deny. Nia tersenyum saat melihat Deny sudah bisa berdiri dan saat ini sedang berdiri di depan jendela kamar membelakangi Nia.


"Syukurlah Mas Deny sudah pulih," ucap Nia dan berdiri di belakang Nia.


Deny membalikkan tubuh dan memegang kedua bahu Nia, jantung Nia berdegup kencang.


"Berapa yang kau inginkan?" tanya Deny tiba-tiba.


Nia menyatukan Alisnya.


"Maksudnya?"


"Berapa upah yang kau inginkan? 50 juta? 100 juta? Atau berapa?"


"Aku tidak menginginkan upah, Mas. Aku Ikhlas membantu Mama untuk merawatmu."


Deny melangkah ke arah pintu dan mengunci pintu dari dalam, Nia agak panik.


"Jangan lagi berpura-pura, katakan saja nominalnya. Bukankah kau sangat butuh untuk memperbaiki ekonomimu akibat Butikmu yang terbakar?"


Nia membulatkan mata, ia menghempaskan kedua tangan Deny.


"Apa maksudmu, Mas? Merawatmu saat sakit tidak ada kaitannya dengan musibah yang menimpaku!"


Deny mencengkaram bahu Nia lagi dan mendorongnya ke ranjang. Nia terkejut. Nia membuka mulut untuk berteriak namun langsung ditahan oleh Deny menggunakan besarnya. Nia melotot saat Deny mendekatkan wajahnya. Sekuat tenaga ia mendorong tubuh Deny namun tetap kalah dan akhirnya Deny melu*mat bibir Nia.


"Manis," batin Deny.


Air mata mengalir dari sudut mata Nia. Deny menyudahi aksinya saat melihat Nia menangis. Deny tertawa meremehkan Nia.


"Benar yang dikatakan Lila, kau tidak mencintaiku Nia. Jika kau mencintaiku, kau tidak akan dengan mudahnya meminta talak dan harusnya kau tidak menolak ciumanku. Katakan, berapa uang yang kau butuhkan, heh?"


Nia berdiri,


"Plak!"


Tamparan mendarat mulut di pipi Deny.


"Kau fikir aku wanita macam apa? Kenapa kau tetap buta?! Kenapa tidak bisa tau mana yang berbohong mana yang tidak?!"


"Aku pulang!"


Nia langsung keluar dari kamar Deny,


"Loh, kenapa?" Mama Deny bingung melihat Nia yang menangis.


"Tidak apa-apa, Ma. Nia mau pulang,"


"Bareng Mama saja ya, Mama mau berkunjung untuk menenangkan Mama kamu. Pasti dia sangat syok karena kebakaran kemarin,"


Nia mengangguk. Setelah Nia pulang, kamar Deny terasa sunyi sepi, ia duduk di ranjang sambil mengusap kasar wajahnya.


****


"Kurasa aku harua mengikhlaskan Mas Deny dengan Lila. Jika aku tetap memperjuangkannya, akan semakin banyak kesalahan yang akan dilempar padaku." Nia menarik selimut dan menangis sambil mengigit bantal untuk meredam suaranya.

__ADS_1


"Disisi lain aku tidak ingin rumah tanggaku benar-benar berakhir,"


__ADS_2