Mekarnya Bunga Layu

Mekarnya Bunga Layu
Ketahuan!


__ADS_3

Kembali lagi pada posisi David, Lila dan Deny.


Setelah memarkir mobilnya, David menutupi wajahnya menggunakan tas kerjanya dan masuk ke dalam cafe, ia memilih duduk di meja paling pojok dan tertutup oleh pengunjung lainnya. David dibuat geram saat melihat Lila dan Deny begitu mesra. Satu jam berlalu, David keluar lebih dulu saat Deny sedang pergi melakukanw pembayaran.


Senyum Lila memudar saat melihat David sedang bersandar di mobilnya yang ada di sebelah mobil Deny. Ia beralih bersandar di mobil Deny.


"Begitu ya rupanya," ucap David tersenyum.


"Maaf, kau siapa?" tanya Deny bingung terlebih melihat ekspresi tegang Lila.


"Aku David, Dokter yang pernah menangani pasien dengan bernama Nia."


"Lalu ada apa ini? Kau menghalangi kami."


"Jawab, Lila."


"Kau kenal?" Deny terkejut.


"Dia..."


"Aku pacarnya," David mengulurkan tangan pada Deny.


"Ha?! Maksudnya?!"


"Aku pacarnya Lila, Pak Deny. Selamat malam."


"Lila?"


"Benar kan sayang?"


"Deny, tolong jangan percaya padanya."


"Oh, begitu." David menarik Lila dan mencium bibir Lila.


"Aku merasakan mulutmu penuh kebohongan," ucap David lalu mendorong pelan Lila dan di tangkap Deny.


"Pantas saja Hp mu tidak boleh ku pegang, ternyata?"


"David! Kita putus. Aku sudah bertunangan dengan Deny."


David tertegun.


"Tunangan?" rasanya David tidak percaya dengan semua ini.


"Di belakangku?" lanjutnya. Mata David berkaca-kaca.


"Lila, kau benar-benar memiliki hubungan dengannya?" Deny melepas tangan Lila yang menggandengnya.


"Jawab aku!" Lila bingung dan panik.


"Sayang, aku sudah memutuskannya saat itu."

__ADS_1


"Saat itu kapan, Lila?"


"Saat... Saat belum bertunangan denganmu."


"Berarti sebelum bertunangan denganku, kau sudah bersamanya?!"


Lila menundukkan kepala.


Deny yang kecewa bercampur emosi melepas cincin tunangan yang tersemat di jarinya.


"Aku sangat kecewa padamu. Kita cukup sampai disini."


"Aku telah membuang berlian demi dirimu," lanjutnya lalu melempar cincinnya ke sembarang arah.


"Tidak! Aku tidak mau! Aku mencintaimu, Deny!"


Deny menitikkan air mata.


"Aku harusnya percaya pada Nia,"


Sambil berurai air mata, Lila mencoba menahan Deny agar tidak pergi namun Deny langsung masuk ke mobil dan meninggalkan Lila bersama David.


"Sakit, ya?" tanya David.


"Apa maumu?!"


"Kau benar-benar tidak tau malu ya? Apa kau tidak merasa bersalah sedikitpun padaku? Aku telah melakukan banyak hal untukmu, Lila."


"Karena dia jauh lebih kaya dariku?!"


"Kau harus bertanggung jawab, Deny harus kembali padaku!"


"Tadinya aku marah pada laki-laki itu, ku kira dia yang merebutmu dariku. Tapi ternyata dirimu lah yang telah menipu kami berdua."


"Terserah kau mau bicara apa!" Lila menyeka air matanya.


'Drrtt drttt' Lila mengambil Hp nya dan melihat pembunuh bayaran sewaannya itu menelfonnya. Lila agak menjauh dari Deny.


"Halo, bagaimana?"


"Selamat malam, Bu Lila."


"Rino? Kau Rino?"


"Wah pintar sekali, sekali tebak langsung benar."


"Apa yang kau lakukan? Mana yang punya hp ini?!"


"Kemana ya? Sudah di pintu akhirat sih sepertinya. Kenapa? Mau menyusul?"


"Kurang ajar! Jangan main-main."

__ADS_1


"Aku tidak main-main. Oh iya, kenapa kau bicara seperti berbisik-bisik? Apa kau sedang bersama mantan suami Nia? Tunanganmu maksudku."


"Rino, berikan Hp itu padanya!"


"Sudah ku bilang, dia sedang menunggumu di akhirat. Mau ku antar?"


"Berhenti becanda!"


"Dengar Lila, aku tidak bercanda. Orangmu sudah mati."


Lila tidak bisa berkata-kata.


"Sudah ku katakan sebelumnya, bawahanmu itu tidak pandai menggunakan senjata api maupun senjata tajam. Ya sudah, sekarang dia sedang liburan ke alam abadi."


"Kurang ajar!"


David merebut Hp Lila karena melihat Lila yang serius berbicara dengan lawannya di telfon.


"Katakan apa yang kau tau," perintah David


"Oh ini suara laki-laki yang berbeda, ya?"


"Aku pacarnya, katakan apa urusanmu menelfonnya"


"David kembalika Hp ku!" berusaha merebut Hp nya namun tangan Lila langsung dicekal oleh David.


"Oh, aku menelfon mantan majikanku itu untuk memberi taunya bahwa orang sewaannya yang ditugaskan untuk membunuhku dan Nia sudah ku kirim ke akhirat."


"Menghabisi kau dan Nia? Nia?"


"Iya, Nia. Aku minta maaf ya karena telah menggagalkan rencananya lagi, selamat malam."


Rino langsung mengakhiri telfon, ia menangkan Nia yang masih syok.


"Kau menyewa pembunuh untuk membunuh orang?" tanya David tidak percaya.


"Apa urusanmu!" Lila merebut Hp nya lagi.


"Sungguh keji. Kau cocok tinggal di balik jeruji besi."


"Sebelum kau melaporkanku, aku akan melaporkanmu karena kau telah melanggar sumpah Dokter dan mencampurkan obat bebahaya pada Nia."


"Kau tidak punya bukti cukup kuat, loh." David menyeringai.


"Aku punya saksi orang yang menelfonmu tadi," lanjutnya.


Mereka menghentikan pertengkaran saat ada pengunjung lain yang menuju parkiran.


"Aku memutuskan hubungan asmara denganmu, aku akan menjengukmu saat di penjara nanti." ucap David setelah pengunjung lainnya pergi dari parkiran.


"David!"

__ADS_1


__ADS_2