
Dinda dan Nia berhenti saat Mobil Lila masuk ke sebuah rumah.
"Oh ini rumahnya?" tanya Dinda.
"Mungkin, aku juga tidak tau."
"Kita turun sekarang?" tanya Nia.
"Besok saja. Sepertinya aku sedikit merasa lelah,"
"Oke, kita pulang ya?"
Nia mengangguk.
☘☘☘
Keesokan paginya.
Nia merasa tubuhnya sangat berat untuk melangkah, kepalanya pusing. Ia segera menelfon Dinda dan mengatakan tidak jadi menyelidiki Lila.
"Biar aku saja," pinta Dinda.
"Mana bisa begitu,"
"Bisa lah. Sudah, kau istirahat saja ya, biar aku yang kesana,"
Setelah mengakhiri telfon, Dinda segera menuju rumah yang mereka tandai sebagai rumah Lila. Dinda turun dari mobil dan bertanya pada salah satu tetangganya.
"Permisi, Bu."
"Iya,"
"Mau numpang tanya, Bu. Ini rumahnya Lila, bukan?" sambil menunjuk rumah Lila.
"Benar, nak. Itu rumahnya Lila. Kamu siapanya?"
"Saya teman lamanya dan menetap di luar negeri, kami juga los kontak, dengan beberapa sisa ingatan saya, saya kesini hihi."
"Oohhh begitu, mari masuk dulu,"
"Terimakasih, Bu. Disini saja,"
"Oh iya, Lila ini sekarang tinggal sendiri atau bagaimana, Bu?"
"Kok tidak bertanya langsung padanya? Kamu benar-benar temannya kan? Kok tidak tau tentangnya?"
"Jadi, seperti yang saya katakan tadi, kami los kontak selama 10 tahun lebih. Saya takut salah bicara padanya nanti,"
"Oooh, begitu. Dia tinggal bersama kedua orang tuanya."
"Lila belum menikah kan, Bu? Haduh, kalau sampai sudah menikah saya makin malu bertemu dengan dia."
"Oh, belum. Tapi, dia sudah punya pasangan."
Dinda semakin semangat.
"Wah, dia tidak bilang ke saya itu. Siapa pasangannya, Bu? Akan saya omeli dia nanti karena saya tidak di beritahu."
"Pacarnya Lila itu seorang Dokter, dia sangat tampan."
"Hah? Dokter? Bukannya Deny bukan Dokter?" batin Dinda.
"Wow, Dokter?!"
"Iya, kalau tidak salah namanya David. Mereka sangat serasi. "
"Apa?! David?!" batinnya
"Sepertinya saya pernah dengar nama itu, Bu."
"Sebentar, saya ada fotonya. Dulu saya pernha jadi pasiennya,"
"Oke, Bu."
Setelah 10 menit menunggu, tetangga Lila keluar dari dalam rumah membawa foto dirinya di rumah sakit bersama keluarganya dan seorang Dokter yang merawatnya.
__ADS_1
"Ini,"
"I-Ini?" Dinda terkejut saat melihat foto itu.
"Ini kan Dokter yang merawat Nia saat itu?" batin Dinda.
"O-Oohh, ini. Tampan ya. Boleh saya foto, Bu?"
"Boleh-boleh. Benar kan saya bilang, dia sangat tampan."
Dinda mengangguk, ia merogoh tas nya untuk mengambil Hp, namun tidak ada.
"Astaga, Hp ku dimana coba?" gumamnya sambil menggeledah tas nya sendiri.
Dinda memukul jidatnya, ia ingat meletakkan hp di ranjangnya tadi setelah menfapat telfon dari Nia.
"Haduh, saya lupa bawa hp, Bu. Boleh saya pinjam dulu fotonya, Bu?"
"Duh, tidak bisa. Maaf ya,"
Dinda menghela nafas dan tersenyum. Setelah berpamitan ia segera menuju rumah Nia dan menyampaikan apa yang ia dapat.
"Yakin?"
Dinda mengangguk.
"Aku jelas melihat foto itu adalah Dokter yang merawatmu kemarin,"
Nia memijit pelipisnya.
"Kita harus bertanya langsung pada Dokter David," ujar Nia.
"Memangnya dia orang yang bebas kita temui kapan saja?"
"Hmmm iya juga ya."
"Tapi aku belum bisa percaya betul,"
"Astaga Nia, kau fikir aku ini rabun? Tidak! Itu benar Dokter yang mengobatimu,"
"Hp ku tertinggal, tau." Dinda berkacak pinggang.
"Baiklah, semoga ada keajaiban agar aku bisa bertemu dengan Dokter Andre,"
☘☘☘
"Mau kemana?" tanya Mama Nia.
"Mau ke cafe dulu, Ma. Ingin cari menu baru hehe."
"Jangan terlalu larut malam pulangnya,"
"Siap!"
***
Nia keluar dari mobil dan masuk ke dalam sebuah cafe baru. Saat menunggu pesanannya tiba, Nia mihat Dokter David dan Lila baru masuk ke cafe. Mereka terlihat sangat mesra.
Lila menoleh sekilas ke samping, ia membulatkan mata saat mendapati Nia sedang menatapnya. Lila panik,
"Ada apa?" tanya David.
"Tidak ada, ayo duduk."
David tersenyum dan melihat menu. Nia mengedipkan matanya berkali-kali, takut ia salah lihat. David yang menyadari Lila sedang gusar ikut melihat ke arah yang membuat Lila tidak tenang.
"Eh, Selamat malam Bu Nia." sapa David.
Nia mengangguk dan tersenyum, pesanan Nia pun datang. Nia menyantapnya perlahan sambil terus memperhatikan Lila dan David.
"Kau kenal?" tanya Lila.
"Dia pernah jadi pasienku,"
"Oh,"
__ADS_1
"Kau cemburu?"
Lila menggembungkan pipi, David tersenyum lalu mencubit pelan pipi Lila.
"Uhuk!" Nia yang melihatnya sampai tersedak. Tiba-tiba ia merasa ingin BAK, ia segera menuju toilet.
"Aku ke toilet dulu, ya." izin Lila.
"Mau ku antar?"
"Tidak, sebentar yaa!"
"Iya,"
****
Saat membuka pintu toilet, Nia sudah dihadang Lila.
"Apa?" tanya Nia.
"Apa maksudmu kemari?" Lila bertanya balik
"Apa kau panik? Takut aku melaporkan hal ini pada Mas Deny?" Nia menyunggingkan bibir sambil menunjukkan foto David dan Lila.
"Kau mengancamku? Dengar ya, kalau kau sampai mengadu pada Deny, kau akan merasakan hal yang menyakitkan!" ancam Lila.
"Hal yang menyakitkan? Kau fikir aku berpisah dengan Mas Deny tidak menyakitkan? Aku, istri sahnya telah mengalah dan merelakan suamiku memilih dirimu, apa yang kau lakukan? Memiliki kekasih lain dibelakang Mas Deny? Kau mempermainkannya."
"Kau tidak berhak ikut campur, Pelakor!"
"Aku berhak! Aku masih mencintainya, aku tidak akan membiarkan orang yang ku cintai menikahi perempuan licik sepertimu," Nia melangkah namuan di cegah oleh Lila.
Lila mengambil sebilah pisau kecil dari dalam tas nya.
"Apa yang kau lakukan? Mau membunuhku?"
Lila menodongkan pisau di leher Nia.
"Jika kau berani mengadu, pisau ini akan memberi tanda cinta di lehermu,"
"Aku tidak takut, hump!" Nia mendorong tubuh Lila dan keluar dari kamar mandi.
Merasa Lila terlalu lama ke kamar mandi bahkan Nia sudah kembali dari kamar mandi, David berniat menyusulnya.
"Dokter, aku duluan. Mari," pamit Nia yang baru selesai membayar pesanannya.
"Baik, Bu. Silahkan."
David segera menyusul ke kamar mandi.
'Kriiieeett' David membuka pintu. Melihat pintu yang terbuka, Lila langsung menyayat pergelangan tangannya sendiri.
"Sayang !!" David panik melihat darah mengalir dari pergelangan tangan Lila.
"Sakit," rintih Lila.
"Apa yang terjadi?!"
"Dia melakukannya,"
"Siapa?!"
"Pasienmu tadi,"
"Bu Nia?!"
Lila mengangguk perlahan.
"Aku pernah tidak sengaja merobek baju di butiknya, dia membalasku seperti ini,hikss.. padahal aku sudah minta maaf."
David mengeluarkan sapu tangan dan mengikatnya di luka Lila untuk mengurangi darah yang terus mengalir.
"Aku ingin dia dibalas," lirih Lila.
David mengangguk, ia segera mengangkat tubuh Lila.
__ADS_1