Mekarnya Bunga Layu

Mekarnya Bunga Layu
Dinda dan Nia ke Taman Kota


__ADS_3

🍀🍀🍀


Keesokan harinya. Hari mulai sore, oara karyawan Nia berpamitan pulang kecuali Rino yang akan mengantar Nia pulang nantinya.


"Tok tok tok"


"Masuk," sahut Nia lemas.


"Niaaaaa~" Dinda datang sambil merengek.


"Dinda? Ada apa? Kenapa menangis?"


"Aku habis bertengkar dengan calon suamiku." Dinda menyeka air matanya.


"Ada apa memangnya? Ayo duduk dulu."


"Dia kan sudah berjanji padaku akan mengajakku jalan-jalan, sekali dua kali tetap tidak ia tepati tau."


Nia menghela nafas dan tersenyum.


"Menjelang pernikahan, masalah kecil jadi besar." ucap Nia


"Hump!"


Dinda melipat kedua tangannya didepan dadanya.


"Mau makan sesuatu?"


"Mau" Dinda tersenyum lebar.


"Kurasa aku ada stok pop mie di dapur."


Senyum Dinda memudar, ia menatap Nia dengan tatapan malas.


"Miiieeeee terus. Bosan aku."


"Jalan-jalan keluar, yuk. Kalau malam hari di dekat taman kota banyak pedagang kaki lima yang buka." ajak Dinda.


"Tapi aku sedang tidak mood,"


"Ayolah, kumohon." sambil menampilkan wajah terimut Dinda.


Nia berfikir sejenak.


"Kurasa bukan ide buruk."


"Nahhh! Ayo berangkat,"


"Pakai mobilku saja," ucap Nia.


"Tidak mau. Pakai mobilku saja. Aku yang akan mengemudi."


"Baiklah."


Nia menutup laptop dan mengambil tasnya.


"Rino, ini mobilku tolong diantar ke rumah, ya." sambil menyerahkan kunci mobil.

__ADS_1


"Mau kemana?"


"Mau ke taman kota menemani Dinda yang sedang sedih."


"Aku akan mengantar kalian,"


"Tidak!" tolak Dinda.


"Nanti aku tidak bisa bicara bebas dengan Nia, apalagi curhatan sesama perempuan."


Nia terkekeh pelan.


"Aku tidak akan pergi lama, mungkin satu atau dua jam saja."


"Kalau begitu aku akan menunggumu disini."


"Eh?"


"Aku harus memastikanmu benar-benar selamat sampai di rumah."


"Heemm, baiklah."


"Hati-hati."


"Iya. Kami berangkat." pamit Nia lalu masuk ke mobil Dinda.


Disisi lain Deny sedang mengamati cincin yang masih ada di dalam box nya. Ia berencana memberikannya pada Nia sebagai tanda perpisahan jika Nia memang tidak lagi bersama dengannya.


Yang tadinya Deny merasa sedih, tiba-tiba suasana hatinya berubah sedikit cemas.


Kembali pada Nia dan Dinda.


"Dinda, nanti tolong antar aku ke rumahnya Mas Deny."


"Ada urusan?" tanya Dinda yang tetap nelihat ke depan.


"Aku merasa rindu pada Mamanya Mas Deny. Jika beruntung, aku bisa bertemu dengan Mas Deny dan meminta maaf atas apa yang ku katakan tempo hari."


"Eh? Kalian habis bertengkar lagi?"


Nia mengangguk.


"Kenapa? Coba ceritakan."


"Ya, seperti biasa ini hanyalah akal-akalan Lila."


"Cih, wanita itu!"


Sesampainya di taman kota Dinda mengambil struk tiket pembayaran lalu memarkirkan mobilnya.


"Wah, sudah ramai." ujar Dinda


"Iya." Nia tersenyum.


"Mari kita berburu jajanan!" Dinda menarik tangan Nia.


***

__ADS_1


Waktu terus berjalan, kini jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Rino mulai cemas karena sampai saat ini Dinda dan Nia belum kembali.


"Hmmm, dua jam apanya kalau sampai selarut ini?" sambil terus memperhatikan jam dinding.


"Apa ku telfon saja? Tapi tidak usah lah, takut aku menganggu waktu mereka berdua."


"Tapi, ini sudah larut malam. Apa mereka pergi ke tempat lain sampai lupa waktu?"


Rino semakin cemas saat jam menunjukkan pukul 23:20 WIB.


"Ini sudah lewat dari dua jam. Apa mereka baik-baik saja?" Rino mengambil Hp dan mencoba menelfon Nia.


Nomor Nia bisa di hubungi namun Rino terkejut saat mendengar suara nada dering Hp Nia dari dalam ruangan Nia.


"Eh?!!"


Rino menelfon ulang dan benar suara itu berasal dari dalam ruangan Nia. Ia langsung membuka pintu dan masuk ke dalam, ia mencari asal sumber suara dan mendapati Hp Nia tergeletak di samping laptopnya.


"Hp nya tertinggal," jantung Rino berdegup kencang.


Rino mengambil Hp Nia dan ternyata tidak di kunci.


"Tolong maaafkan aku, Nia." ucapnya sambil mencari nomer hp Dinda.


Setelah ketemu, ia langsung menelfon Dinda.


Awalnya nomer Dinda tidak aktif, WhatsApp nya juga tidak online. Ia mencobanya lagi namun hasilnya tetap sama.


"Apa mereka sedang bersama Deny?" batin Rino.


Rino mencari kontak Deny lalu menelfonnya.


Deny yang baru akan tidur terkejut mendapat telfon dari Nia di jam saat ini.


"Nia?"


"Halo, Nia."


"Halo, aku Rino. Kau bersama Nia dan Dinda?"


"Kenapa Hp Nia ada pada padamu? Mereka berdua tidak bersamaku. Aku di rumah."


"Astaga!"


"Memangnya ada apa?" tanya Deny yang ikut cemas.


"*Mereka berdua belum kembali dari so*re tadi,"


"Yang benar?!"


"Untuk apa aku berbohong? Ku fikir mereka sedang bersama denganmu."


"Kau dimana sekarang?"


"Aku masih menunggu Nia di Butik."


"Aku akan segera kesana." Deny menutup telfon dan langsung berganti pakaian lalu bergegas ke Butik Nia.

__ADS_1


__ADS_2