
🍀🍀🍀
Deny menuju Butik Nia.
"Bagaimana?" Tanya Deny pada Rino
"Nomor Dinda masih tidak bisa di hubungi."
"Huuufttt! Kemana mereka?!"
Deny langsung ingat untuk menelfon Mama Nia.
"Halo, ada apa Denny?"
"Halo Tante, Nia ada di rumah?"
"Tante masih belum pulang, masih ada di butik. Mungkin nanti jam 12 baru mau pulang karena masih ada sedikit pekerjaan."
"Oh, begitu ya."
"Coba telfon saja."
"Heheh kita sedang marahan, Tante."
"Hemmm, kalian ini. Selesaikan dulu permasalahan kalian, jangan ada kesalah pahaman lagi."
"Iya, Tante."
"Baiklah, Tante masih ada pekerjaan."
"Baiklah,"
Deny menutup telfon.
"Bagaimana?" Tanya Rino
"Nia juga tidak ada di rumah."
"Astaga, mereka kemana?!"
Rino mencoba menelfon nomor Dinda lagi karena melihat Dinda Online, namun saat di telfon Dinda sedang di panggilan lain.
Selang beberapa menit kemudian Dinda menelfon pada Nomor Nia, dengan cepat Rino menjawabnya.
"Kalian dimana?"
"Dimana, ya?" Rino terkejut mendengar suara yang bukanlah suara Dinda maupun Nia.
"Lila!"
"Wah, bisa dikenali ya? Hihi."
"Apa-apaan ini? Apa maksudmu? Kenapa bisa Hp Dinda ada padamu?"
"Ya begitulah."
__ADS_1
Deny merebut Hp Nia dari tangan Rino setelah mendengar Rino menyebut nama Lila.
"Lila, jangan macam-macam!"
"Eh, ini Deny ya? Waaahh, kalian sedang bersama saat ini? Syukurlah kalau begitu, aku tidak perlu repot-repot menghubungimu untuk meminta dirimu agar kemari dan menyaksikan kematian Nia dan juga temannya itu."
"Lila, mereka berdua ada dimana?!"
"Dimana ya? Mereka di dekatku sih. Mereka masih pingsan."
"Jangan sakiti mereka!"
"Yah, kita lihat saja nanti. Kalau mood ku bagus, mereka pasti masih hidup."
"Cih! Kalian dimana?!!"
"Mau kesini ya? Wah aku terharu. Kami ada di gedung terbengkalai di sudut kota arah barat."
"Aku akan menunggu kehadiranmu untuk menyaksikan kematian mereka berdua. Papay!"
Lila mengakhiri telfon.
"Gedung terbengkalai?" Tanya Rino
"Iya, jarak tempuhnya memakan waktu 1 jam."
"Kita harus segera kesana." Ucap Deny.
"Pakai mobilku saja." Lanjut Deny.
"Oke."
Sesampainya di rumah Rino, Rino berlari masuk ke rumahnya dan mengambil pistol dan pisau, setelah selesai ia kembali ke mobil Deny.
"Pisau?" Tanya Deny saat Rino melihat ujung pisau di saku depan celana Rino.
"Diamlah."
Deny menelfon David.
"David, bisakah kau datang ke lokasi yang sudah ku share?"
"Malam ini?"
"Iya. Nia dan Dinda ditahan oleh Lila di gedung itu. Tolong bawalah peralatan medis untuk jaga-jaga jika Nia dan Dinda terluka."
"Aku mengerti."
Deny dan Rino melanjutkan perjalanan mereka dengan kecepatan tinggi
.Sesampainya di lokasi, mereka berdua memandangi gedung tidak terpakai tanpa adanya penerangan dan di lantai ada ruangan yang hanya ada cahaya remang-remang.
"Mereka pasti ada disana." Ucap Rino
Dengan bantuan senter Hp, mereka menuju lantai paling atas tempat Nia dan Dinda ditahan.
__ADS_1
"Halo," sapa Lila yang sedang meneguk Jus.
Deny membulatkan mata melihat Nia dan Dinda duduk terikat di kursi dengan kepala yang ditutupi kain.
Dua pria dengan badan besar dan wajah sangar sudah berada di belakang Nia dan Dinda sambil menodongkan pistol di kepala Nia dan Dinda.
"Lila, lapaskan mereka!" Deny mengepalkan tangan, Rino menatap Lila dengan tatapan penuh kebencian
"Tidak mau," ucap Lila sambil meletakkan gelas di meja.
"Aku sudah menunggu kalian dari tadi, akhirnya datang juga. 1 jam loh aku dibuat menunggu." Lanjut Lila
"Rino, kau tidak bawa senjata apapun? Astaga, kalian kesini tanpa senjata sama saja mengantarkan nyawa dengan suka rela."
"Lepaskan mereka, Lila. Aku bersedia menjadi bawahanmu tanpa upah asal mereka di lepaskan." Ucap Rino.
"Hmmm, melakukan barter denganmu sangatlah tidak asik" Lila tersenyum mengejek
"Kalau dari Deny sayang, kamu punya tawaran apa untuk nyawa mereka berdua?"
Deny tidak menjawab. Lila melangkah mendekat pada Deny dan meraih tangannya.
"Ckckck, tanganmu rasanya keras dan panas. Kau marah?"
"Ku bilang bebaskan mereka berdua."
"Kalau temannya Nia sih mungkin bisa ku lepaskan begitu saja, sayangnya dia pasti akan melaporkan hal ini pada polisi. Jadi lebih baik ku bungkam keduanya untuk selamanya."
"Kau sudah keterlaluan Lila!"
"Uhuk" Nia mulai sadar dan merasakan nafasnya terganggu oleh kain di kepalanya.
"Nia," lirih Rino.
"Nia," panggil Deny.
"Eh, kenapa gelap? Tanganku tidak bisa di gerakkan." Gumam Nia.
"Mas Deny?"
"Nia, bertahanlah."
"Diam atau peluru akan bersarang di kepalamu." Ancam Lila
Nia tegang mendengarnya, jantungnya berdegup kencang.
"Ada apa ini? Aku dimana?" Batin Nia
"Tidak, perutku di ikat. Bayiku!"
"Ku bilang diam!" Lila melangkah dan berdiri di samping Nia lalu membuka kain yang menutupi kepalanya, ia langsung menjambak rambut Nia.
"Lila?! Apa yang kau lakukan?!"
"Diam! Diam dan jangan berbicara sepatah kata pun. Atau kau mau anakmu itu ku tembak sekarang juga?"
__ADS_1
Nia menggeleng.