
"Terimakasih," ucap David sambil mengikuti langkah Mama Nia menuju kamar Nia.
"Iya sama-sama."
'Ceklek'
"Nia, ada David." sambil menmbuka pintu kamar Nia.
"Nia!" Mama Nia terkejut melihat Nia di lantai.
Nia tersenyum lemas.
"Aku tidak apa-apa, Ma."
Mama Nia membantu Nia berdiri.
"Aku mual," ucap Nia.
Mama Nia menuntun Nia ke kamar mandi.
"Maaf," ucap Nia.
"Apanya yang maaf, kenapa tidak memanggil Mama. Ada yang sakit?" tanya Mama Nia sambil merapikan rambut Nia.
Nia menggeleng.
Nia terdiam saat melihat David berada di kamarnya.
"Selamat siang," sapa David.
"Siang, ada apa?" Nia masih kesal pada David.
"Aku kesini untuk meminta maaf padamu."
"Oh," Nia berbaring karena merasa sangat pusing.
Melihat Nia yang begitu lemas, David melangkah mendekat.
"Jangan! Jangan apa-apakan aku!"
"Aku tidak berniat buruk. Aku hanya ingin memeriksamu,"
David menyentuh dahi Nia dan merasakan suhu tubuh Nia sangat tinggi.
"Kau demam."
"Heemm,"
"Aku tidak membawa apapun kesini tadi, aku tulis resep obat saja."
__ADS_1
"Aku tidak mau mengkonsumsi obat apapun, aku takut bayiku terkena efeknya."
"Bayi?"
"Nia hamil," ujar Mama Nia.
"Kehamilannya baru diketahui akhir-akhir ini, bahkan saat ia kecelakaan dan hampir mati karena obatmu, saat itu ia sedang megandung." jelas Mama Nia.
David sangat merasa bersalah.
"Aku sungguh minta maaf," ucap David lagi.
"Aku tidak tau kalau kau saat itu sedang mengandung," lanjutnya.
"Aku minta kertas dan pulpen,"
Setelah mencatat resep obatnya.
"Kau bawahan Lila kah?" tanya David pada Rino yang ada di samping pintu kamar Nia.
Mama Nia bingung atas pertanyaan David.
"Bukan," jawab Rino santai.
"Oh, tolong beli obat yang ku catat." sambil menyodorkan secarik kertas.
"Aman."
"Oke." Rino segera menuju Apotek untuk membeli obat yang ditulis oleh David.
Rino bernafas lega karena Mama Nia tidak menunjukkan rasa curgia pada dirinya yang pernah menjadi bawahan Lila.
David mengatakan alasan ia melakukan hal tersebut pada Nia.
"Kalian mengobrol saja dulu, ya. Tante akan kebawah untuk membuat minum."
"Tidak perlu repot-repot."
"Tidak repot, Rino juga belum pulang membeli obat Nia. Tante ke bawah dulu." Mama Nia keluar dari kamar Nia dan tidak menutup pintu kamarnya.
Nia menghel nafas pelan. David mengatakan ia memasukkan obat yang tidak seharusnya pada tubuh Nia karena Lila mengatakan Nia telah melukainya.
"Jadi, aku yang sangat mencintainya tidak terima. Sesuai permintaannya, aku menyuntikkan obat itu padamu." jelas David.
Nia tidak melihat adanya kebohongan di setiap kalimat yang David lontarkan.
"Aku tidak pernah melukai Lila, aku tidak ada niatan mencelakainya walau aku tau dia telah berusaha membunuhku." Nia tersenyum kecut.
David menghela nafas.
__ADS_1
"Aku akan mengatakan semua pada Deny,"
"Untuk apa? Mereka juga akan segera menikah." Lila menutupi kedua matanya menggunakan lengannya.
"Mereka sudah berpisah,"
Nia terkejut.
"Kenapa? Bukan gara-gara aku kan?"
"Dia ketahuan, ketahuan telah mempermainkan dua laki-laki. Setelah mengetahui itu Deny memutuskan hubungannya dengan Lila."
"Lalu dirimu?" tanya Nia
David terkekeh.
"Aku juga memutuskan hubungan kami. Aku telah sedikit menghukumnya."
"Ohh, aku turut berduka,"
"Terimakasih."
"Karena itu aku akan mengatakan semua pada Deny,"
"Aku tidak mau," Nia memiringkan tubuh.
"Kenapa?"
"Mas Deny tidak bisa membedakan mana yang sedang berbohong. Aku bisa hidup tanpanya, anakku juga pasti bisa. Lila adalah cinta pertamanya, sedangkan aku hanyalah orang ketiga di antara mereka."
"Kali ini ada aku yang akan menemanimu dan juga sebagai bukti."
"Kau pasti paham Lila itu punya banyak cara untuk mendapatkan apa yang di inginkannya, aku tidak mau terlibat dalam hubungan mereka lagi. Aku mau menjaga anakku,"
Tidak lama kemudian Rino datang sambil membawa obat sesuai resep David, setelah itu ia meminta Nia untuk meminumnya segera dan Nia mulai tertidur.
Di ruang tamu.
"Terimakasih," ucap Mama Nia sambil membawa minum untuk David
"Aku sangat merasa bersalah, aku bersyukur Nia masih bisa bertahan sampai saat ini." David mengusap kasar wajahnya.
"Minumlah,"
David tersenyum lalu meneguk minuman yang disuguhkan. Tidak lama kenudian berpamitan pulang.
"Jika Nia tidak kunjung sembuh, kabari aku."
"Iya, terimkasih."
__ADS_1