
"aku haus sekali, aku pergi ambil minum dulu ya.!"
"apa perlu aku temani mel.?" tanya sarah khawatir.
"tidak perlu sar, biar aku pergi sendiri"
"baiklah, kamu berhati-hatilah mel"
"iya"
melati bergegas meninggalkan teman-temannya untuk mengambil minum.
"hai, loe melati ya.?"
"iya" melati begitu gugup, dia adalah antoni kakak kelasnya yang sama kejamnya dengan varo. sama halnya dengan varo, antoni dulu juga sering membully melati.
"loe cantik banget sekarang." ucap antoni sambil tangannya meraih pinggang melati.
melati tidak bisa menghindar karna antoni melakukannya secara cepat, melati terus saja berusaha melepaskan tangan antoni dari pinggangnya, namun usahanya sia-sia karna melati kalah kuat dari antoni.
"lepaskan aku, atau kalau tidak aku teriak" ucap melati mengancam.
"owh ayolah melati. gimana kalau kita bersenang-senang malam ini" ucap antoni dengan seringai licik. "woiii gaiss lihatlah siapa yang ada di samping gue.! gadis cantik ini mau menemani kita bersenang-senang malam ini" ucap antoni kepada teman-teman, sambil matanya tak lepas memperhatikan wajah cantik melati.
"lepasin aku kak" ucap melati memohon.
"i think no baby. malam ini kamu harus menemaniku bersenang-senang" antoni masih saja menatap wajah cantik melati, dengan susah payah dia menelan salivanya karna menahan gairah di dalam dirinya.
ketika melihat keributan sarah, liyla, anggun, dan aldo langsung menghampirinya karna mereka merasa khawatir kepada melati yang sedari tadi tidak kunjung kembali dari mengambil minuman.
"melati" teriak mereka secara bersamaan.
"tahan para tikus-tikus liar itu" ucap antoni kepada kawan-kawannya.
"lepasin, atau gue bakal aduin kelakuan kalian ini kepada manager hotel" ucap aldo sambil terus meronta karna kedua teman antoni mengunci pergerakan aldo.
"laporkan saja aku tidak takut" antoni terkekeh licik "karna ini hotel milik gue, bisa apa para staf dan manager bodoh itu"
sementara teman-teman yang lain hanya bisa melihat, mereka tidak berani menolong, bahkan sebagian di antaranya terlihat begitu acuh.
************
sementara itu varo cs tidak sengaja bertemu dengan relasi bisnisnya yang kebetulan sedang berlibur di kota mereka. dengan sangat terpaksa varo cs mengikuti ajakan relasi bisnisnya itu untuk berbincang sebentar, karna bagaimanapun dia memiliki saham di perusahaan yang telah di dirikan oleh varo dan kawan-kawannya.
__ADS_1
"saya senang sekali dapat bertemu dengan anda di sini pak varo dan kawan-kawan"
"kami juga senang bisa bertemu dengan bapak.! jadi rencana bapak untuk beberapa hari ke depan apa.?"
"mungkin saya dan keluarga akan pergi jalan-jalan dan piknik pak varo"
"semoga liburan bapak beserta keluarga menyenangkan ya pak"
"tentu-tentu itu pasti pak gio, apalagi jakarta ini adalah kota yang menyenangkan"
"kalau begitu kami pamit dulu pak andre, tidak enak dengan teman-teman kami" pamit bima
"oh iya silahkan pak, saya juga akan kembali ke kamar. istri dan anak saya pasti sudah menunggu saya"
mereka pun berpisah, dan varo cs pun memutuskan kembali ke dalam balroom tempat reuni mereka.
"hey kalian berdua pegang tangan si cantik ini" ucap antoni memberi perintah kepada pelayan yang baru saja lewat di dekatnya.
"tapi pak, kami takut. kami tidak mau mengambil resiko" ucap salah satu di antara mereka.
"kalian pilih pegang tangan gadis ini, atau kalian aku pecat tanpa gaji dan pesangon" ancam antoni, hingga membuat kedua pelayan itu mau tidak mau menuruti keinginan bosnya itu. sementara teman-teman melati tidak bisa berbuat apa-apa karna mereka masih terus di pegangi oleh kawan-kawan antoni dan beberapa pelayan yang membatu.
"aku mohon lepaskan aku" melati benar-benar takut. matanya mengitari sekitar balroom yang cukup luas, berharap menemukan seseorang yang dia cari, namun sia-sia di antara anak-anak ipa itu tidak ada suaminya. ya reino kali ini memang di khususkan untuk anak-anak ipa saja, sedangkan anak-anak ips acara reoninya di adakan lusa.
"ahhh dasar ******, tidak tau di untung" ucap antoni sambil memegangi daerah sensitifnya. "dasar wanita murahan beraninya loe menendang masa depan gue" ucap antoni penuh dengan emosi. ia menarik baju melati, hingga baju yang melati kenakan robek. tak cukup hanya sekali antoni merobek baju melati ia melakukannya berulang-ulang namun di tempat yang berbeda. hingga hal itu berhasil mengekspos bahu mulus melati, tak cuma itu sobekan di area dadapun membuat dua gundukan indah itu terekspos sedikit. melati tidak bisa membendung air matanya, iar menangis sejadi-jadinya pengalaman pahitnya mungkin akan terulang kembali.
"ayolah ****** kenapa loe nangis, mari kita senang-senang malam ini. kalau saja loe tadi nggak ngelawan, mungkin saja gue nggak bertindak kasar"
"varo... varo" melati mencoba memanggil nama itu berulang kali, namun yang mempunyai nama sama sekali tidak terlihat. *"kemana dia, kenapa dia tidak ada. katanya dia akan melindungiku"* gumam melati dalam hati, ia terus saja menangis.
"ngapain loe manggil varo ******.? apa loe mencoba meminta bantuan kepada varo.? apa loe lupa bahkan dia dulu sama saja seperti gue, dia sering mengerjai loe" sinis antoni.
"varo tolong aku" ucap melati penuh dengan ketakutan.
"lepasin teman gue antoni" bentak aldo sambil terus meronta.
"heh cowok lemes mending loe diem aja deh" tunjuk antoni kepada aldo.
antoni berusaha mendekatkan wajahnya ke wajah melati, ia berusaha kembali untuk meraih bibir ranum melati. namun tanpa dia sadari ada sepasang mata yang melihatnya dengan penuh emosi, tanpa pikir panjang orang itu memukuli antoni tanpa ampun.
varo menarik kerah baju antoni, dia terus-terusan memukuli antoni hingga babak belur. sedangkan gio dan bima ikut membantu varo memukuli kawan-kawan antoni. sedangkan sarah, liyla, dan anggun langsung berlari memeluk melati yang menangis katakutan.
bukk..... bukkk...... bukkkk
__ADS_1
varo secara membabi buta menghantam wajah antoni, hingga wajah dan hidungnya mengeluarkan darah.
"varo-varo loe memukuli gue cuma demi cewek cupu yang dulu sering loe rendahkan.?" tanya antoni tidak percaya.
"apa loe bilang.? cewek cupu.!" tanya varo dengan penuh emosi.
"iya cewek cupu yang sekarang sudah berubah menjadi *******, ******" sinis antoni.
varo yang telah di kendalikan oleh emosi pun tidak bisa menahannya lagi ketika mendengar istrinya di sebut ******* dan ******. ia kembali memukuli antoni, hingga antoni lemah tidak berdaya.
"berani-beraninya loe menyebut istri gue ******* dan ******" teriak varo, semua yang ada di dalam balroom begitu kaget ketika mendengar varo mengakui melati sebagai istrinya.
"dasar ********, brengsek" teriak varo sambil kembali memukuli antoni.
varo bangkit dan mengambil poci minuman yang ada di atas meja, ia sudah bersiap-siap melemparkan poci itu ke kepala antoni, namun dengan cepat gio dan bima menghalangi niat buruk varo.
"varo loe jangan gila, loe bisa aja di penjara kalau melakukan itu" ucap gio mencoba memberi pengertian kepada sahabatnya.
"gue nggak peduli yo. berani-beraninya dia melecehkan istri gue" ucap varo sambil terus meronta, karna kedua sahabatnya itu kini telah memegangi kedua tangannya.
"gue tau loe marah, loe nggak terima istri loe di lecehkan sama ******** ini ro. tapi loe jangan nekat, kalau loe di penjara gimana nasib melati.? apa loe tega biarin dia sendirian.!" bima tidak habis fikir dengan sahabatnya, kenapa juga dia begitu bernafsu ingin memukuli antoni yang sudah pingsan dan tidak berdaya.
"varo" dengan susah payah melati memanggil suaminya.
varo menengok kearah melati, ketika melihat wajah sendu melati emosinya sedikit berkurang. ia lantas membanting poci yang sedari tadi ia pegang.
"lepasin gue" pinta varo kepada kedua sahabatnya, bima dan gio pun lantas melepaskan varo. dengan cepat varo melepas jas yang menempel di tubuh kekarnya. ia menghampiri istrinya yang masih saja menangis di dalan pelukan sahabat-sahabatnya.
ketika varo mendekat sarah, liyla dan anggun melepaskan pekukan mereka. varo dengan cepat memakaikan jasnya kepas melati, dengan cepat varo membawa tubuh istrinya kedalam dekapannya.
"maafkan aku. aku terlambat" uca varo parau, tanpa ia sadari air matanya lolos begitu saja melihat istrinya yang kacau dan ketakutan. bukannya menjawab melati justru mengencangkan dekapannya, ia menangis sejadi-jadinya di dalam pekukan suaminya.
******************
"varo"
"iya" ucap varo sambil terus memeluk melati dari samping.
"aku harap kamu tidak memberi tahukan hal tadi kepada kakek, mama, atau pun kedua orang tuaku" ucap melati memohon
"kenapa.?"
"aku tidak ingin mereka khawatir varo"
__ADS_1
"oke, baiklah. tidurlah aku akan menjagamu" melati menganggukan kepalanya, ia menyembunyikan kepalanya kedalam dada bidang varo dan tertidur.