
"sayang bangunlah, aku sudah bawain kamu sarapan dan susu"
"ini jam berapa yank.?"
"ini sudah jam 7 sayang. aku berangkat kerja dulu ya" ucap varo sembari menciumi pipi melati.
"iya hati-hati ya sayang"
"iya sayang" jawab varo sembari pergi.
"sarapan yang dibawakan varo wangi sekali, bikin aku lapar" ucap melati sembari bangkit dari tidurnya dan mulai melahap sarapannya.
selepas menyelesaikan sarapannya, melati segera masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan badannya yang sudah terasa lengket.
"aku sungguh bosan seperti ini terus. cepet lahir ya nak, biar mami ada temannya" ucap melati sembari mengelus perut buncitnya.
"sayang kamu sudah bangun.?" tanya mama syifa ketika melihat melati baru saja turun.
"iya ma, mama tidak pergi bekerja.?"
"tidak sayang, pekerjaan mama sudah selesai. jadi mama dirumah saja menemani anak kesayangan mama ini"
"mama tau saja kalau mel sangat bosan"
"sabar sayang, tinggal sebentar lagi"
"iya ma mel juga sudah tidak sabar menunggu kelahiran sikembar"
"mama juga sayang, mama juga sudah tidak sabar untuk menimang cucu mama" ucap mama sembari mengelus perut buncit melati.
*****
ting.... ting... ting
suara ponsel melati menandakan ada sebuah pesan masuk didalamnya
*suami ❤️ :
sayang jangan lupa tugasmu
melati:
beres sayang*
seusai membalas pesan suaminya melati bergegas menghubungi liyla untuk menjalankan rencana yang telah mereka semua susun.
"halo mel"
"la tolong aku, perutku sakit sekali"
"mel kamu kenapa.?"
"aku tidak tau la, perutku sakit sekali. aku mohon tolong aku"
"kamu sekarang dimana mel.?"
"aku berada di cafe star la, cepat kemarilah. aku sudah tidak tahan lagi"
__ADS_1
"kamu tunggu aku disana, jangan kemana-kemana sampai aku datang ya mel" ucap liyla panik sembari memutus sambungan telfonnya
sekitar 15 menit liyla telah sampai di cafe yang dimaksud melati. dengan sangat buru-buru liyla bergegas masuk kedalam cafe untuk mencari keberadaan melati.
"maaf mbak, apa mbak melihat teman saya yang sedang hamil besar.?" tanya liyla kepada salah satu pelayan.
"oh, mbak yang cantik dan tengah hamil tua ya mbak"
"iya mbak, dimana dia sekarang.?"
"ada disebelah sana mbak" ucap pelayan itu sembari menunjukkan jalan untuk liyla.
"makasih mbak" ucap liyla segera berlari kearah yang ditunjukkan pelayan itu.
"mana melati.? kenapa malah tempat ini jadi mirip tempat untuk menyatakan perasaan"
"liyla"
"kak bima. kak bima ngapain disini.?"
"aku yang menyuruh melati untuk menghubungimu"
"maksud kak bima apa sih.? ini benar-benar nggak lucu kak. aku benar-benar sudah panik, aku fikir terjadi sesuatu dengan melati dan calon keponakanku"
"maafkan aku liyla, kalau tidak dengan cara seperti ini, kamu pasti tidak mau datang kemari"
"lalu maksud semua ini apa.?"
"liyla will you marry me.?" ucap bima sembari berjongkok didepan liyla dan memegang sebuah kotak cincin.
"aku sama sekali tidak bercanda liyla. aku ingin kamu menjadi teman hidupku, aku ingin kamu menjadi ibu dari anak-anakku"
sementara itu banyak sekali pengunjung cafe yang menyoraki aksi keduanya, dan banyak diantara mereka menyuruh liyla untuk menerima lamaran bima.
"aku benar-benar mencintaimu la, aku berjanji akan selalu bahagiain kamu"
liyla benar-benar tidak menyangka kalau dia akan dilamar oleh pria yang sudah lama ia sukai, tanpa terasa air matanya jatuh begitu saja, ia hanya berharap bima benar-benar sudah berubah.
"ya aku mau" jawab liyla
"terimakasih la, terimakasih kamu mau menerima lamaran aku" ucap bima sembari memasangkan cincin dijari manis liyla.
"nah akhirnya luluh juga"
"sarah, kau ada disini.?"
"iya aku, suamiku, dan kak varo memang berada disini"
"lalu melati.?"
"bumil dirumah lah, bumil hanya jadi pancingan agar kau mau datang kemari"
"kalian semua jahat ya, aku benar-benar sudah panik setengah mati tau. aku fikir melati beneran kenapa-kenapa"
"lagian kau ini bodoh sekali, kalaupun melati kenapa-kenapa sudah pasti dia akan menghubungi suaminya. mana mungkin melati menghubungi loe yang super telmi ini"
"sialan loe sar"
__ADS_1
"walaupun telmi aku tetap sayang kok la"
"gombalanmu basi sekali" sarkas gio
"diem loe yo"
*********
"sayang kamu belum tidur.?"
"belum, aku sengaja menunggumu. bagaimana, apa liyla mau menerima kak bima.?"
"liyla menerimanya sayang"
"alhamdulilah, akhirnya sudah tidak keras kepala lagi anak itu"
"ini semua juga berkat bujukan kamu sayang"
"lalu kapan mereka akan menikah yank.?"
"bulan depan"
"kenapa bulan depan sih, kalau nanti aku melahirkan bagaimana. nanti aku tidak bisa hadir dipernikahan mereka"
"kamu tenang saja sayang, pernikahan bima dan liyla bakal dilaksanakan satu minggu sebelum HPL kamu"
"benarkah.?"
"iya, kamu tidak usah khawatir. yasudah aku mandi dulu" ucap varo sembari pergi kekamar mandi.
"akhirnya sahabat-sahabatku menikah juga" ucap melati, ia begitu bahagia melihat sahabat-sahabatnya itu bisa bersama dengan pria yang mereka cintai.
setelah 15 menit berlalu varo telah keluar dari dalam kamar mandi.
"sayang"
"iya kenapa.?"
"apa aku boleh"
"boleh apa maksudmu.?"
"apa aku boleh menjenguk anak kita.?"
"kamu tuh ya"
"ayolah sayang. selama kamu hamil, aku selalu berpuasa. sekarang biarkan aku menjenguk mereka, lagian kandungannya kan sudah besar, jadi tidak perlu khawatir akan terjadi apa-apa kepada mereka"
"baiklah, tapi lakukan dengan perlahan"
"siap sayang"
tanpa membuang-buang kesempatan varo segera memulai aksinya, selama melati hamil varo memang tidak pernah lagi menyentuh melati meskipun hastratnya setiap malam selalu membuatnya menjadi pening karna tidak mendapat pelepasan.
dengan penuh kasih sayang dicecapinya bibir ranum melati, namun semakin lama ciuman mereka menjadi penuh dengan gairah. melum*t, mengu*um, dan lidah mereka pun saling bertautan. sementara itu tangan varo sudah bergelirya sampai kemana-kemana membuat melati semakin mendes*h, dan dengan segera varo memulai penyatuan mereka ia melakukannya dengan sangat pelan agar tidak melukai anak mereka yang masih didalam perut melati.
entah sudah berapa kali varo menggempur pertahanan melati, hingga membuat melati benar-benar lemas dan serasa tak memiliki tulang, suaminya itu selalu saja membuatnya lemas dan tak bertenaga jika diatas ranjang.
__ADS_1