
hari ini adalah hari pernikahan liyla dan bima, semua orang begitu antusias dengan acara ini, karna akhirnya setelah berjuang lumayan lama, bima dapat memenangkan hati liyla.
"sayang ayo nanti kita telat"
"iya sabar" ucap varo yang baru saja selesai mandi.
"kamu ini lama sekali, sudah seperti wanita saja"
*"astaga dia crewet sekali, salah siapa juga tadi tidak membangunkanku. giliran aku bangun kesingan dia marah-marah"* gumam varo dalam hati, ia begitu kesal kepada istrinya itu, tapi varo selalu berusaha mengalah. karna ia tau mood ibu hamil sering tidak setabil.
"ayo buruan, aku akan menunggumu didalam mobil" ucap melati sembari pergi.
"menyebalkan sekali"
setelah selesai bersiap varo segera turun kebawah untuk menyusul istrinya yang sudah menunggunya didalam mobil.
"lama sekali" protes melati ketika varo baru saja sampai didalam mobil.
"maafkan aku sayang, lagian kamu juga sih tidak membangunkanku tadi"
"jadi kau menyalahkanku.?"
"tidak sayang, mana berani aku menyalahkan dirimu"
"sudah ayo jalan"
"iya"
dengan perlahan vari melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, setelah menempuh perjalanan selama 20 menit akhirnya mereka sampai dihotel tempat acara akad liyla dan bima.
varo segera menggandeng tangan melati dan segera menuju balroom tempat acara itu dimulai.
"tuhkan acara akadnya sudah mau dimulai, kamu sih lama"
"yang pentingkan kita tidak kelewatan acara akadnya yank, lagian baru mau dimulai juga"
"membela diri terus" ucap melati sembari menatap tajam varo.
"maaf yank"
"kalian baru datang.?" tanya sarah dan gio yang tiba-tiba duduk disebelah melati dan varo
"iya nih sar, ini semua gara-gara varo. dia lama sekali dandannya, sudah seperti seorang wanita saja"
"sudah-sudah yang pentingkan acaranya belum mulai" sarkas gio
"iya mel, yang terpentingkan kamu tidak melewatkan acara akadnya"
setelah kedua mempelai dinyatakan sah sebagai pasangan suami istri, mempelai wanita dan mempelai pria pun dibawa ketempat rias untuk segera ganti baju, karna setelah acara akad, adalah acara resepsi.
"wah la kamu cantik banget"
"iya la kamu cantik"
"benarkah.?"
"iya" jawab melati dan sarah bersamaan.
"apa kalian pikir sahabat kalian ini tidak cantik selama ini.?"
"tidak" sarkas sarah.
"menyebalkan sekali"
"sarah hanya bercanda la. kamukan tau dia paling suka menggoda dirimu"
"iyalah mel, aku tau itu"
"sayang-sayangnya ibu ayo keluar acara resepsinya akan segera dimulai" ucap ibunya liyla.
"iya bu"
"wah perutmu sudah besar sekali sayang, ibu jadi tidak sabar untuk segera menimang cucu ibu"
"iya bu, doakan mel ya bu. semoga nanti pas waktu lahiran semuanya lancar"
"iya sayang itu sudah pasti. yasudah ayo segera turun"
ibu segera menuntun liyla menuju balroom sedangkan liyla dan sarah mengikutinya dari belakang. acaranya berjalan begitu sangat meriah.
"sayang aku ketoilet dulu ya"
"apa perlu aku temani.?"
"tidak sayang, aku pergi dulu"
melati segera menuju kedalam kamar mandi. entah mengapa ia merasakan kontraksi diperutnya, namun sebisa mungkin ia tahan agar tidak membuat panik suaminya.
"aduh, sakit sekali perutku. sayang kamu kenapa.?" tanya melati sembari mengelus perut buncitnya.
"apa kalian sudah mau keluar.? ini sakit sekali nak, jangan siksa mami seperti ini dong dek. kalau papi kalian tau dia pasti akan cemas"
karna tak sanggup menahan sakit diperutnya akhirnya melati memutuskan duduk diatas closed siapa tau perutnya tidak kontraksi lagi.
"aduh sayang mami benar-benar sudah tidak kuat nak, apa dedek benar-benar sudah mau keluar. padahal HPLnya masih empat hari lagi"
dengan segera melati meraih tas jinjingnya dan merogoh ponselnya.
"halo sayang, kamu dimana.? kenapa lama sekali ketoiletnya"
__ADS_1
"sayang tolong aku, sepertinya aku akan melahirkan"
"apa, kamu dimana sekarang.?"
"aku masih ditoilet, cepat kemarilah"
"iya kamu tunggu sebentar"
"sarah, ikut aku"
"kemana kak.?"
"melati akan melahirkan"
"apa, lalu dimana dia sekarang.?"
"sudah jangan banyak tanya, cepat ikut aku"
"iya kak"
varo, sarah, dan gio pun bergegas menuju ketoilet dimana melati berada sekarang.
"sarah kamu tolong masuk bawa melati keluar. karna tidak mungkin aku dan gio masuk toilet wanita"
"baik kak"
"mel kamu dimana mel.?" tanya sarah ketika sudah sampai dalam toilet.
"sarah aku disini, kemarilah"
"astaga melati, apa air ketubannya juga sudah pecah.?"
"iya sar, ayo cepat tolong aku. aku benar-benar sudah tidak sanggup lagi"
"iya mel, bertahanlah" ucap sarah sembari memapah melati keluar.
"kak varo tolong"
"astaga sayang, kamu tidak apa-apa"
"tidak apa-apa mbahmu, cepat bawa aku kerumah sakit. anakmu sudah mau keluar ini"
"iya sayang" dengan segera varo membopong tubuh lemah melati dan bergegas membawanya kerumah sakit.
"tolong sampaikan pada liyla dan bima. aku dan melati kerumah sakit dulu"
"kamu cepatlah varo, nanti aku dan sarah akan menyusulmu. kita sekarang akan mengambil semua perlengkapan sikecil"
"terimakasih yo" ucap varo sambil berlalu.
"sayang aku sudah tidak tahan lagi"
"tapi ini sungguh sakit sekali varo"
"iya sayang aku tau, bertahanlah"
setelah hampir 10 menit mereka telah sampai dirumah sakit terdekat. varo segera menggendong melati dan membawanya masuk kedalam rumah sakit.
"suster, dokter tolong. istriku akan melahirkan"
"ada apa pak.?"
"istriku mau melahirkan, tolong"
"ikuti saya pak" ucap salah satu perawat yang membimbing varo menuju kedalam ruang perawatan. dan tak lama seorang dokter datang untuk memeriksa keadaan melati.
"baru pembukaan enam ibu. harap ditahan dulu ya, sampai pembukaannya benar-benar sempurna. setelah ini mungkin saja kontraksi akan lebih sering terjadi"
"apa masih lama dok.?"
"tidak buk, sebentar lagi. kalau begitu saya permisi dulu"
selama menunggu pembukaannya sempurna melati terus saja menahan sakit ketika kontraksi itu datang dengan tiba-tiba varo pun tak luput ia jambak rambutnya dan ia cakar tangannya.
*"Tuhan apa semenyakitkan ini, kasihan sekali istriku. Tuhan tolong berikanlah kelancaran, semoga anak dan istriku semuanya selamat dan sehat"* gumam varo dalam hati.
******
ting.... tong.... ting.... tong
"eh tuan gio, nona sarah" sapa bik siti yang baru saja membuka pintu.
"apa tante ada bik" tanya gio
"nyonya ada tuan, silahkan masuk tuan"
"tante ada dimana.?"
"ditaman belakang"
"bik tolong bantu istriku untuk mempersiapkan keperluan sikecil dan juga untuk melati"
"non melati mau melahirkan tuan.?" tanya bik siti
"iya bik, tolong cepatlah. aku mau memberitahu tante" ucap gio sembari menuju taman belakang.
"tante"
"gio, kamu kenapa lari-larian seperti itu nak.?"
__ADS_1
"melati mau melahirkan tan, sekarang varo sedang membawanya kerumah sakit"
"apa mau melahirkan.?"
"iya tan, sekarang tante bersiaplah. tante barengan sama gio dan sarah saja"
"iya nak tunggu sebentar, tante ganti baju dulu" ucap mama sembari berlari menuju kamarnya.
"ayo sayang, semuanya sudah siap" ujar sarah sambil menenteng tas
"tunggu tante sebentar"
"iya"
"ayo nak kita pergi sekarang" ucap mama yang baru saja sampai didekat sarah dan gio.
gio segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit dimana melati dirawat. setelah menempuh perjalanan hampir 30 menit merekapun telah sampai disana.
"maaf sus pasien atas nama melati ada dimana ya" tanya gio kepada salah satu resepsionis.
"nama lengkapnya pak.?"
"melati atmaja"
"ibu melati atmaja ada di ruang tulp nomor 105"
"makasih sus"
dengan tergesa-gesa mereka semua menuju keruangan yang suster katakan, sesampainya disana mereka langsung masuk kedalam ruangan. mereka melihat bagaimana melati menjambak rambut varo ketika kontraksinya datang, hal itu hingga membuat penampilan varo menjadi kucel. tak lama dokter pun masuk dan memeriksa keadaan melati.
"suster sudah saatnya tolong siapkan segala sesuatunya"
"baik dok"
"dan untuk keluarga pasien, silahkan tunggu diluar. biarkan suaminya saja yang menemani"
dengan sangat terpaksa mama, sarah, dan gio keluar dari dalam ruangan itu.
"ayo buk kalau perutnya sudah merasa mulas mulai mengejang" intruksi dokter.
setelah mengejang beberapa kali tak lama satu bayi laki-laki telah lahir, dan melati harus mengejang lagi untuk mengeluarkan bayi perempuannya.
"aku sudah tidak kuat lagi sayang"
"ayo sayang, kamu pasti bisa. demi anak-anak kita" ucap varo sembari terus menghujani ciuman di kening melati.
setelah merasa sedikit rileks melati kembali mengejang kembali hingga bayi cantik itu telah terlahir kedunia.
"alhamdulilah kamu berhasil sayang" ucap vari sembari menciumi melati. namun tak lama melati menutup matanya hingga membuat varo khawatir.
"dokter ada apa dengan istriku"
"bapak tidak perlu khawatir, ibu hanya pinsan. karna persalinannya sudah selesai, bapak boleh tunggu diluar, dan biarkan bayi dan ibunya kami yang urus"
"baik dok"
"varo bagaimana keadaan melati" tanya mama syifa, dan mama dahlia secara bersamaan.
"melati baik-baik saja ma, dan anak kami juga terlahir dengan selamat"
"syukur alhamdulilah"
"maafkan varo ma. maafkan varo kalau selama ini varo nakal" ucap varo sembari bersimpuh didepan mama.
"varo sayang, kamu ini sedang apa sih. ayo bangun"
"maafkan varo kalau selama ini varo nakal, dan masih sering membantah mama. sekarang varo tau betapa sakitnya seorang wanita ketika melahirkan. maafkan varo ma"
"iya sayang, mama sudah memaafkanmu nak. ayo sekarang bangunlah, jangan seperti ini"
"akhirnya anak nakal ini bisa menangis sampai seperti ini hanya karna melihat istrinya melahirkan" sarkas kakek
"maafkan varo kek"
"kakek sudah memaafkanmu anak nakal" ucap kakek sembari memeluk varo.
tak lama perawat dan dokter keluar dari dalam rungan melati.
"silahkan keluarga pasien jika mau menengok ibu dan juga adik bayinya"
"terimakasih dok" ucap mama syifa dan mama dahlia bersamaan
"sama-sama ibu"
mereka semua pun masuk kedalam dan melihat keadaan dua bayi lucu yang tengah berbaring didalam boks bayi.
"astaga lucu-lucu sekali keponakanku" ucap sarah.
"iya benar lucu-lucu sekali sayang, untung wajah mereka meniru maminya coba saja kalau meniru papinya. pasti akan menyeramkan"
"apa kau bilang.?"
"tidak aku tidak bilang apa-apa"
"kata suamiku kak varo menyeramkan"
"enak saja orang kamu yang bilang, aku yang kamu salahkan" sarkas gio
"sudah-sudah jangan berantem" lerai mama dahlia
__ADS_1