
drtt.... drtt.... drtt
"halo sar, ada apa kau sepagi ini menelfon diriku?"
"bagaimana mel apa kak varo bisa kalau kita liburannya besok?"
"astaga iya aku lupa memberitahukan kepadamu dan liyla. varo menyetujui kalau kita berangkat besok"
"yeee asik"
"yasudah ya sar aku mau mandiin si dedek dulu ya sar"
"kenapa cuma dedek. apa abang tidak kau mandikan?"
"dia sudah tidak mau kalau kumandikan"
"ahh keponakanku satu itu terlalu cepat tumbuh besar. nanti aku akan jodohkan abang dengan gisa" ucap sarah dengan bersemangat.
"memangnya kau fikir abang mau kau jodoh-jodohkan apalagi kaukan tau al meniru sifat papinya. galak dan dingin seperti gunung es"
"ah kau benar mel. aku tidak jadi menjodohkannya dengan gisa, akan sangat kasihan sekali nanti putriku kalau memiliki suami dingin dan galak"
"kau menyindir diriku?"
"hehehe tidak mel" kekeh sarah.
"sudah-sudah aku mau mandikan dedek dulu, mengobrol terus denganmu anakku tidak jadi cantik" ucap melati sembari mematikan sambungan telfonnya.
"dedek sayang ayo mandi cantik"
"iya mami"
setelah memandikan sicantik alice, melati segera menyiapkan sarapan untuk suami dan juga anak-anaknya.
"hemtt harum sekali" ucap varo ketika baru saja masuk kedapur.
"iya dong, aku membuatkan nasi goreng seafood kesukaanmu sayang"
"emt itu pasti enak sekali"
"emtt nasi goreng buatan mami sangat harum"
"nah ini sudah matang, ayo cepat sarapan nanti telat kesekolahnya"
"iya mami"
"berangkat bareng papi saja ya"
"tidak usah pi, nanti papi telat kekantornya" ucap al
"tidak sayang. hari ini papi tidak terlalu sibuk. jadi papi bisa mengantar kalian kesekolah dulu"
"yey kita diantar papi abang"
setelah selesai sarapan melati segera mengantar suami dan anak-anaknya sampai depan rumah.
"mami kita berangkat dulu ya" pamit al sembari mencium tangan melati, begitu pula dengan alice
"iya sayang. kalian hati-hati dijalan"
"iya mami"
"dada mami" ucap alice ketika mobil yang dikemudikan oleh papinya telah melaju.
setelah itu melati segera masuk kedalam rumah untuk menyiapkan keperluan berlibur besok.
"ahh ahkirnya semua keperluan abang dan dedek telah selesai kukemas. sekaranf tinggal barang-barangku dan barang milik varo"
__ADS_1
*******
"mama kita jadi pergi liburan dengan mama liya dan mami melati?" tanya gisa
"iya sayang"
"asik berarti gisa akan bersama-sama dengan kakak al ma"
"tentu saja, kenapa memangnya?"
"tidak apa-apa ma" ucap gisa sembari tersenyum manis.
"jangan-jangan putri mama ini suka sama kakak al ya"
"mama apaan sih masak masih kecil udah suka-sukaan"
"iya siapa tau, kakak al kan sangat tampan"
"iya mami kakak al memang tampan. kenapa kakak al tidak menjadi kakaknya gisa saja, kenapa harus menjadi kakaknya kak alice"
"kenapa seperti itu?"
"gisa juga ingin punya kakak tampan ma"
"nanti mama akan buatkan adik tampan untukmu"
"apa mama berjanji?"
"mama tidak janji sih hehe, makanya gisa berdoa sama Allah supaya gisa diberi adik cowok setampan kak al"
"iya ma, gisa akan berdoa kepada Allah"
"anak pintar" ucap sarah sembari mengacak-acak rambut gisa.
"mama jangan diacak-acak dong, nanti gisa tidak cantik lagi"
"tentu saja, gisa gitu lo"
"dasar narsis. kau sudah sangat sama dengan papa bima kalau seperti itu"
"biarkan saja" ucap gisa sembari berlalu pergi.
"astaga, kenapa aku bisa memiliki anak seperti gisa"
*********
"alice al mana?"
"abang lagi ditoilet kak. memangnya kenapa mencari abangnya alice?"
"tidak, kami hanya gemas saja melihat abang kamu"
"iya habisnya sia sangat tampan"
"iya andai saja dia sudah besar pasti akan kujadikan gebetan"
"abang tidak akan suka sama kakak-kakak ini"
"kenapa"
"karna kakak-kakak tidak akan masuk kreteria ceweknya abang"
"memangnya kreteria cewek abang kamu seperti apa?"
"yang cantik kayak dedek gisa"
"siapa dia?"
__ADS_1
"dedek gisa anaknya mama sarah sahabat baik mamiku"
"astaga mereka pasti sudah dijodohkan sejak kecil"
"kelihatannya iya"
"lagian kalian berdua terlalu berharap. kalian ini terlalu tua untuk al"
"alice ngapain kamu gabung sama kakak kelas, ayo kita kembali kekelas kita"
"apa abang tidak jadi makan?"
"tidak. abang lapar, ayo kita pergi" ucap al sembari menarik tangan alice, dia begitu risih dengan tiga kakak kelasnya itu entah mengapa mereka selalu saja berusaha mencari-cari keberadaan dirinya.
"abang kenapa kelihatanya benci sama kakak-kakak itu?"
"abang sebel. mereka selalu saja menatap abang"
"itu karna abang terlalu tampan"
"kau ini bisa saja"
"tapi abang tenang saja, aku pastikan mereka tidak akan berani mengganggu abang lagi"
"memangnya apa yang kamu lakukan?"
"aku bilang pada kakak-kakak itu bahwa mereka bukan tipe wanita idaman abang, lalu aku juga bilang kalau tipe wanita idaman abang itu seperti dedek gisa, eh mereka malah berfikir kalau abang dijodohkan dengan dedek gisa"
"kerja baik dedek" ucap al sembari mengacak gemas rambut alice.
"habisnya alice juga sebal abang, masak mereka nyariin abang terus. aku tidak mau abangku memiliki kekasih yang tua" ucap alice sembari mencebikkan bibirnya.
"anak kecil kau ini ngomong apa. masih kecil juga pacar-pacaran, sekolah dulu yang benar"
"iya abangku sayang" ucap alice sembari memeluk al..
"alice, al kalian sedang apa?"
"ah tidak sedang apa-apa nadia kami hanya mengobrol"
"lalu kenapa alice memelukmu al"
"memangnya kenapa kalau aku memeluk abangku, itu kulakukan karna aku sayang kepadanya"
"alice apa enak memiliki seorang kakak?"
"tentu nadia. apa kau tak bisa melihat bagaimana abangku selalu menjaga diriku"
"iya aku tau itu. al selalu saja menjagamu dalam kondisi apapun, aku juga jadi ingin punya kakak. apa al juga bisa menjadi kakakku"
"tidak boleh, abang hanya milikku aku tidak akan membaginya dengan siapapun kecuali dengan dedek gisa, dan dedek billa" ucap alice sembari melotot galak dan membuat nadia takut.
"maafkan aku alice, aku hanya ingin merasakan bagaimana punya kakak. aku tidak akan merebut al darimu"
"kalau begitu kau mintalah adik kepada mamimu agar kamu menjadi kakak"
"tapi aku ingin punya seorang kakak tidak seorang adik"
"itu urusanmu. abang ayo kita pergi dari sini, aku tidak mau ada yang mau merebut abang dariku" ucap alice sembari menarik tangan al pergi, sedangkan al sendiri hanya bisa tertawa melihat tingkah adiknya yang menurutnya begitu sangat menggemaskan.
"kenapa abang malah tertawa, abang suka ya kalau ada yang mau menjadi adik abang?"
"tidak dedek. sampai kapanpun adik abang tetaplah dirimu, tidak akan ada yang merebut abang darimu, percayalah"
"pokoknya alice nggak mau kehilangan abang, alice sayang abang"
"abang juga sayang sama dedek, sudah ya jangan menangis lagi. tidak akan ada yang akan berani merebut abang darimu"
__ADS_1
"iya abang"